Seminggu setelah banjir besar melanda kampung ini, bantuan terus datang mengalir. Ada yang dikirim dari masyarakat, seleb dan para pejabat di tingkat pusat. Isinya pun macam-macam. Ada pakaian, beras, uang tunai dan aneka makanan instan yang sekali seduh langsung bisa dilahap.
Bagi warga kampung ini, mereka sebenarnya senang-senang saja menerima donasi. Ini bentuk solidaritas antar sesama warga bangsa. Tapi, yang bikin repot Pak Lurah Kambali dan pamongnya adalah permintaan protokoler yang aneh-aneh dari pejabat pusat ketika mereka melakukan kunjungan di lokasi bencana.
Lima hari lalu, kampung ini didatangi seorang pejabat setingkat menteri. Sebelum tiba di lokasi, staf pejabat itu meminta Pak Lurah Kambali menyiapkan segala sesuatunya di lapangan agar kunjungan berjalan lancar dan terkesan mereka peduli dengan korban banjir.
Baca Juga: Banjir dan Tumbler
Pak Lurah Kambali pun pontang-panting menyusun persiapan pejabat ini. Sesuai permintaan, dia harus mencari rumah warga yang masih terendam lumpur atau setidaknya kondisinya masih parah.
Setelah menentukan rumah yang akan disambangi, rencana berikutnya adalah menyiapkan sekop ukuran besar. Jadi, begitu pejabat ini sampai lokasi, dia ikut bersih-bersih menyerok lumpur yang membanjiri lantai rumah warga.
Yang bikin ribet Pak Kamituwo Supat lagi, sebelum kedatangan pejabat ini adalah permintaan untuk mengumpulkan warga terdampak di satu lokasi. Di situ, mereka akan ditanya-tanya oleh pejabat pusat apa saja keluhannya. Mulai dari harta benda yang lenyap, ternak mati, sepeda motor hanyut, gerobak dagangan yang terseret air, semuanya wajib tercatat.
Dari pendataan itu, pejabat pusat akan berdialog dengan warga. Mikrofon wireless sudah disiapkan dari sana. Jadi, untuk urusan yang satu ini, Pak Lurah Kambali tidak perlu angkat-angkat mikrofon dengan kabel yang biasa dipakai warga kampung ini untuk pengajian.
Dan, satu lagi permintaan mereka. Pak Lurah Kambali bersama pamong-pamongnya wajib mendampingi ketika pejabat pusat meninjau salah satu titik banjir terparah. Waktu itu, lokasi yang dipilih adalah sungai yang dipenuhi dengan sampah dan potongan kayu.
Begitulah hari-hari Pak Lurah Kambali ketika pejabat datang silih berganti di kampungnya. Dalam sehari, bisa dua sampai tiga pejabat yang memintanya untuk menunjukkan satu per satu lokasi yang dikunjungi.
Termasuk permintaan dari seorang pejabat pusat yang dijadwalkan tiba hari ini. Lewat pesan khusus dari ajudan dan staf pejabat ini, Pak Lurah Kambali sudah menggenggam secarik kertas berisi sejumlah permintaan yang harus dipenuhi segera.
Total ada empat keinginan yang diminta pejabat ini. Yang pertama, mereka memerintahkan agar perangkat desa menyediakan sepeda motor plus pengemudinya untuk dipakai berkeliling memantau beberapa lokasi terdampak banjir.
Untuk perkara ini, Pak Lurah Kambali tanpa ragu menunjuk Lek No menjadi pengemudi sepeda motor.
"Lek, sampean saya tugasi untuk mengantar pejabat ini berkeliling di sejumlah lokasi."
"Terus sepeda motornya, Pak Lurah?
"Pakai motor bebek punya saya saja. Karena mereka meminta motor bebek yang sudah butut. Kebetulan saya ada."
"Macam-macam saja pejabat itu," gerutu Lek No.
"Sudah Lek, kita wajib penuhi permintaan mereka."
"Tapi ini namanya menyusahkan kita, Pak Lurah."
"Sudahlah Lek, kita hanya orang kecil. Bisanya cuma bilang siap dan siap."
Pak Lurah tak punya pilihan lain selain mengiyakan semua perintah yang diberikan. Sebagai seorang lurah, dia tidak bisa membantah.
Permintaan pertama sudah aman, sekarang giliran menyanggupi perintah yang kedua. Dan Pak Lurah Kambali tetap meminta bantuan Lek No.
"Sekarang yang kedua, kita diminta menghadirkan warga di tenda, Lek."
"Jumlahnya berapa Pak?"
"Dua puluh orang, Lek."
"Gampang itu, Pak."
"Masalahnya, ada rinciannya, Lek."
"Apa saja Pak?"
"Harus ada bapak-bapak, ibu-ibu dan anak kecil, Lek. Dan jumlah ibu-ibu harus lebih banyak, Lek."
"Baik segera saya kumpulkan, Pak Lurah."
Permintaan kedua akhirnya rampung. Untuk permohonan ketiga ini, Pak Lurah Kambali sepertinya tidak membutuhkan bantuan Lek No. Mereka hanya meminta selama kunjungan pejabat pusat, warga diperbolehkan untuk bersalaman atau memanggil nama pejabat yang datang.
Agar terkesan alami, mereka hanya diminta untuk merangsek begitu sang pejabat menginjakkan kaki di kampung ini.
"Kalau yang ini biar saya tangani sendiri, Lek. Warga kita gampang dikondisikan."
"Siap Pak Lurah.
Kalau permintaan yang keempat, apa Pak?"
"Nah ini yang saya butuh sampean lagi."
"Memangnya kita disuruh apa?"
"Kita diinstruksikan untuk menyiapkan sekarung beras dengan berat sepuluh kilogram, Lek."
"Buat apa itu Pak Lurah? Aneh-aneh saja."
"Nanti pejabat pusat akan memanggul kadung beras itu dan diserahkan kepada warga kita, Lek."
"Oke."
Tanpa pikir panjang dan banyak tanya lagi, Lek No langsung memenuhi permintaan untuk menyediakan sekarung beras.
Waktu yang dinanti pun tiba. Satu per satu agenda pejabat pusat ini dilalui dengan mulus. Mulai dari bersalaman dengan warga, berdialog di bawah tenda, dan berkeliling dengan sepeda motor dengan membonceng Lek No.
Tinggal satu rangkaian acara yang belum terlaksana. Pejabat ini akan mengantarkan sendiri bantuan beras dengan memanggulnya.
Lek No yang ditugasi Pak Lurah Kambali sudah menyiapkan beras sekarung itu. Saat diangkat, sepertinya pejabat itu tampak bersusah payah meletakkan di atas pundak.
Meski akhirnya berhasil, beban di pundaknya terlalu berat. Langkah demi langkah dilalui. Juru foto dan kamera video sudah siap mengabadikan aksi pejabat ini. Semua perhatian tertuju padanya.
Sampai akhirnya di langkah kesepuluh, pejabat ini tumbang. Dia tidak sanggup lagi mengangkat sekarung beras itu yang katanya hanya sepuluh kilogram.
Agenda seremoni penyerahan beras pun gagal total. Beras akhirnya diambil masing-masing oleh warga terdampak. Di satu sisi, keringat Pak Lurah Kambali bercucuran karena kegagalan acara tersebut.
Pak Lurah Kambali kemudian mencari Lek No dan menanyakan kenapa beras sepuluh kilogram jadi begitu berat ketika dipanggul.
"Beras itu beratnya berapa, Lek?"
"Lima puluh kilo, Pak."
"Kok lima puluh? Kan saya bilangnya sepuluh kilo, Lek. Gimana sampean ini?"
"Maaf Pak Lurah. Saya dengarnya lima puluh kilo."
"Mati aku, Lek!"
Lek No merasa tak bersalah. Karena yang dia dengar dari Pak Lurah Kambali adalah lima puluh kilogram. Dia pun ngacir meninggalkan Pak Lurah Kambali yang terus memegangi kepalanya.
Di saat bersamaan, HP Pak Lurah Kambali berdering. Ajudan pejabat menelepon. Pak Lurah mengangkatnya.
"Kenapa lima puluh kilo?"
"Maaf Pak, ada salah paham."
"Sini kamu! Saya tunggu di tenda."
Pak Lurah Kambali gemetar. Entah seperti apa nasibnya ke depan setelah peristiwa itu.
Editor : Anwar Bahar Basalamah