Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bernostalgia dengan Kenakalan

Anwar Bahar Basalamah • Minggu, 19 Oktober 2025 - 02:03 WIB
Ilustrasi Guru dan Murid
Ilustrasi Guru dan Murid

Cerita kenakalan Lek No semasa sekolah sudah jadi rahasia umum di kampung ini. Orang Jawa bilang, mbelinge orang ketulungan. Terutama di zaman-zaman ketika Lek No duduk di bangku SMP.

Lek No di masa bocah ingusan itu sama sekali tidak bisa digugu. Bukan panutan bagi anak-anak yang cita-citanya ingin jadi polisi, terntara atau insinyur. Segala kebandelan anak sekolah melekat pada dirinya.

Di sekolahnya, Lek No tercatat sebagai siswa yang sering datang terlambat. Jika pun tidak telat, datangnya selalu mepet dengan bel masuk pagi. Ketika ditanya oleh sang guru, dia pasti beralasan bangun kesiangan.

Tapi, ada satu dalih yang akhirnya menjadi pembenar keterlambatannya memasuki gerbang sekolah. Kepada orang di kampung ini, terutama Pak Mukhol, teman seangkatannya, Lek No mengaku mengisap satu batang rokok dulu di sebuah warung dekat sekolah.

Dia tidak sendirian. Biasanya, anak-anak yang merokok di warung itu berasal dari berbagai sekolah. Tidak hanya anak SMP, tapi juga anak SMA dan SMK. Warung milik Bu Kom itu jadi semacam basecamp buat mereka yang ogah-ogahan sekolah meski berangkatnya berseragam dari rumah.

Lek No bercerita mulai belajar merokok sejak SMP. Tapi, sebenarnya dia mengenal rokok saat masih SD. Biasanya, rokok itu didapat dari kuli bangunan yang sedang nukang di balai kampung atau musala.

Karena masih takut-takut, Lek No tak pernah membakar rokok pemberian itu. Dia hanya mengemut bagian pangkal sambil menyembul-nyembulkan bibir seolah-olah asap rokok keluar dari mulutnya.

Baru, di bangku SMP, teman pergaulannya makin luas. Lek No tidak segan untuk merokok di warung atau pernah juga dengan sembunyi-sembunyi merokok di kamar mandi ketika jam pelajaran di kelas sedang kosong.

Hingga suatu ketika, Lek No yang merokok di kamar mandi bersama dua kawannya tepergok oleh kepala sekolah.

"Hahahaha.." kata Lek No tertawa tergelak ketika mengisahkan cerita nostalgia itu kepada Pak Mukhol di sore ini.

Waktu itu, keduanya bercengkrama di depan rumah Pak Mukhol sambil menikmati kopi hitam dan camilan pisang goreng yang masih hangat.

"Terus waktu itu gimana Sampean setelah ketahuan, Lek?"

"Ya kami bertiga dibawa ke ruang kepala sekolah Pak Roslan, Pak?"

"Terus?"

"Saya ditampar Pak Roslan pipi kanan dan pipi kiri."

"Hahaha.." Kali ini giliran Pak Mukhol yang terbahak mendengar cerita Lek No. Padahal cerita itu sama sekali tidak lucu. Justru mengandung kekerasan. Tapi, saat mengenang kenakalan di masa sekolah, seseorang seakan-akan ingin menertawakannya. Bukan karena lucunya, tapi episode terburuk dari fase kehidupan manusia itu terkadang pantas untuk diolok-olok.

"Terus Lek? Gimana nasib pipi Sampean. Hihihi?" tanya Pak Mukhol penasaran sambil masih cekikan.

"Duhh Pak. Sampean tahu kan Pak Roslan pakai akik di jarinya. Sudah pasti panasss setelah ditampar."

"Hahahahah.. iya yaa saya ingat Pak Roslan pakai dua akik di jempol dan jari tengah."

"Makanya itu, sakitnya nggak karuan."

"Terus cuma ditampar aja, Lek?"

"Iya nggak Pak."

"Diapain aja sama Pak Roslan, Lek?"

"Kena ceramah, Pak."

"Gimana ceramahnya? Hihihihi."

"Katanya begini, 'Hei Surono, mau jadi apa kamu nanti, masih SMP sudah merokok. Kasihan emak bapakmu yang pengin kamu jadi anak baik di sini. Kalau kamu ketahuan merokok lagi, Bapak nggak cuma tampar, tapi tak suruh temanmu satu kelas untuk menampar kamu'."

"Hahahahah... Kapokmu kapan Lek."

Pak Mukhol masih tak bisa menahan tawanya ketika cerita kemarahan Pak Roslan terekspos satu per satu. Waktu itu, belum ada kamera HP yang merekamnya. Jadi kisah kelucuan itu hanya diingat lewar tutur kata pelakunya.

"Wah benar-benar. Mulai saat itu saya tidak berani merokok lagi di sekolah, Pak."

"Kalau di tempat lain, Lek?"

"Masih sih, Pak Mukhol. Hahahaha."

"Sampean itu. Namanya bukan kapok, Lek."

"Tapi yang penting sekarang saya bukan perokok, Pak."

"Oh iya ya..."

Usai peristiwa tamparan itu, Lek No mengaku tak pernah punya rasa dendam dengan Pak Roslan. Toh, meski rasa nyut-nyut di pipinya baru reda setelah tiga hari, dia tetap menaruh hormat pada guru dan kepala sekolahnya itu.

Dia pun tidak pernah menceritakan aksi penamparan Pak Roslan kepada orangtuanya. Lek No tahu, ketika dia mengadu pada bapak dan emaknya, bukan pembelaan yang didapatnya. Justru mereka akan menampar bagian tubuh lain yang belum ditampar Pak Roslan.

Ketika Lebaran beberapa tahun lalu, Lek No pernah suatu saat sowan ke rumah Pak Roslan. Dia meminta maaf atas kenakalan yang sudah dilakukan selama di sekolah. Pak Roslan yang mendapat ucapan permintaan maaf dari mantan anak didiknya itu justru terkekek tidak berhenti.

Dari cerita Lek No, Pak Roslan sebenarnya tidak ingin menghukum muridnya dengan cara kekerasan. Tapi, zaman dahulu, hal itu jadi satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk membuat jera murid yang melanggar aturan sekolah.

Jika saja cara itu dilakukan sekarang, mungkin Lek No tak hanya diam seperti dulu. Dia pasti melaporkan perbuatan kasar itu kepada polisi atau memviralkannya di media sosial.

Zaman sudah berubah. Dulu murid ditampar guru karena kesalahan jadi hal yang lumrah. Atas kejadian itu, mereka kini menertawakannya bersama-sama. Bisa jadi itu bagian dari bentuk penyesalan.

Sekarang, menampar murid jadi perkara yang sangat rumit. Ada pemerintah, ada HAM, ada penegak hukum, ada netizen, ada pengamat. Semua bisa berkomentar dan berdebat tanpa tahu apa akar permasalahan pendidikan sesungguhnya di negeri ini. Padahal bisa jadi, di masa mendatang, guru dan murid ini akan menertawakan kekonyolan masa lalunya seperti Pak Roslan dan Lek No.

Yang jelas, ketika cerita nostalgia ini sampai di ujung senja, tiba-tiba saja Lek No mendapat WA dari temannya bahwa Pak Roslan baru saja menghadap Sang Khalik lima belas menit yang lalu.

Lek No yang awalnya terpingkal-pingkal mengenang kenakalannya di zaman SMP seketika hening dan mulai berurai air mata.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#siswa #sekolah #kenakalan sekolah #guru #Lek No