Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Maling Main Domino

Anwar Bahar Basalamah • Minggu, 14 September 2025 | 04:15 WIB
Ilustrasi Main Domino
Ilustrasi Main Domino

Pak Lurah Kambali murka. Untuk pertama kalinya, Desa Geyol, kampung yang dipimpinnya kemalingan. Ronda siskamling sudah diaktifkan. Patroli rutin tidak henti-hentinya digalakkan. Bahkan, di setiap ujung jalan, Pak Lurah Kambali sudah memasanginya dengan CCTV. Tapi, kampung ini tetap saja kecolongan di Senin malam lalu.

Kebobolan itu sama saja mencoreng kepemimpinannya sebagai lurah. Lebih-lebih, di masa kampanye pemilihan lurah, Pak Lurah Kambali dengan tegas berkomitmen untuk membuat kampung ini bebas dari maling alias zero crime.

Maka, untuk mengusut kealpaan ini, Pak Lurah Kambali memanggil dua orang yang mendapat tugas ronda di malam itu. Lek No dan Dirjo segera menghadap Pak Lurah Kambali di balai kampung siang ini.

Keduanya dimintai pertanggungjawaban atas kecerobohan menjaga kampung ini dari pencurian. Pak Lurah Kambali sampai heran kenapa masih ada maling yang membobol rumah Pak Gib meski sudah ada program ronda malam saban harinya.

Untuk mengurai masalah ini, Pak Lurah Kambali menginterogasi Lek No dan Dirjo di ruang kerjanya. Dia sudah menyiapkan beragam pertanyaan kepada dua orang ini yang lalai saat berjaga.

Dari laporan yang diterima timnya di lapangan, Pak Lurah Kambali menaruh prasangka terhadap Lek No dan Dirjo melakukan kongkalikong dengan maling yang beraksi di rumah Pak Gib. Berdasar laporan itu, keduanya sempat mengobrol dan bermain domino dengan seorang pria di pos ronda yang diduga pria itu adalah malingnya.

"Kenapa sampai kecolongan?"

Pertanyaan pertama Pak Lurah kepada Lek No dan Dirjo yang duduk di depannya. Mimik serius yang terpampang dari wajah Pak Lurah Kambali membuat Lek No gelagapan saat menjawabnya.

"Sa.. sa.. saya juga kurang tahu Pak Lurah. Ma.. ma.. maafkan saya Pak."

Sementara Dirjo lebih rileks menjawab pertanyaan Pak Lurah Kambali.

"Padahal saya dan Lek No sudah berpatroli loh Pak Lurah. Tapi kok masih kemalingan rumah Pak Gib."

Pak Lurah Kambali seperti kurang puas dengan jawaban Lek No dan Dirjo. Ketika mereka diberi tanggung jawab untuk menjaga pos ronda, seharusnya tidak ada maling yang menjamah kampung ini.

Untuk memperdalam penyelidikan, Pak Lurah Kambali terus mencecar Lek No dan Dirjo dengan pertanyaan yang menyudutkan. Terutama soal dugaan maling itu sempat bermain domino dengan keduanya di pos ronda.

"Apakah benar Lek, ada seorang pria yang bermain domino dengan kalian berdua di pos ronda?"

"Itu memang benar, Pak Lurah."

"Iya Pak Lurah," kata Dirjo menambahi.

"Siapa pria itu?" tanya Pak Lurah Kambali lagi.

"Kalau saya tidak kenal, Pak Lurah. Dirjo yang kenal, Pak."

Sebelum pertanyaan itu dijawab oleh Dirjo, Pak Lurah Kambali lagi-lagi melontarkan pertanyaan tambahan.

"Kalau tidak kenal Lek, kenapa tetap mau main domino dengan pria itu?"

"Ehh... ehhh.. ehhh.. Saya juga bingung Pak mau jawab apa," kata Lek No terbata-bata.

"Kalau kamu, Jo?". Pak Lurah kemudian mengarahkan pertanyaan soal alasan main domino dengan pria tak dikenal kepada Dirjo.

"Saya memang tidak kenal dekat Pak. Tapi saya tahu pria itu."

"Siapa pria itu, Jo?"

"Namanya Ajis, Pak Lurah."

"Siapa Ajis itu? Apakah dia pernah punya catatan kriminal?". Pak Lurah Kambali memberondong Dirjo dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam.

"Sebenarnya dulu dia pernah dipenjara dalam kasus pencurian kayu, Pak Lurah. Tapi sudah bebas."

"Iya Pak Lurah. Makanya, kami tidak curiga dengan gelagatnya," kata Lek No menyambar jawaban Dirjo.

"Bener Pak Lurah. Kami cuma main domino saja, Pak Lurah. Tidak lebih," kata Dirjo.

"Kami main tujuh putaran, Pak. Setelah itu selesai. Kami juga bercanda sepanjang bermain domino. Tidak ada hal yang mencurigakan sama sekali," kata Lek No.

"Setelah tujuh putaran, ke mana pria itu pergi, Lek?"

"Nah itu yang kami tidak tahu Pak. Pamitnya sih langsung pulang, Pak."

"Tapi, kalian tahu kan ke mana pria itu setelah main domino dengan kalian?"

"Katanya, mencuri di rumah Pak Gib, Pak Lurah," kata Lek No sambil menundukkan wajahnya.

"Di momen itu yang kami luput Pak Lurah," kata Dirjo.

"Nah itu dia. Dari laporan yang saya terima, pria itu mengobok-obok rumah Pak Gib," kata Pak Lurah Kambali.

"Waduh."

Lek No sepertinya benar-benar menyesal dengan kejadian itu. Seharusnya, dia bisa menangkap maling itu saat main domino bersama di pos ronda. Sayang, pria itu lebih lihai mengelabuinya dan Dirjo.

Dengan tulus, Lek No kemudian memohon maaf kepada Pak Lurah Kambali dan warga di kampung ini. Ke depan, dia berjanji lebih disiplin saat berjaga di pos ronda. Lek No tak mau kecolongan kedua kalinya.

Bersama Dirjo, Lek No menulis surat pernyataan tidak terlibat persengkokolan dengan pria bernama Ajis yang telah menggarong di rumah Pak Gib.

Tapi, yang bikin heran, kenapa pria itu bisa dengan mudah membobol rumah Pak Gib yang selalu dijaga rapat oleh penjaganya. Apalagi, maling itu bisa menggondol kursi kayu jati milik Pak Gib.

Warga di kampung ini tahu, kursi kayu jati itu punya harga setinggi langit. Tapi, yang mereka juga tahu, kursi itu sangat berat jika harus dibopong sendirian. Sangat tidak mungkin pria itu mengangkut kursi itu tanpa bantuan orang lain.

"Jangan-jangan. Ah sudahlah."

Lek No cuma bisa bergumam dan mencurigai keterlibatan orang dalam.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#opini #siskamling #pak lurah #pencurian #Lek No