Perdebatan antara Pak Lurah Kambali dengan Pak Kamituwo Supat makin runcing. Dua pimpinan di kampung ini beradu argumen, saling sanggah, saling bantah. Dua-duanya tak ada yang mau mengalah.
Pak Lurah Kambali dengan suara yang agak parau, bersikukuh pendapatnya adalah yang paling benar untuk kebaikan kampung ini. Pak Kamituwo Supat tak mau takluk. Meski jadi bawahan lurah, dia punya hak untuk menyampaikan saran.
Pak Kamituwo Supat beranggapan, untuk memperbaiki pelayanan masyarakat di kampung ini, cara-cara seperti yang diutarakan Pak Lurah Kambali itu sudah sangat usang. Makanya, dia mengusulkan perlu siasat kekinian yang sedang ramai di media sosial.
"Lah bagimana to Pak Lurah ini, cara seperti itu kok masih dipakai."
"Cara saya ini sudah lazim dipakai semua pemimpin loh, Pak Kamituwo."
"Sampean ini tidak mengikuti perkembangan media sosial loh, Pak."
"Memangnya cara kita harus sama dengan yang sedang ramai di media sosial, Pak, begitu?"
"Loh anak muda itu sukanya yang viral-viral."
"Tapi, lihat-lihat viralnya dong, Pak Kamituwo."
"Zaman sudah berubah, Pak Lurah Kambali. Kita nggak bisa pakai cara-cara lama."
"Cara lama tapi jitu, harus tetap kita pertahankan loh, Pak."
"Jitu gimana to, Pak Lurah?"
"Memangnya kalau pakai yang viral di media sosial seperti usul sampean itu, pelayanan di kampung kita bisa lebih baik?"
"Sudah pasti itu, Pak. Sudah pasti."
"Ah nggak percaya saya."
"Makanya perlu kita coba."
"Ah.."
Lamat-lamat, suara Pak Lurah Kambali mulai mengempis. Dia sepertinya lelah untuk menanggapi keyakinan Pak Kamituwo Supat yang tidak masuk akal itu.
Sebagai lurah yang sudah menjabat sejak tahun 2020, Pak Lurah Kambali tahu harus bagaimana melayani masyarakatnya ketika datang ke balai kampung. Warga yang mengurus KTP, KK, akta kelahiran, akta kematian, surat keterangan apa pun, selama ini sudah dilayani dengan maksimal. Dia menempatkan orang-orang yang pas untuk menyapa warga dan meladeni mereka dengan baik.
Pak Lurah Kambali tidak lupa membikin kotak saran yang ditempatkan di dekat pintu masuk balai kampung. Siapa pun yang merasa pelayanan di balai kampung tidak sebagaimana mestinya, mereka bisa menuliskan keluh kesahnya di situ.
Memang kentara ketinggalan zaman, tapi begitulah gaya Pak Lurah Kambali ketika mengabdi untuk masyarakatnya. Cara-cara lama tetap dilestarikan meski harusnya pengaduan masa kini bisa dilakukan melalui call center atau nomor WA.
Sampai suatu hari, kotak saran itu terisi secarik kertas pengaduan dari salah satu warganya. Si pengadu melaporkan bahwa pelayanan di balai kampung sangat buruk. Petugasnya judes, melayani sambil main HP dan kadang berbelit-belit.
Membaca protes itu, Pak Lurah Kambali mencak-mencak. Dia lekas memanggil para petugas yang berjaga ketika si pengadu itu datang.
Pak Lurah Kambali sudah memberi surat peringatan kepada si petugas. Selanjutnya, dia mulai memperbaiki sistem pelayanan dengan melakukan pembinaan kepada semua petugas yang berjaga. Intinya, tidak boleh lagi ada yang main HP, pasang muka cemberut dan harus bekerja cakcek.
Pendekatan Pak Lurah Kambali itu yang kemudian mendapat penolakan dari Pak Kamituwo Supat. Dia mengusulkan agar Pak Lurah Kambali membuat video "Tepuk Pelayanan" seperti yang viral di media sosial.
Maka, datanglah Pak Kamituwo Supat hari ini di balai kampung menemui Pak Lurah Kambali untuk menyampaikan usulan itu. Pertemuan itu membuat keduanya berdebat sengit yang hanya disaksikan Lek No dari jarak sekitar dua meter saja.
"Coba sampean buat video Tepuk Pelayanan, Pak Lurah. Saya yakin pelayanan di kampung ini jadi lebih baik."
"Tepuk apa to itu, Pak? Aneh-aneh saja," kata Pak Lurah Kambali sembari menatap konten tepuk viral di HP-nya.
"Gimana bagus kan?" tanya Pak Kamituwo Supat.
"Nggak.. Nggak.. Nggak. Hanya tepuk-tepuk begitu, apa hubungannya dengan perbaikan pelayanan di kampung kita?"
"Loh gimana to Pak Lurah ini. Kok masih belum paham juga. Ya pasti ada dong Pak Lurah."
"Di mana hubungannya?
"Video itu nanti kita sebar ke warga. Itu memberi kesan kalau pelayanan di balai kampung ini baik, Pak Lurah."
"Ah mana bisa begitu."
"Nggak percaya sampean, coba sampean tanya Lek No."
"Apa betul begitu Lek?" tanya Pak Lurah Kambali pada Lek No yang duduk di samping kanannya.
"Betul Pak Lurah."
"Loh gimana sampean ini Lek. Kok bisa setuju dengan Pak Kamituwo."
"Itu usulan bagus, Pak Lurah. Tapi..."
"Tapi kenapa Lek?" kata Pak Lurah Kambali penasaran. Tak hanya Pak Lurah Kambali, Pak Kamituwo juga ingin tahu sebenarnya apa isi hati Lek No. "Tapi gimana Lek?"
"Ya saya setuju Pak kalau kita membuat video tepuk yang viral itu. Tapi bukan Tepuk Pelayanan."
"Terus tepuk apa Lek?" sahut Pak Kamituwo Supat dengan nada tanya yang dalam.
"Tepuk Stop Korupsi, Pak."
"Apa hubungannya?"
"Ah supaya pejabat kita, termasuk bapak-bapak ini tidak korupsi. Siapa tahu, dengan tepuk ini, Pak Lurah dan Pak Kamituwo takut korupsi."
"Ngawur sampean, Lek," kata Pak Lurah Kambali.
"Sampean sudah kebelinger, Lek," kata Pak Kamituwo Supat menimpali.
"Loh saya sudah buat liriknya loh, Pak."
JANGAN NYOLONG
JANGAN NYOLONG
JANGAN NYOLONG
JANGAN NYUAP
JANGAN NYUAP
JANGAN NYUAP
SALING JUJUR
SALING LURUS
TIDAK CURANG
TIDAK CULAS
AYO KITA JANGAN KORUPSI!
MASLAHAH
Setelah lirik itu selesai diucapkan Lek No, Pak Kamituwo yang semula mengusulkan "Tepuk Pelayanan", tiba-tiba berbalik arah mendukung cara Pak Lurah Kambali yang diakuinya kuno itu.
Entah, dia kesindir atau memang belum siap dengan gerakan "Tepuk Stop Korupsi", Pak Kamituwo Supat seketika berpamitan dan menganggap usulannya yang diperselisihkan sengit dengan Pak Lurah Kambali tadi hanyalah sampah.
Editor : Anwar Bahar Basalamah