Kalau tidak menunggu tiga jam lebih, mungkin Lek Ni tidak bakal uring-uringan seheboh ini. Orang yang janjinya ingin menjemput di kantor kecamatan, sampai jam tiga sore tidak juga menampakkan diri.
Padahal Lek No, orang yang mengikat janji itu harusnya tiba menjemput sang istri jam dua belas siang. Saking percaya pada suaminya, Lek Ni sampai menolak beberapa ajakan tumpangan dari para tetangganya.
Usai acara jalan sehat di kecamatan itu, Bu Timuk sebenarnya sudah menawari Lek Ni boncengan motor. Lek Ni menolak. Dia merasa suaminya bisa datang tepat waktu.
Jeng Enol dengan segala kerendahan hati pun mengajak pulang bareng. Tapi Lek Ni yang menggendong bayinya, Danantara Mugi Langgeng masih setia menunggu suaminya itu.
Satu jam ditunggu, Lek Ni mulai senewen. Dia mengira Lek No lupa telah membuat janji. Lek Ni tahu, suaminya itu orang pelupa yang akut.
Soal kebiasaan kurang ingat ini, Lek No pernah pulang ke rumah tidak membawa belanjaan apa-apa. Padahal istrinya itu sudah nitip sejak pagi untuk belanja keperluan dapur.
"Masak Pakne lupa. Orang belum tua kok pikun," batin Lek Ni.
Satu jam berlalu, hatinya makin dag dig dug tidak karuan. Antara dongkol dan khawatir jaraknya hanya sekepal tangan. Lek Ni geram karena dua jam lamanya menunggu di kantor kecamatan tanpa kepastian.
Sebenarnya, Lek No punya HP yang bisa dihubungi. Masalahnya, Lek Ni dengan kejadulannya, jarang sekali membawa HP ke mana pun pergi. Jadi sudah pasti HP-nya tertinggal di rumah.
Kekhawatiran Lek Ni kali ini tidak dibuat-buat. Meski ada perasaan kesal, dia tetap resah jika suaminya kena apa-apa di jalan. Berpikir jika Lek No mengalami kecelakaan, dijambret atau belok ke rumah selingkuhan, terus berkecamuk dalam pikirannya.
Selama menanti Lek No, Lek Ni sambil menggendong Danantara terus mondar-mandir dengan wajah yang kusut. Sesekali dia duduk di tepi jalan sembari melongok ke kejauhan. Siapa tahu Lek No dengan sepeda motornya nongol mendekat.
Sayang seribu sayang, sang suami yang dinanti-nanti itu tak terlihat tanda-tandanya semakin dekat. Pikiran Lek Ni makin kacau. Over thinking-nya sudah melewati batas. Dia bergumam dengan meracau.
"Orang kok kebangetan. Apa ndak sadar bojone nunggu berjam-jam. Pikirannya itu loh ditaruh mana. Uhh greget-greget aku. Tapi, jangan-jangan Pakne jatuh, terus dibawa ke rumah sakit, nyawane tidak tertolong terus Pakne mat..."
Belum selesai Lek Ni menyelesaikan ucapannya yang terakhir, kalimat istighfar langsung meluncur dari mulutnya.
"Astagfirullah.. astaghfirullah.. astaghfirullah.."
Setelah lafal istighfar ketiga, tiba-tiba deru motor matik menghampiri Lek Ni.
"Ya Allah Pakne nangdi wae Sampean ini," ucap Lek Ni begitu melihat Lek No, sang suami yang sudah ada di depannya. Rasa letih menunggu berjam-jam itu kemudian ditumpahkan Lek Ni dengan mencubit seluruh badan suaminya.
"Aduh aduh aduh Mak. Ampun ampun ampun. Nanti tak jelaskan pas perjalanan," kata Lek No membela diri.
"Yasudah ayo jalan sekarang!!" gertak Lek Ni.
Sesuai janjinya, Lek No menceritakan apa yang sudah terjadi sambil menggeber motornya yang tersapu angin sepanjang perjalanan. Makanya, Lek Ni yang duduk membonceng di belakang agak susah mendengar suara suaminya karena terhalang embusan angin tadi.
"Sepurane Mak, aku telat."
"Iya."
"Aku ndak lupa jan-jane jemput Sampean."
"Iya."
"Motorku tadi mogok, Mak."
"Iya."
"Kok iya-iya aja dari tadi jawaban Sampean."
"Sampean ngomong apa tadi aku ndak dengar."
"Mogok Mak. Mogok. Mogok."
"Gimana Pak?"
"Mogok. Brebet brebet."
"Oh iya."
"Dengar?"
"Kurang dengar Pak."
Karena omongan mereka tak saling sambung gara-gara terbawa angin, Lek No akhirnya menaikkan volume suaranya. Jadilah omongannya menjadi setengah berteriak.
"Motorku tadi mogok Mak. Brebet."
"Oh, brebet. Kok bisa Pak?"
"Jadi waktu berangkat, aku isi bensin dulu di SPBU. Setelah isi pertalite, motor jadi gampang brebet."
"Berapa kali brebet, Pak?
"Duh udah berkali-kali, Mak."
"Terus?"
"Aku ke bengkel dulu. Ternyata antre panjang."
"Kok bisa Pak?"
"Ternyata semua motor yang masuk bengkel, keluhannya sama dengan punyaku Mak."
"Brebet juga?"
"Iya brebet setelah diisi pertalite."
"Kok bisa gitu, Pak? Emang kenapa pertalite?
"Ndak tahu. Kecampur air mungkin."
"Kok bisa?"
"Ya ndak tahu. Sampean tanya pemerintah aja!"
"Ngapain aku tanya pemerintah, Pak."
"Ya makanya, kita ini sama-sama ndak tahu, Mak. Sama-sama dibodohi."
"Kok kita. Pakne itu yang dibodohi."
"Lah buktinya, gara-gara motor brebet, aku jadi telat nyusul sampean, to? Terus Sampean marah-marah. Itu artinya kita sama-sama dibodohi."
"Embuh, Pak. Yang jelas aku marahnya ke Sampean, Pak. Bukan ke pemerintah."
"Lah Sampean pancen beraninya cuma sama aku."
"Iya."
Tak terasa obrolan setengah teriak dari Lek No dan Lek Ni mengantar mereka makin dekat dengan rumah. Tinggal lima ratus meter lagi mereka sampai. Tapi, begitu jarak menyisakan dua ratus meter saja, motor yang mereka naiki tiba-tiba mogok.
"Duh brebet lagi," kata Lek No geram.
"Pancen pemerintah bisanya nyusahkan wong cilik."
Kemurkaan jelas tampak dari raut muka Lek Ni ketika mengatakan demikian. Seraya berjalan kaki menuju rumah yang tinggal beberapa meter saja, Lek Ni terus meracau pemerintah yang dianggapnya tidak becus mengurus rakyatnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah