Kegilaan Gusyon pada Cristiano Ronaldo, pemain Al Nassr berkebangsaan Portugal itu tak perlu diragukan lagi. Poster Ronaldo yang dicetak sendiri dari foto-foto di Google terpampang di sudut-sudut kamarnya.
Jersey bernomor punggung tujuh yang dikoleksi Gusyon sejak Ronaldo berlabuh di MU, Real Madrid hingga Juventus dan Timnas Portugal, sudah memenuhi isi lemarinya. Meski cuma KW yang dibeli di Pasar Sore, itu tidak lantas menurunkan derajat fanatismenya.
Saking gandrungnya, Gusyon kerap menulis nama di buku sekolahnya dengan tulisan Agus Mulyono Ronaldo. Padahal semua teman-teman di sekolahnya tahu, nama pemberian dari Pak Mukhol, bapaknya itu hanya Agus Mulyono. Tidak ada embel-embel Ronaldo di belakang.
Kecintaan Gusyon pada idolanya adalah potret yang wajar-wajar saja sebenarnya bagi bocah seusianya. Di dunia, di negeri ini, anak mana yang tidak mengidolakan pemain sepak bola berparas tampan itu.
IShowSpeed, YouTube Amerika Serikat yang punya puluhan juta pengikut di media sosial saja, kelakuannya setali tiga uang seperti Gusyon. Mereka punya kesamaan: cinta, gila dan kadang tidak masuk akal.
Speed mencintai Ronaldo tak ubahnya seperti seorang pria yang mendambakan wanita berada di dekapannya. Semua yang dilakukan sungguh-sungguh gila dan kekanak-kanakan. Dengan cara apa pun, Speed tak pernah kehabisan akal untuk menemui idolanya itu.
Dia terbang dari satu negara ke negara lain demi berharap bisa bertemu dengan Ronaldo. Beberapa kali Speed menunggui super star sepak bola itu di stadion. Sama dengan penggemar Ronaldo yang lain, pemuda ini juga menjadi pembenci Lionel Messi, rival terberat Ronaldo di lapangan hijau.
Gusyon memang belum selevel Speed dalam urusan kegilaan mencintai Ronaldo. Tapi anak semata wayang Bu Tinuk itu sudah menunjukkan gelagat tidak masuk akal yang aneh-aneh.
Salah satu keanehannya adalah ketika Gusyon sambil merengek-rengek ke Emaknya itu minta dikursuskan bahasa Portugis. Dia sepertinya punya hasrat besar untuk menguasai bahasa ibu dari Ronaldo itu.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kemauan Gusyon. Ibu mana yang tidak bangga anaknya punya ambisi yang menggebu-gebu. Tapi, memangnya cari les-lesan di kampung ini gampang.
Di kota ini pun, menelusuri les-lesan bahasa Portugis sama susahnya menemukan jarum dalam jerami. Makanya, Bu Timuk bukan malah tambah mumet dengan kehendak sang anak.
Sambil menata buku pelajarannya yang terjadwal besok pagi, Gusyon tak pernah absen merayu Bu Timuk agar bisa sesegera mungkin memperoleh tempat les-lesan bahasa Portugis.
"Sudah ketemu Mak? Di mana les bahasa Portugis?"
"Belum Gus. Aneh-aneh saja kamu ini."
"Aku pengen bisa bahasa Portugis, Mak."
"Buat apa to, Nak, bahasa Portugis ini?"
"Biar seperti idolaku Mak, Cristiano Ronaldo yang asal Portugal, Mak."
"Lah memangnya kalau kamu suka Ronaldo, kamu harus berbahasa Portugis?"
"Namanya juga ngefans, Mak."
"Ah aneh-aneh aja kamu, Le."
"Nggak aneh kok, Mak."
"Memangnya harus les untuk bisa bahasa Portugis, Gus?"
"Iya dong, Mak."
"Kamu kan bisa belajar dari YouTube to, Gus."
"Tapi, kalau les bisa lebih cepat, Mak."
"Ah sama aja, Gus."
"Obrigrado, Mak. Obrigrado. Bisaku cuma itu kalau lewat YouTube."
"Apa itu sambalado, Gus?
"Kok Sambalado. Obrigrado, Mak. Artinya terima kasih.
"Iya maksudnya gado-gado. Terima kasih."
"O-B-R-I-G-A-D-O."
"Iya itu maksudnya."
Bu Timuk acap kali kehabisan kata-kata setiap berdebat dengan Gusyon soal bahasa Portugis. Sesekali jurus menyeletuknya pun keluar.
"Kenapa kamu nggak ke Timor Leste aja, Gus?"
"Maksudnya, Mak?"
"Ya kamu pergi ke Timor Leste, Gus, gitu."
"Di sana banyak les-lesan bahasa Portugis, Mak?"
"Haduhhh. Bukann."
"Terus, Mak?
"Sudah lupakan!"
Begitulah hari-hari yang dihadapi Bu Timuk akhir-akhir ini. Adakala tekad Gusyon tidak diimbangi dengan kepolosonnya yang bikin Bu Timuk makin kehilangan kesabaran.
Bu Timuk tahu, anaknya itu bukan tergolong bocah yang pintar di kelas. Nilainya selalu di bawah rata-rata. Termasuk pelajaran bahasa. Baik Inggris, Jawa maupun bahasa Indonesia.
"Gini loh, Le, maksud Emak. Mbok yo, kamu perbaiki dulu nilai bahasamu yang lain. Inggris dan bahasa Jawamu selalu jeblok."
"Bahasa Inggris dan Jawa itu memang kelemahanku, Mak."
"Kalau Inggris saja kamu susah, apalagi nanti Portugis, Gus."
"Berarti Mak, nggak dukung aku bisa bahasa Portugis?"
"Bukan gitu, Le."
"Terus, Mak?"
"Maksudnya buat apa kamu harus berbahasa Portugis? Maksudnya saat ini kamu belum perlu. Jadii.. "
"Jadi apa, Mak?"
"Jadi belajar saja dulu di YouTube."
"Kalau gitu aku mau pergi dulu, Mak."
"Loh mau pergi ke mana kamu?"
"Timor Leste."
"Bocah kok hobinya guyon," kata Bu Timuk sembari memanggil Gusyon yang terus melangkah menuju pintu depan.
Tanpa menghiraukan panggilan Emaknya, Gusyon langsung plencing ke luar rumah malam-malam. Rupanya dia singgah ke rumah Lek No, tetangga depan rumah, dan bertanya bagaimana cara pergi ke Timor Leste untuk mendapatkan tempat les bahasa Portugis.
"Gendeng awakmu, Gus," kata Lek No sambil geleng-geleng kepala.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah