Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Di Balik Gemerlap Masa Muda, Ada HIV yang Mendera

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 26 November 2025 | 21:04 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri - Anak muda biasanya lekat dengan kebebasan dan punya ambisi yang tinggi. Di balik hiruk pikuk itu, ada satu ancaman sunyi yang luput dari perhatian. Yaitu HIV singkatan dari Human Immunodeficincy Virus. Merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Jika tidak diobati bisa berkembang menjadi AIDS.

Pada 2023 itu, lebih dari 1,5 juta remaja berusia 10–19 tahun hidup berdampingan dengan HIV. Dan setiap tahunnya (WHO) mencatat ada sekitar 140 ribu orang merupakan infeksi baru. Ini bukan hanya persoalan angka semata. Tapi jumlah itu adalah masa depan yang harus bergantung pada secarik hasil tes.

Di Indonesia, data hingga Maret 2025 menunjukkan ada sekitar 2.700 remaja usia 15–19 tahun yang terkonfirmasi terinfeksi HIV (Kemenkes RI). Angka itu mungkin tampak kecil jika dibandingkan populasi manusia di negeri ini. Namun, tiap satu jiwa muda membawa harapan yang sama besar. Yakni mimpi, cita-cita, dan masa depan yang utuh.
Remaja merupakan fase hidup yang menuntun rasa ingin tahu lebih kuat daripada kemampuan menimbang risiko.

Kedekatan terjalin cepat, sentuhan menghadirkan kepercayaan dini, sementara pengetahuan kesehatan reproduksi masih samar. Banyak mencari informasi dari internet, tetapi tidak semua informasi itu benar. Dan rasa malu bertanya menjadi momok karena budaya kita yang menganggap seks adalah tindakan yang terlarang. Dan tabu untuk dibicarakan.

Ketidaktahuan dan stigma inilah menjadi celah masuknya HIV. Penyakit ini menyelinap dan tumbuh tanpa suara. Khususnya bagi remaja yang enggan melakukan tes karena diliputi kecemasan. Padahal, peluang hidup sehat tetap terbuka melalui terapi antiretroviral yang mampu menekan virus hingga tidak lagi menular. Undetectable = Untransmittable —sebuah kemajuan sains yang sering tidak diketahui oleh mereka yang paling membutuhkannya.

Namun, edukasi formal masih berjalan tertatih. Topik kesehatan seksual sering ditutup rapat dalam kurikulum. Seakan tidak pantas untuk dibahas secara terbuka. Akibatnya, remaja terombang-ambing antara rasa penasaran dan ketidakpahaman. Mereka mencari tahu sendiri tetapi godaan informasi palsu di media sosial selalu mengintai dan siap menjerumuskan.

Tak hanya itu, akses terhadap pelayanan kesehatan kerap terasa intimidatif. Ada yang takut dihakimi. Ada yang tak tahu harus mulai dari mana. Ada pula yang tak punya keberanian untuk sekadar bertanya. Meski dia sadar bahwa hidupnya bisa berubah dalam sekejap.

Padahal, semakin dini HIV ditemukan, semakin besar kemungkinan seseorang tetap dapat melanjutkan kehidupan yang produktif dan penuh harapan.

Stigma masih menjadi dinding yang sulit ditembus. Banyak remaja yang terinfeksi memilih menyembunyikan diri, lebih takut kepada cibiran dibandingkan virus yang hidup dalam tubuhnya. Karena itu, upaya melindungi generasi muda tidak melulu soal larangan dan ketakutan.

Justru penting menghadirkan ruang aman untuk berdialog. Yakni ruang yang mengajarkan bahwa menjaga diri adalah bentuk penghormatan pada kehidupan, bukan pelanggaran terhadap norma. Bahwa melakukan tes adalah tindakan paling bertanggung jawab dari seorang remaja yang sedang tumbuh menjadi dewasa.

Remaja hari ini adalah generasi yang tumbuh di tengah derasnya informasi dan luasnya peluang. Mereka berhak menatap masa depan tanpa bayang-bayang penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Maka, membicarakan HIV bukanlah sekadar isu medis, melainkan pembicaraan tentang masa depan, tentang keberanian menjaga diri, dan tentang menghargai kehidupan.

HIV mungkin sunyi, tetapi sekarang adalah saatnya kesunyian itu kita pecahkan dengan pengetahuan yang benar, empati yang tulus, dan keberanian untuk melindungi masa depan yang sedang kita bangun bersama. (Rastyka Putriku, Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair Angkatan 25)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#penyakit #anak muda #who #kesehatan #virus #HIV / AIDs