JP Radar Kediri- Pemain naturalisasi dengan pengalaman bermain di liga luar negeri, diharapkan mampu mendongkrak prestasi Timnas Indonesia. Namun kini kondisinya berbeda, beberapa nama besar justru memilih melanjutkan karier di liga lokal.
Sepak bola Indonesia, kini sedang berada di jalur untuk menuju ke arah yang lebih baik. Tak hanya liga domestiknya, namun juga dengan Timnas Indonesia. Beberapa tahun terakhir, federasi sangat rajin melakukan naturalisasi terhadap pemain-pemain yang bermain di liga luar negeri dan memiliki darah Indonesia atau keturunan Indonesia.
Praktis, hal tersebut memang membuat Timnas Indonesia menjadi lebih baik dibanding tahun-tahun yang lalu, yang biasa disebut ‘zaman jahiliyah’ Timnas Indonesia. Alasan melakukan naturalisasi banyak pemain jelas, selain secara permainan mereka diatas rata-rata pemain lokal yang bermain di liga domestic, mereka bermain di liga luar negeri yang sencara kualitas, sangat jauh dibanding liga domestik yang ada di Indonesia, apalagi sebagian dari mereka, bermain di liga-liga yang ada di Benua Eropa.
Bahkan, beberapa pemain merupakan pemain regular di timnya yang berlaga di liga kasta tertinggi sepak bola eropa, sebut saja kapten Jay Idzes yang bermain di Serie A bersama Sassuolo, Kevin Diks bermain di Bundesliga Jerman bersama Borussia Moenchengladbach, Calvin Verdonk bersama salah satu raksasa League 1 Perancis, LOSC Lille, dan kiper Emil Audero bersama tim promosi Serie A, Cremonese. Nasib beberapa pemain lain juga cukup baik walaupun mereka bermain di kasta dua atau tiga liga di eropa.
Namun, akhir-akhir ini, ada nama-nama yang menjadi perbincangan hangat, khususnya bagi para pecinta sepak bola nasional. Nama-nama tersebut ialah Jordi Amat, Rafael Struick, Thom Haye, dan Eliano Reijnders. Sudah bukan menjadi rahasia bahwa pemain-pemain tersebut minim bermain bersama klubnya di Eropa.
Bahkan, Thom Haye sempat beberapa waktu tidak memiliki klub. Yang menjadi perhatian adalah keempat pemain tersebut kini lebih memilih melanjutkan kariernya untuk bermain di liga domestic, yaitu Super League.
Jordi Amat bergabung dengan Persija Jakarta, Rafael Struick bersama Bali United, serta Thom Haye dan Eliano Reijnders bergabung dengan juara Liga 1 musim lalu, Persib Bandung.
Pemain naturalisasi tersebut yang pada awal kedatangannya, diharapkan mampu mendongkrak prestasi Timnas Indonesia dengan pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan dengan bermain di liga-liga luar negeru yang berkualitas dan kompetitif, namun ternyata saat ini, fakta berbicara lain.
Keputusan beberapa pemain tersebut memicu perdebatan, apakah langkah yang mereka ambil dengan bermain di liga domestik menjadi langkah strategis untuk menjaga menit bermain, atau sebuah langkah mundur yang dapat merusak kualitas mereka. Jika dilihat dengan seksama, fenomena tersebut bisa diibaratkan menjadi pisau bermata dua.
Di satu sisi, keputusan mereka bergabung dengan beberapa klub di Super League memiliki alasan yang sangat kuat, yaitu menit bermain. Bisa dikatakan, menit bermain adalah salah satu ‘nyawa’ untuk seorang pemain sepak bola. Di eropa atau di liga-liga tempat sebelumnya mereka bermain, persaingan sangat ketat yang membuat mereka sulit mendapatkan tempat di tim utama.
Contohnya Thom Haye, di SC Heerenveen ia sering kali bermain tidak penuh dan bahkan sangat sulit baginya untuk bisa menembus tim utama. Pun juga ketika ia pindah ke Almere City, menit bermain yang ia dapatkan juga masih sangat terbatas.
Selain Thom, Eliano Reijnders juga demikian. Nasib adik dari bintang Manchester City, Tijjani Reijnders itu hanya memiliki menit bermain yang sedikit saat memperkuat PEC Zwolle. Jordi Amat juga demikian nasibnya.
Sedangkan Rafael Struick, saat bermain bersama ADO Den Haag, ia juga sangat kesulitan dan lebih sering menjadi pemain cadangan. Saat pindah ke Brisbane Roar di Liga Australia, ia hanya mencatatkan satu gol. Statistik yang bisa dikatakan kurang untuk pemain yang berposisi sebagai penyerang seperti Struick.
Dengan pilihannya bermain di Super League saat ini, mereka mendapatkan jaminan menit bermain untuk menjaga kepercayaan diri dan performa mereka, termasuk juga kontribusinya ketika dibutuhkan oleh Timnas Indonesia.
Pemain yang jarang memiliki menit bermain, cenderung kehilangan sentuhan bolanya, menurunnya ritme permainan mereka yang tentunya akan berdampak buruk saat mereka membela Timnas Indonesia.
Kehadiran mereka di Super League tentunya bisa saja berdampak baik, khususnya bagi pemain lokal. Kehadiran mereka bukann hanya membawa kualitas teknis, namun juga profesionalisme dalam bekerja yang diharapkan bisa menginspirasi pemain lokal.
Standar latihan mereka di liga sebelumnya yang penuh dengan kedisplinan dan mental yang kuat dapat mendorong kualitas liga domestik menjadi naik kelas. Namun di sisi lain, keputusan mereka bukannya tanpa risiko.
Super League walaupun kini telah berkembang, standarnya masih jauh dari liga-liga Eropa. Intensitas pertandingan, kualitas klub peserta, hingga fasilitas masih jauh dibawah standar liga-liga Eropa, bahkan fasilitasnya sering menjadi kritikan banyak pihak.
Melihat keputusan mereka, jelas ada kekhawatiran akan kualitas mereka yang akan menurun, ibarat sebuah pisau yang akan tumpul jika tidak diasah dengan baik dan rutin. Jika kekhawatiran tersebut terjadi, lagi-lagi yang akan dirugikan ya Timnas Indonesia. Timnas akan sulit bersaing baik di level Asia maupun level yang lebih tinggi.
Pada ujungnya, keputusan mereka bermain di Super League adalah gambaran dari sebuah realitas antara ambisi besar dan kebutuhan mereka, yaitu akan menit bermain. Langkah mereka bisa saja menjadi batu loncatan, asal bermain di Super League tidak menjadi tujuan akhir mereka sebelum pension. Pemain-pemain tersebut harus terus menjaga standar mereka walaupun bermain di liga yang sebenarnya memiliki standar dibawah mereka. (Penulis adalah Wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : Andhika Attar Anindita