JP Radar Kediri - Saat ini sebuah pemandangan baru dapat kita jumpai di berbagai daerah, yaitu masifnya pembangunan sebuah gerai besar bernuansa merah dan putih yang selalu hadir di setiap perjalanan kita. Gerai tersebut adalah Koperasi Desa Merah Putih. Program nasional yang tujuannya untuk memperkuat ekonomi lokal dan menciptakan kemandirian ekonomi bagi desa dan kelurahan.
Saat ini ada lebih dari 12.000 unit bangunan fisik yang telah rampung, sementara lainnya masih dalam tahap pembangunan. Namun, masifnya pembangunan gerai yang lahannya disiapkan oleh desa dan kelurahan ini ramai menuai sorotan publik dan perdebatan di media sosial.
Hal itu karena beberapa titik lokasi pembangunan dinilai tidak strategis, bahkan di luar nalar, seperti di area terpencil, tengah hutan, pinggir sawah, pemakaman, dan lain sebagainya. Hingga memunculkan istilah baru, yaitu jangan takut tersesat di tempat baru karena Anda akan menemukan Kopdes.
Baca Juga: MBG dan Pelajaran dari Sepiring Lalapan
Di Kabupaten Kediri saja sudah ada lebih dari 300 unit bangunan Kopdes yang terbangun dan beberapa di antaranya sudah mulai beroperasi. Sekilas gerai ini terlihat seperti toko ritel biasa. Barang yang dijual di dalamnya juga barang pabrikan yang didrop langsung oleh PT Agrinas, seperti sabun, mi instan, beras, hingga aneka minuman. Sejauh ini, gerai-gerai tersebut juga terpantau banyak yang sepi. Omzetnya hanya ratusan ribu rupiah sehari.
Lalu, mengapa dengan nama sebesar itu dan bangunan yang bagus tidak membuat banyak warga ramai ke sana? Mungkin, menurut analisis sok tahu saya, warga lebih percaya kepada toko ritel modern lain seperti Alfamart dan Indomaret yang barangnya jauh lebih lengkap, atau ke toko yang selalu buka, yaitu warung Madura.
Beberapa barang di Kopdes juga tidak selengkap di toko ritel modern lain. Terkadang, yang menjadi buruan warga hanya ketika ada beras dan minyak subsidi. Namun, ketika barang itu habis, stoknya juga akan kosong dalam waktu lama atau bahkan tidak ada lagi. Kemudian persoalan jam operasional. Kopdes mirip seperti instansi pemerintahan, yaitu hanya buka dari Senin sampai Sabtu, pukul 08.00 sampai 16.00. Berbeda dengan warung Madura yang buka hingga 24 jam.
Baca Juga: Marak Anak Muda Ngopi di Pinggir Jalan
Lantas, bagaimana agar Kopdes bisa bersaing? Harus bisa menggali potensi masing-masing desa. Misalnya, Desa A memiliki potensi buah nanas maupun komoditas lain, maka akan bagus jika Kopdes dapat mewadahi hal itu, dengan gudang penyimpanan dan kendaraan yang telah terfasilitasi. Di etalase juga bisa ditambahkan aneka olahan dari potensi desa yang dibuat oleh UMKM warga setempat.
Dengan begitu, warga bisa merasa ada keterkaitan dan rasa saling memiliki dengan adanya Kopdes di tempatnya. Hal itu akhirnya bisa mendorong rasa ingin berbelanja, bahkan syukur-syukur bisa menarik minat warga dari daerah lain.
Sementara itu, Menko Pangan Zulkifli Hasan mengatakan bahwa Kopdes bukan berfungsi sebagai supermarket atau toko ritel biasa, namun juga untuk menyerap hasil produksi atau panen warga serta mendistribusikan subsidi dan bantuan sosial. Namun, di lapangan yang terlihat justru sebaliknya dan hingga saat ini regulasinya belum pasti.
Baca Juga: Menjemput Kedaulatan Pangan: Dari Desa Kita Berjaya
Yang jelas, pemerintah perlu membuat regulasi yang matang terkait arah Kopdes ini agar sesuai dengan yang dicita-citakan, yakni terbentuknya kemandirian ekonomi dari tingkat desa. Kalau tidak, ya mungkin Kopdes akan terukir dalam sejarah menjadi candi mangkrak berbentuk toko ritel yang akan diteliti anak cucu kita puluhan tahun kemudian. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : Andhika Attar Anindita