Baru saja ditinggal ke luar kota selama dua hari, Pak Gib sudah kena musibah. Rumahnya di kampung ini dijarah habis-habisan oleh orang-orang yang katanya suruhan pengusaha kaya raya. Seluruh isinya ludes tak tersisa.
Barang-barang printilan sampai yang mewah dan mahal, raib dari singgasananya. Melihat rumahnya yang sudah kosong melompong, Pak Gib tak hanya meratapi. Dia segera bertindak agar barang jarahan itu dikembalikan ke Pak Gib selaku pemiliknya.
Pertama-tama, Pak Gib melaporkan kejadian menyayat hati itu pada Pak Lurah Kambali. Lewat Pak Lurah Kambali, Pak Gib berharap pelakunya ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
Menurut Pak Gib, tak ada toleransi sama sekali bagi pelaku penjarahan. Menjarah itu mengambil yang bukan haknya, kata dia. Maka, penjarahan itu bisa disamakan dengan korupsi. Dosanya besar. Siksanya juga pedih.
Dalam laporannya kepada Pak Lurah Kambali, Pak Gib juga mengutarakan dalang penjarahan yang patut dicurigai. Dia menduga massa yang memoloroti perabot rumahnya telah dimobilisasi seseorang.
Satu orang yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa ini menurut Pak Gib adalah pengusaha martabak nan kaya dari kampung sebelah. Pak Gib menengarai pengusaha itu sirik dengan kemajuan usaha martabaknya yang terus tumbuh dan berkembang.
Untuk menesuluri benang kusut penjarahan ini dan mencokok dalangnya, Pak Gib menemui Pak Lurah Kambali di balai kampung.
"Saya tahu dalang penjarahan di rumah saya, Pak Lurah."
"Loh loh loh.. gimana sampean bisa tahu Pak Gib?" tanya Pak Lurah sembari menyeruput kopi hitamnya.
"Sudah pasti dia orangnya. Selama ini, dia yang selalu memusuhi saya karena usaha martabak saya," tuduh Pak Gib dengan percaya diri.
"Sebentar Pak Gib. Sampean tidak boleh nuduh orang sembarangan loh kalau belum ada bukti."
"Terus siapa lagi kalau bukan dia, Pak Lurah?"
"Memangnya sampean ada bukti?"
"Belum sih Pak."
"Jangan sembrono dulu Pak Gib."
"Saya harus bagaimana Pak Lurah? Barang-barang di rumah saya ludes semua," kata Pak Gib sambil terisak.
"Usul saya, kita buat woro-woro agar penjarah mengembalikan barang-barang jarahan ke rumah sampean. Kalau tidak dikembalikan, kita lapor polisi."
Saran Pak Lurah Kambali sungguh brilian. Tanpa pikir panjang, Pak Gib lekas membikin selebaran yang disebar di WA grup, rumah-rumah warga dan media sosial.
"HIMBAUAN!!! SEGERA KEMBALIKAN BARANG HASIL JARAHAN. JIKA TIDAK, KALIAN DIPENJARA"
Isi pengumuman itu secepat kilat tersampaikan kepada orang-orang di kampung ini dan kampung sebelah. Lek No yang terpapar dengan pesannya langsung tergerak untuk membantu Pak Gib menyelesaikan masalahnya.
Lek No dan Pak Lurah Kambali menunggui para penjarah itu di rumah Pak Gib. Menjelang sore, satu orang datang dengan menenteng tivi tabung dan mengatakan mengembalikan barang jarahan.
Orang kedua kemudian menyusul sambil membopong kipas angin warna merah jambu. Menurut Pak Gib, itu adalah kipas angin kesayangan Bu Gib.
"Alhamdulillah kipas angin merah jambu sudah kembali," kata Pak Gib semringah.
Tidak berselang lama, seorang laki-laki bertubuh tambun berjalan menunduk sambil menggamit lukisan mawar. Katanya khilaf setelah menjarah rumah Pak Gib. Akhirnya pria ini memutuskan untuk mengembalikan lukisan hasil karya Pak Gib ketika masih duduk di bangku SMK itu.
Satu per satu penjarah memulangkan barang jarahan mereka. Kulkas, sepeda ontel, laptop, kursi rotan, meja lipat, sepatu bermerek, kelambu, gerobak martabak, gayung sampai odol telah kembali pada tuannya.
Lek No yang bertugas mencatat barang-barang jarahan yang dikembalikan, mulai menghitung jumlahnya.
"Total ada 414 barang yang sudah dipulangkan, Pak Gib."
"Waduh."
"Waduh, kenapa Pak Gib?" tanya Lek No.
"Masih kurang Lek."
"Kurang berapa, Pak Gib?"
"Sebenarnya ada dua Lek. Tapi satu lagi adalah kucing anggora saya Lek."
"Satunya apa Pak Gib?"
"Patung Iron Man, Lek."
"Hihihihi.."
Lek No tak kuasa menahan tawa setelah patung Iron Man ikut lenyap.
"Jangan ketawa Lek!"
"Maaa.. maaf maaf Pak Gib."
"Itu patung kesayangan saya Lek."
"Iya Pak Gib. Terus apa kita tunggu sampai patung itu kembali?"
"Harus Lek."
Sembari menunggu kembalinya patung Iron Man, sebenarnya setiap orang yang mengembalikan barang jarahan itu diinterogasi Pak Lurah Kambali dan Pak Gib.
Keduanya menanyakan kepada para penjarah, siapa sebenarnya dalang penjarahan itu. Ternyata, dari orang pertama sampai orang keempat ratus empat belas, mereka kompak menjawab dalangnya adalah Pak T.
Inisial nama itu tentu saja menggugurkan tuduhan Pak Gib kepada pengusaha martabak kaya raya dari kampung sebelah. Kata Pak Gib, orang yang dimaksud bernama Wondo. Sementara dalang penjarahan berinisial Pak T.
Pak Gib terus mengingat-ingat siapa saja orang yang membecinya selain Pak Wondo. Teddy, Tito, Tikno dan Thohir adalah beberapa nama teman Pak Gib yang menurutnya tidak mungkin melakukannya.
"Tidak mungkin. Mereka semua orang baik," gumam Pak Gib.
Lalu, siapa sebenarnya aktor intelektual penjarahan di rumah Pak Gib? Yang pasti, menurut analisa Pak Gib, orang ini sangat lihai, terlatih, punya beking kuat dan hobi mengoleksi patung.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah