Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Buku Bajakan dan Krisis Intelektualisme Indonesia

Redaksi Radar Kediri • Selasa, 9 Juni 2026 | 12:43 WIB
Foto : Dok. Muhammad Zahrudin Afnan
Foto : Dok. Muhammad Zahrudin Afnan

Oleh: Muhammad Zahrudin Afnan

Indonesia sedang mengalami fenomena yang unik. Anak muda hari ini tampak lebih dekat dengan buku dibanding generasi sebelumnya. Toko buku ramai oleh pelajar dan mahasiswa, komunitas baca tumbuh di berbagai kota, diskusi filsafat dan sastra hidup di media sosial, sementara unggahan tentang buku terus berseliweran di TikTok dan Instagram. Generasi Z perlahan membangun citra baru bahwa membaca adalah sesuatu yang keren dan bernilai. Ironisnya, di tengah meningkatnya minat membaca itu, pembajakan buku justru berkembang semakin brutal.

 

Laporan berbagai platform literasi menunjukkan bahwa Gen Z menjadi kelompok usia yang paling aktif membeli dan membaca buku. Data Gramedia pada 2024 menunjukkan peningkatan pembelian buku dari kelompok usia 17–26 tahun, terutama untuk kategori pengembangan diri, filsafat populer, kesehatan mental, dan novel. Fenomena #BookTok di TikTok juga membuat penjualan buku meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Survei GoodStats pada 2025 bahkan menunjukkan mayoritas anak muda Indonesia mengaku mulai rutin membaca buku minimal satu kali dalam seminggu.

 

Fenomena ini sebenarnya kabar baik. Minat membaca yang tumbuh di tengah budaya digital adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Generasi muda mulai sadar bahwa media sosial tidak selalu mampu memberi kedalaman berpikir. Banyak anak muda mulai mencari jawaban yang lebih reflektif melalui buku. Masalahnya, pertumbuhan minat membaca itu tidak diiringi dengan pertumbuhan kesadaran intelektual.

Baca Juga: Membaca Alarm Sunyi: Fenomena Mencekam Bunuh Diri Pelajar di Kediri

 

Buku bajakan kini menjadi pemandangan biasa di marketplace digital. Novel populer dijual dengan harga seperempat dari harga asli. Buku filsafat, teori sosial, hingga karya akademik tersebar bebas dalam bentuk PDF ilegal di Telegram dan Google Drive. Situasi ini begitu normal sampai banyak mahasiswa tidak lagi merasa bersalah ketika mengunduh buku bajakan. Dalih yang paling sering muncul selalu sama: “Yang penting membaca.”

Logika itu terdengar mulia, tetapi sesungguhnya berbahaya. Membaca memang penting, tetapi menghargai proses lahirnya pengetahuan jauh lebih penting.

Buku tidak muncul begitu saja. Ada penulis yang menghabiskan bertahun-tahun melakukan riset, editor yang bekerja memperbaiki naskah, ilustrator, desainer, percetakan, hingga pekerja distribusi yang ikut menopang ekosistem literasi.

 

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menyebut pembajakan buku sebagai ancaman serius bagi ekonomi kreatif nasional karena merugikan seluruh rantai produksi pengetahuan. IKAPI Bahkan sejumlah penerbit mengaku mengalami kerugian besar akibat maraknya reproduksi ilegal buku di marketplace dan media sosial. Persoalan ini memperlihatkan satu hal yang lebih mengkhawatirkan: intelektualisme Indonesia sedang mengalami krisis moral.

Baca Juga: Sentil Fenomena Fatherless, Film "Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?" Ajak Penonton Refleksi Peran Orang Tua

 

Banyak orang ingin terlihat intelektual, tetapi tidak ingin menghargai kerja intelektual itu sendiri. Buku hari ini sering berubah menjadi aksesori identitas sosial. Sampulnya dipamerkan di Instagram, kutipannya dijadikan caption, dan isi bukunya diringkas menjadi carousel media sosial agar tampak cerdas dalam waktu singkat.

