Aksi heroik Lek No yang menyelamatkan dua bocah tenggelam di sungai kemarin sore mendapat sambutan gegap gempita dari warga di kampung ini.
Atas upaya penyelamatan itu, mereka hendak memberi apresiasi. Usulan itu sudah disampaikan kepada Pak Lurah Kambali. Dan, hari ini Pak Lurah Kambali mengundang Lek No ke balai kampung untuk menerima penghargaan sebagai pahlawan kampung.
Pak Lurah Kambali tidak menghadiahi uang jutaan. Hanya bunga yang telah disiapkan ibu-ibu kampung sejak tadi malam yang rencananya akan dikalungkan di leher Lek No.
Pak Lurah Kambali membayangkan, kalung bunga itu akan diserahkan pada Lek No lewat seremonial kecil-kecilan. Karena keberaniannya, dua bocah yang sempat terseret arus sungai itu bisa dientaskan ke tepi lagi.
Lek No pantas mendapatkan pujian itu. Dia layak menjadi contoh bagi warga lain di kampung ini. Setiap orang seharusnya bisa meniru tindakan Lek No yang gagah dalam mengambil risiko.
Menurut Pak Lurah Kambali, tak semua orang rela untuk berkorban. Jika tidak memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dan cinta pada sesama, mustahil rasanya seseorang berani menceburkan diri ke sungai untuk melakukan pertolongan.
Andai saja saat kejadian tidak ada Lek No, sudah pasti dua bocah itu sekarang jadi mayat. Maka, untuk menumbuhkan rasa pengorbanan itu, Pak Lurah Kambali sengaja mengajak para pemuda di kampung ini untuk datang di acara pengalungan bunga kepada Lek No siang ini.
Pak Lurah Kambali ingin pemuda kampung menjadikan Lek No sebagai panutan. Bukan saja teladan soal kejujurannya, tapi juga tentang dedikasi, kemanusiaan dan kepahlawanan. Lewat ajakan itu, mereka sekarang sudah duduk rapi menunggu acara dimulai.
Sesuai undangan, Lek No seharusnya tiba di balai kampung jam sepuluh. Tapi, entah kenapa, hingga pukul sepuluh lewat dua puluh menit, bapak satu anak itu belum juga terlihat batang hidungnya.
Yang jelas, semua orang di kampung ini tahu, termasuk Pak Lurah Kambali, Lek No adalah orang yang disiplin soal kedatangan. Dia jarang telat ketika ada undangan dari Pak Lurah Kambali atau kegiatan warga.
Kalaupun terlambat, pasti ada alasan yang bisa diterima. Ketika terlewat waktu menjemput Lek Ni, istrinya, minggu lalu, Lek No mengalami masalah pada sepeda motornya.
Makanya, Pak Lurah Kambali tetap berhusnuzan. Dia tidak mau berpikir macam-macam ketika Lek No belum juga datang di balai kampung sampai siang hari.
"Mungkin saja Lek No masih ngurusi dagangannya di pasar."
Pak Lurah Kambali mencoba menenangkan para hadirin dan hadirat yang hadir di balai kampung. Mereka yang semula gusar, akhirnya bisa tenang kembali.
"Kita tunggu lima menit lagi ya, Bapak-Ibu," kata Pak Lurah Kambali.
"Kalau belum datang, Pak Lurah?" tanya Dirjo yang tampak sebal karena terlalu lama menunggu kedatangan Lek No.
"Ya kita jemput saja, bukan begitu, Pak Mukhol?" tanya Pak Lurah dengan mata melirik Pak Mukhol yang duduk persis di depannya.
"Baik Pak Lurah." Sebagai tetangga depan rumah, tak sulit bagi Pak Mukhol untuk mendatangi Lek No.
Tapi, upaya menjemput Lek No di rumahnya akhirnya tidak perlu dilakukan. Lek No yang berjalan santai tampak muncul di gerbang balai kampung. Dia sendiri. Tidak mengajak Lek Ni dan anaknya, Danantara Mugi Langgeng.
Dari wajahnya, sama sekali tidak ada raut kebahagiaan. Padahal Lek No sebentar lagi dianugerahi pahlawan kampung oleh Pak Lurah Kambali dan disaksikan warga kampung.
Setelah masuk di area balai kampung, Lek No langsung menghampiri Pak Lurah Kambali yang duduk di depan menghadap para undangan.
"Akhirnya datang juga," kata Pak Lurah Kambali sembari menyalami tangan Lek No.
Lek No tak menyambutnya dengan ramah. Dia hanya diam dan kemudian duduk di samping Pak Lurah Kambali. Kursi itu memang disiapkan untuk Lek No.
"Bapak-Ibu, tepuk tangan semua untuk pahlawan kita yang sudah menyelamatkan dua nyawa manusia."
