FOMO tak selalu memiliki dampak negatif. Namun seringkali remaja menggunakan istilah ini untuk tergabung dalam tindakan buruk.
Salah satunya keikutsertaan dalam aksi demonstrasi yang berujung tindakan anarkis pada Agustus lalu. Mengapa bisa terjadi? Karena mereka melihat di media sosial dan tertantang untuk turut serta.
Fear of Missing Out adalah ketakutan psikologi akan ketertinggalan atau melewatkan suatu pengalaman, aktivitas, tren, dan informasi penting yang terjadi di sekitar.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Tetapi media sosial telah menjadi katalisator utamanya, mengubahnya dari perasaan sesekali menjadi tekanan yang memengaruhi setiap keputusan seseorang.
Tingginya tingkat penggunaan media sosial di masyarakat. Terkhusus kalangan remaja mulai menjadi sorotan.
Pasalnya penggunaan media sosial yang berlebihan ternyata dapat memengaruhi remaja dalam berbagai aspek, salah satunya masalah kesehatan mental yang didasari oleh FoMO ini.
Sebagai generasi yang hidup dalam era kemajuan digital. Remaja. tentu memiliki tingkat penggunaan media sosial yang tinggi.
Mereka cenderung ingin terlihat aktif. Tak heran jika mereka ingin menunjukkan segala hal yang terjadi di kehidupannya.
Tidak hanya itu, mereka juga memiliki kecenderungan untuk selalu ingin tahu dan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang lain.
Sayangnya, kecenderungan-kecenderungan ini menimbulkan kegelisahan yang berujung pada ketakutan untuk kehilangan momen.
Pada dasarnya media sosial adalah panggung tempat orang memamerkan momen-momen terbaiknya.
Seringkali hanya melihat satu postingan sudah bisa menilai bahwa kehidupan orang tersebut sempurna, pencapaian yang mengesankan, dan pengalaman tak terlupakan.
Padahal dibaliknya ada perjalanan panjang yang melelahkan atau pertengkaran kecil. Namun, seringkali orang tak memedulikannya.
Terkadang keputusan yang didasari oleh FOMO media sosial tidak membawa kebahagiaan sejati. Sebab ketika momen tersebut berlalu, baru disadari bahwa pengorbanan yang dilakukan tidak sebanding dengan kepuasan yang didapat.
Yang tersisa hanyalah penyesalan. Karena latar belakang tindakan untuk melakukan sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya. Melainkan karena takut ketinggalan.
Salah satunya FoMO yang berujung petaka adalah aksi demonstrasi yang berujung pada tindakan anarkis di Kediri pada akhir Agustus lalu.
Para remaja yang mayoritas masih berstatus pelajar terpancing untuk ikut aksi karena melihat live di sosial media. Baik Instagram maupun TikTok.
Di usianya yang masih belia dan belum bisa membedakan mana yang baik dan buruk membuat mereka asal ikut tanpa memperhatikan dampaknya.
Apalagi platform media sosial tidak hanya menyediakan panggung bagi FoMO, tetapi juga secara aktif memanfaatkannya. Algoritma media sosial dirancang untuk membuat pengguna terus berada di platform.
Notifikasi, unggahan dari teman, dan konten yang relevan semuanya bertujuan untuk membuat mereka merasa perlu untuk terus scroll dan update.
Setiap kali melihat unggahan baru, ada dorongan untuk memeriksa apa yang sedang terjadi, karena takut ada sesuatu penting yang terlewatkan.
Sama seperti Agustus lalu di mana media sosial isinya hanya aksi demo. Yang membuat para remaja ini ingin untuk mengikuti.
Tanpa disadari media sosial juga menciptakan lingkaran validasi yang adiktif. Misalnya saja saat itu banyak unggahan terkait aksi demo dan anarkis.
Remaja yang didasari oleh FOMO akan terpacu untuk mengikuti. Sebab mereka membutuhkan validasi.
Validasi ini memberikan rasa senang dan penerimaan. Serta mendorong untuk terus mencari validasi serupa.
Sayangnya puas karena mendapatkan validasi hanyalah sementara. Ketika pihak kepolisian mulai mengamankan pelaku anarkis di bawah umur mereka takutnya bukan kepalang.
Tetapi, apa boleh buat. Sudah tidak ada lagi kata maaf. Mereka tetap harus menjalani hukuman akibat FOMO terhadap tindakan buruk yang berujung bui. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : Andhika Attar Anindita