 

Generasi digital hidup dalam budaya serba cepat. Mereka terbiasa memperoleh informasi dalam hitungan detik. Akibatnya, proses membaca perlahan berubah dari aktivitas perenungan menjadi konsumsi citra. Buku tidak lagi dibaca untuk memahami dunia secara mendalam, melainkan untuk membangun persona intelektual di ruang digital. Fenomena itu melahirkan intelektualisme instan.

 

Anak muda hari ini sering mengenal banyak istilah besar seperti eksistensialisme, overthinking, self-healing, patriarki, atau nihilisme, tetapi tidak benar-benar memahami akar pemikirannya. Mereka mengenal kutipan Friedrich Nietzsche tanpa pernah membaca gagasannya secara utuh. Mereka membicarakan Karl Marx dari potongan video TikTok. Mereka mengutip filsafat Stoik tanpa pernah menyentuh teks aslinya. Budaya membaca akhirnya bergerak dangkal. Yang dicari bukan lagi kedalaman berpikir, melainkan kecepatan konsumsi informasi.

Baca Juga: Fenomena Quiet Quitting: Cara ElegBukan Resign, Tapi Quiet Quitting: Cara Elegan Gen Z Melawan Toxic Productivityan Gen Z "Memberontak" di Kantor

 

Kondisi ini diperparah oleh lemahnya perlindungan negara terhadap industri buku. Pembajakan berlangsung bertahun-tahun tanpa pengawasan yang serius. Marketplace digital masih dipenuhi penjual buku ilegal yang beroperasi terang-terangan. PDF bajakan menyebar luas tanpa kontrol berarti. Kompas dalam beberapa laporannya bahkan menyoroti bagaimana pembajakan buku perlahan mematikan industri penerbitan nasional dan mengancam masa depan literasi Indonesia. Kompas.id Situasi ini membuat banyak penerbit kecil kesulitan bertahan, sementara penulis kehilangan penghargaan ekonomi atas karya mereka. Dampaknya tidak berhenti pada kerugian finansial.

 

Bangsa yang membiarkan buku dibajak sesungguhnya sedang membunuh tradisi berpikirnya sendiri. Ketika penulis tidak lagi mampu hidup dari karya, kualitas produksi pengetahuan akan terus menurun. Orang-orang cerdas perlahan enggan menulis karena dunia literasi tidak menjanjikan keberlanjutan hidup. Indonesia akhirnya berisiko menjadi negara yang ramai membicarakan literasi, tetapi miskin gagasan.

 

Data UNESCO dan OECD menunjukkan bahwa kemampuan literasi Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain, terutama dalam aspek membaca mendalam dan pemahaman kritis. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 mencatat skor literasi membaca Indonesia hanya berada di angka 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 476 poin. Bahkan lebih dari 60 persen pelajar Indonesia masih berada pada level kemampuan membaca dasar dan kesulitan memahami teks kompleks, menarik kesimpulan, maupun mengolah informasi secara kritis. Di sisi lain, UNESCO juga pernah mencatat rendahnya budaya baca masyarakat Indonesia dengan rasio minat baca sekitar 0,001 persen atau hanya satu dari seribu orang yang memiliki minat baca tinggi.

Baca Juga: Fenomena ‘Tot-Tot Wuk-Wuk’ Bikin Resah, DPR Desak Polri Hukum Pemakai Sirene Ilegal

 

Masalah harga buku memang nyata. Banyak mahasiswa mengeluhkan harga buku yang mahal, terutama buku akademik dan buku impor. Akses perpustakaan juga belum merata. Namun, solusi atas persoalan ekonomi bukanlah membenarkan pembajakan. Solusinya adalah memperluas akses legal terhadap pengetahuan melalui perpustakaan modern, subsidi buku pendidikan, digital library murah, serta dukungan negara terhadap industri penerbitan.

 

Membaca sejatinya bukan hanya aktivitas membuka halaman demi halaman. Membaca adalah bentuk penghormatan terhadap pengetahuan. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang gemar membaca, tetapi juga bangsa yang menghargai lahirnya pemikiran. Jika budaya buku bajakan terus dianggap biasa, yang hancur bukan hanya industri penerbitan. Yang perlahan runtuh adalah masa depan intelektualisme Indonesia sendiri. (Penulis adalah Mahasiswa Magister Pendidikan Biologi Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#mahasiswa #Universitas Negeri Surabaya #fenomena #buku #pelajar