Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tumbuh di Dunia yang Berantakan, Generasi Z memiliki Tingkat Kepedulian yang Sangat Tinggi pada Masa Depan

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 17 November 2025 | 02:57 WIB
Photo
Photo

Kurangnya stabilitas lingkungan untuk tumbuh, merupakan realitas nyata yang dirasakan oleh generasi Z. Dimana mereka tumbuh dan berekembang ketika dampak krisis ekonomi global yang masih tersisa, perubahan strategi politik pemerintah di era reformasi, serta kondisi krisis iklim, perang, dan ketidakpastian ekonomi menjadi keseharian, bukan hanya sekadar berita di media. Ironisnya, Generasi Z tampak memiliki rasa kepedulian yang besar terhadap masa depan.

Selama bertahun-tahun mereka dianggap apatis, terlalu vocal dalam menyampaikan pendapat, serta terlalu bergantung pada teknologi. Namun, anggapan tersebut tampaknya semakin tidak sesuai dengan kenyataan. Di balik pandangan stereotip yang dibangun secara sembarangan, Generasi Z menunjukkan tingkat kepedulian sosial dan moral yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka menghadapi dunia yang tampak kacau, tetapi mereka tidak mundur. Generasi Z justru menemukan jawaban atas masalah yang sering diabaikan.

Tuntutan yang mereka hadapi tidak bisa diabaikan. Mereka dibesarkan dengan berita tentang krisis iklim setiap pekan, peringatan resesi setiap tahun, dan saran untuk menjaga kesehatan mental setiap hari. Algoritma media sosial menciptakan ruang publik yang sangat gemuruh dan kadang kejam. Namun, ditengah itu semua, mereka mengembangkan kemampuan untuk menganalisis masalah serta keberanian untuk mengakui kerentanan-dua sifat yang seringkali dimiliki generasi sebelumnya.

Yang menjadikan Generasi Z berbeda bukan hanya aksi protes mereka, tetapi cara mereka mendefinisikan tanggung jawab. Di berbagai belahan dunia, anak muda menjadi penggerak perubahan: mulai dari aksi iklim di Eropa dan Asia hingga gerakan keadilan sosial di Amerika Latin dan Afrika. Mereka tidak hanya meminta regulasi yang berbeda, tetapi mereka juga berupaya membangun dari akar melalui komunitas kecil, bisnis yang berkelanjutan, proyek digital yang edukatif, serta budaya berbagi yang setara.

Generasi ini mungkin cemas, tetapi kecemasannya tidak mengarah pada apatisme, justru kecemasan itu mendorong kesadaran. Mereka mungkin skeptis, tetapi skeptisisme itu tidak berubah menjadi sinisme; melainkan menjadi alat kekuasaan. Mereka mungkin lebih terbuka mengenai kesehatan mental, dan keterbukaan ini justru menghasilkan empati kolektif yang sebelumnya hilang dalam diskusi publik.

 Baca Juga: Berdakwah lewat Laku

Sering kali, dunia gagal memahami mereka karena Generasi Z berkomunikasi dengan cara yang berbeda. Mereka mengekspresikan kritik melalui humor atau tren digital yang bergerak cepat. Cara mereka berkomunikasi tidak selalu sesuai dengan harapan generasi yang lebih tua yang lebih mengedepankan nilai kesopanan dan formalitas. Namun, ketika kita memperhatikan lebih dekat, akan memiliki satu pesan inti yang sama: masa depan sedang dipertaruhkan.

Tentunya, setiap generasi mempunyai kekurangan, dan Generasi Z tak terhindar dari hal itu. Namun, mencoba membungkam atau memandang sepele mereka hanya akan memperpanjang siklus masalah yang kita warisi. Dunia saat ini membutuhkan lebih banyak keberanian, empati, dan imajinasi, dimana tiga aspek itu yang banyak kita temukan di generasi muda saat ini.

Generasi Z tidak pernah meminta beban yang mereka bawa. Namun mereka menolak untuk berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja. Mereka peduli, meskipun seringkali diabaikan oleh dunia yang lebih luas. Mereka berjuang, meskipun nasihat yang mereka terima sering tidak sesuai ekspektasi. Mungkin, karena mereka tumbuh dalam keadaan yang tidak mereka ciptakan, mereka lebih mampu membayangkan dunia yang lebih baik untuk dihuni.

Jika ada harapan untuk masa depan, harapan itu kini ada di tangan generasi yang sering salah dimengerti.

(Penulis adalah Mahasiswa Universitas Airlangga)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kepedulian sosial #kepedulian #Gen Z #apatis #generasi z