Seruan Pak Lurah Kambali itu lalu disambut tepuk tangan yang menggema di ruang pendapa balai kampung. Semua terlihat bangga dengan kedatangan pahlawan mereka.
"Maksudnya apa sih, Pak Lurah?" tanya Lek No di tengah sorak-sorai warga yang datang di balai kampung.
"Sampean selalu merendah. Suka saya. Memang itu cirinya seorang pahlawan."
"Pahlawan apa? Saya kan sudah menolak undangan Sampean, Pak Lurah, lewat WA."
"Ah Sampean Lek. Jangan merendah terus. Ini hanya acara kecil-kecilan kok," kata Pak Lurah Kambali mencoba meyakinkan Lek No.
"Merendah gimana, Pak Lurah?"
"Luar biasa Sampean ini. Sudah menyelamatkan nyawa orang tapi masih tidak ingin mengakui. Saya salut, Lek."
"Aduh Pak Lurah."
"Ya sudah, acara kita mulai, ya?" kata Pak Lurah Kambali sambil izin berdiri kepada Lek No.
"Terserah Sampean, Pak."
Saat berdiri memberikan sambutan, Pak Lurah Kambali mengatakan, orang seperti Lek No itu sangat langka. Meski sudah menyelamatkan kehidupan orang lain, tapi yang bersangkutan tidak mau disanjung-sanjung.
"Karena itu, acara ini kita buat sederhana saja. Tidak perlu rumit-rumit. Kita kasih bunga ke Lek No dan acara selesai. Tapi, sebelum itu, Lek No harus mau bicara di depan kita semua soal kepahlawanan. Setuju Bapak-Ibu?"
"Setujuu," jawab warga kompak.
Dengan berat hati, akhirnya Lek No bicara setelah dipersilakan oleh Pak Lurah Kambali.
"Maaf Bapak-Ibu, saya datang terlambat," kata Lel No mengawali sambutannya.
"Nggak apa-apa, Lek."
"Aman, Lek."
"Duh, Lek No pahlawanku."
Mereka bisa memaklumi keterlambatan Lek No datang ke acara. Warga menganggap kesalahan kecil itu tidak sebanding dengan pengorbanan Lek No menyelamatkan dua bocah tenggelam.
"Sebenarnya saya sudah menolak undangan dari Pak Lurah Kambali. Saya tidak layak jadi pahlawan."
"Ayoo Lek, tunjukkan pesonamu," teriak salah satu warga yang makin girang dengan kerendahan hati Lek No.
"Di sini, saya tidak ingin menerima bunga. Saya hanya mau cerita yang sebenarnya terjadi kemarin sore."
"Cerita aja, Lek No pahlawanku," kata salah satu warga dengan nada menggoda.
"Saya memang menyelamatkan mereka. Tapi saya juga yang mendorong mereka ke sungai."
"Loh..loh..loh..." kata Pak Mukhol keheranan.
"Jadi ceritanya kami bertiga mancing di sungai. Dua bocah itu duduk di dekat saya. Saya beberapa kali kecolongan. Mereka sepertinya jago sekali memancing. Sekitar satu jam memancing, mereka selalu dapat ikan. Saya tidak. Makanya saya minta mereka geser ke tempat yang agak jauh supaya ikan mau memakan umpan saya. Mereka menolak. Ya sudah dengan bercanda saya dorong mereka ke sungai sampai tercebur. Ehh.." Lek No sempat terdiam tidak meneruskan kalimatnya. Dia sepertinya malu dengan tingkahnya yang kurang terpuji itu.
"Terus Lek?" celetuk salah satu warga.
"Ya saya kira dua bocah itu bisa berenang. Makanya saya berani dorong mereka. Ternyata mereka tenggelam. Setelah itu, saya coba selamatkan mereka. Kalau tidak, sudah pasti saya masuk penjara hari ini."
"Oalaahhh Lek Lek."
Lek No terdiam. Para undangan yang datang merasa kecewa. Mereka kemudian menanyakan kelanjutan acara pengalungan bunga pada Pak Lurah Kambali.
"Gimana kelanjutannya, Pak Lurah?"
"Ya gimana. Berarti tidak ada pahlawan di sini. Kita anggap selesai acara pahlawan-pahlawanan," kata Pak Lurah Kambali dengan ketus.
Pak Lurah Kambali kemudian meninggalkan pendapa. Dia tidak lagi menyapa Lek No yang ada di dekatnya. Seremonial kecil-kecilan yang disiapkan untuk Lek No gagal total.
Pak Lurah Kambali malu dan meringkuk di ruangannya. Sementara Lek No yang kadung malu akhirnya pulang lagi ke rumahnya.
Semua malu gara-gara pahlawan-pahlawanan.
Editor : Anwar Bahar Basalamah