Minggu pagi ini, di tengah menyiapkan MPASI untuk Danantara, anaknya, Lek Ni tidak biasanya mengeluh tentang kehidupannya yang tak kunjung sejahtera. Sebagai suami yang mengenal luar dalam, Lek No sampai terheran-heran dengan celotehan istrinya itu.
Dia menduga, pasti ada yang tidak beres dengan circle pertemanan Lek Ni di kampung ini. Entah itu datang dari perkumpulan ibu-ibu arisan, ibu-ibu posyandu atau ibu-ibu muda yang hobi bercerita keglamoran hidup mereka.
Dari ketiganya, Lek Ni akhirnya mengakui terhasut dari cerita ibu-ibu muda yang tidak sengaja bertemu mereka di balai kampung. Ibu-ibu yang rata-rata berumur di bawah tiga puluh tahun itu memang dikenal punya segudang cerita yang bersumber dari media sosial.
Beda dengan Lek Ni, mereka selalu up-to-date dengan informasi yang sedang hangat diperbincangkan. Makanya, untuk meng-update informasi terkini, tidak jarang Lek Ni ikut nimbrung bersama mereka.
Hingga empat hari lalu, tema obrolan ibu-ibu muda itu mengenai seorang perempuan muda yang menguasai puluhan dapur MBG. Jelas untuk punya dapur sebanyak itu, salah satu syarat mutlaknya adalah kaya raya.
Pertanyaannya, dari mana uang anak muda itu? Bagaimana cara mendapatkannya? Dan kenapa dia begitu beruntung menjadi orang kaya raya sejak belia?
Sementara Lek Ni merasa tidak pernah seberuntung anak muda itu, apalagi kaya raya. Sejak anak-anak, hidup Lek Ni tidak jauh dari kata sengsara. Untuk menyambung hidup, orangtuanya harus banting tulang setiap hari.
Bapaknya jadi buruh tani, emaknya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Penghasilan orangtuanya itu tentu saja tidak cukup untuk menghidupi Lek Ni dan lima saudaranya.
Karena kesulitan ekonomi keluarga, dengan terpaksa Lek Ni berhenti sekolah setelah lulus SD. Dia ikut membantu emaknya jadi pembantu. Ya bantu bersih-bersih, nyuci atau masak untuk majikannya.
Memasuki masa remaja, kesengsaraan itu rupanya masih berlanjut. Lek Ni bertemu Lek No yang sekarang jadi suaminya. Bukan tidak bersyukur dengan hidupnya saat ini, tapi roda ekonomi keluarga ini belum sepenuhnya stabil.
Lek No hanya berdagang sayur di pasar. Sementara Lek Ni sesekali masih bersedia menjadi pembantu rumah tangga di rumah orang-oranh kaya.
Tapi, sejujurnya selama ini Lek Ni mengaku bahagia hidup bersama Lek No. Meski penghasilan suaminya itu pas-pasan, Lek No adalah orang yang jujur dan punya prinsip kuat dengan kehidupan.
"Apa to yang harus kita iri dari anak muda kaya itu, Mak?" tanya Lek No setelah mendengarkan panjang lebar keluh kesah istrinya dengan kehidupan yang begini-begini saja.
"Aku itu, nggak ngiri loh, Pak, sebenarnya."
"Terus?"
"Tapi heran saja, kok bisa anak muda sekaya itu. Sementara kita?"
"Itu iri namanya, Mak."
"Irinya di mana?"
"Sampean membandingkan hidup dia dengan kita itu sudah termasuk iri."
"Aku kan cuma heran."
"Kalau heran, harusnya sampean tidak perlu bercerita kesengsaraan hidupmu di masa anak-anak. Itu namanya kurang bersyukur."
"Aku bersyukur kok Pakne. Dan aku bahagia hidup berumah tangga dengan sampean. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi harusnya dia tidak sekaya itu di usia yang masih muda."
"Harusnya bagaimana?"
"Harusnya dia masih merintis usaha. Kalau pun kaya, dia tidak harus menguasai puluhan dapur MBG."
"Namanya juga orang kaya, Mak. Apa-apa dimudahkan."
"Lah, Pakne sekarang yang tidak bersyukur. Sampean iri juga dengan anak muda itu?"
"Nggak juga. Ngapain iri. Aku cuma bilang kalau jadi orang kaya di negeri ini, semua urusan jadi mudah."
"Makanya kita harus kaya, Pakne."
"Iya... Iya... Iya, Mak."
Kata-kata terakhir dari Lek No diucapkan dengan nada sewot. Lek Ni yang masih belum terima dikatakan iri dengan kehidupan anak muda itu, masih melanjutkan keluh kesahnya pada suaminya.
"Kalau lihat anak muda yang kaya itu, kok aku malah kepikiran ungkapan to, Pak?"
"Ungkapan piye, Mak?"
"Ya yang itu. Muda kaya raya, tua tetap kaya raya, mati masuk surga."
"Ungkapan tidak jelas."
"Tidak jelas gimana, Pakne? Itu jelas ada buktinya sekarang."
"Siapa yang menjamin anak muda itu masuk surga?"
"Siapa tahu, Pak."
"Sampean ini aneh, Mak. Manusia itu tidak bisa menilai dirinya sendiri. Juga menilai manusia lain. Amal-amal kita itu urusan yang Maha Kuasa."
Tidak puas menceramahi istrinya itu dengan satu, dua, tiga kalimat, Lek No mulai bertutur panjang.
"Sekarang tugas kita, Mak, berusaha sebaik-baiknya. Selalu menebar kebaikan kepada sesama. Tidak perlu iri dengan kekayaan orang lain. Biarkan dia kaya dengan jalannya sendiri. Dan kita bekerja sambil mengharap keberkahan dari pekerjaan kita."
"Tumben, Pakne, sampean bijak."
"Sekarang yang kita butuhkan, bukan ungkapan. Tapi usaha yang selalu diiringi dengan doa. Kita tidak boleh kaya dengan cara-cara tidak benar. Misalnya korupsi, menyuap orang lain atau mencurangi peraturan."
"Ya Allah Pakne. Kalau begitu, aku punya ungkapan yang lain Pakne yang cocok untuk kehidupan kita."
"Ungkapan apa lagi ini?"
"Muda tidak kaya, tua banyak doa, mati masuk surga."
Mendengar ungkapan dari istrinya, Lek No akhirnya berhenti berceramah. Dia tidak lagi melanjutkan kalimat-kalimat bijaknya. Sembari menahan ketawa, Lek No meninggalkan Lek Ni yang masih tetap sibuk menyuapi anaknya, Danantara Mugi Langgeng.
Editor : Anwar Bahar Basalamah