Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Atas Nama Media Sosial

Ayu Ismawati • Jumat, 5 September 2025 | 04:30 WIB

 

brave pink hero green
brave pink hero green

Gelombang aksi demonstrasi yang terjadi di banyak daerah di Indonesia beberapa hari terakhir tak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial.

Tak bisa dipungkiri, media sosial mampu menjadi motor gerakan sosial yang masif. Bahkan, pengaruhnya dengan cepat meluas hingga mampu memobilisasi massa dalam waktu yang singkat.

Dinamika aksi demonstrasi yang terjadi di Indonesia telah membuka mata banyak orang. Tak terkecuali dari luar negeri. Gelombang aksi besar-besaran ini pecah salah satunya dipicu dari aksi arogansi aparat yang sampai merenggut nyawa seorang pengemudi ojek online (ojol).

Belum lagi di tengah gelombang protes rakyat, anggota DPR justru berulah dengan bertutur dan bersikap yang juga mencerminkan arogansi dan nirempati pejabat publik.

Di balik kekacauan di ruas-ruas jalan di sejumlah daerah, media sosial tak kalah sibuk. Termasuk munculnya fenomena warga dari luar negeri yang memesan makanan melalui layanan pesan online untuk diberikan kepada pengemudi-pengemudi ojol dan masyarakat yang turun ke jalan. Tren itu ramai di platform media sosial X (sebelumnya Twitter).

Dimulai dari akun X dengan username @sighyam, akun warga Thailand, yang mengunggah dirinya memesan makanan melalui Grab. Di situ, dia ingin mendukung para pengemudi ojek online yang masih berjuang di jalan di tengah situasi yang tak kondusif. Tak hanya makanan, gelombang bantuan dari warganet luar negeri itu juga diberikan dalam bentuk obat-obatan.

Dengan kekuatan media sosial, unggahan itu dengan cepat viral di X. Hingga Selasa malam (2/9), unggahan itu sudah dilihat lebih dari 59 juta kali dan disukai 147 ribu akun.

Serta, diunggah ulang oleh lebih dari 74 ribu pengguna X. Banyak yang kemudian mengikuti dengan aksi serupa. Khususnya mereka yang berada di negara-negara Asia Tenggara.

Tren itu seiring dengan narasi yang juga digaungkan pengguna media sosial. Dengan tagar “warga bantu warga”, banyak aksi humanis yang justru ditunjukkan masyarakat.

Hal itu tentu menjadi oasis di tengah maraknya aksi pengrusakan yang dilakukan oknum tak bertanggung jawab. Pun dengan adanya oknum-oknum yang sengaja memprovokasi, yang tujuannya membuat aksi demonstrasi itu melenceng dari jalurnya.

Juga ramai di media sosial, sekelompok warga yang bertempat tinggal di dekat gedung DPR RI. Saat aksi pecah, warga justru berinisiatif menyiapkan makanan untuk mahasiswa-mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan. Bisa dibilang, mereka juga ikut berjuang membantu menyuarakan hak rakyat. Namun dengan cara mereka masing-masing.

Dalam setiap peristiwa besar, media sosial tak hanya menjadi salah satu saluran dalam menyampaikan informasi terkini. Melainkan juga sarana penggerak massa yang efektif. Kemampuan media sosial dalam memobilisasi massa dengan cepat tak bisa diragukan lagi. Termasuk dalam aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di beberapa daerah.

Meski demonstrasi secara “fisik” sudah banyak diredam di beberapa daerah, namun gerakan sosial itu justru kian masif di media sosial. Seperti contoh, banyak pengguna media sosial seperti Instagram dan X yang menambahkan unsur warna pink atau merah muda dan hijau.

Dua warna itu disebut dengan “Brave Pink”; simbol perjuangan dari aksi seorang ibu berjilbab pink yang dengan berani ikut aksi dengan turun ke jalan. Serta “Hero Green”; simbolis solidaritas atas meninggalnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri saat terjebak di lautan demonstran usai mengantarkan pesanan makanan.

Simbol itu menjadi bukti bahwa gerakan sosial yang dilakukan melalui media sosial itu tak berhenti. Upaya menyuarakan keadilan dan hak-hak rakyat itu tetap hidup meski dalam keterbatasan di ruang maya.

Meski nampak sepele, namun gerakan sosial ini justru punya dampak yang lebih luas imbas jaringan sosial yang terbangun di dalamnya. Menjadikan media sosial sebagai raja terakhir dalam langkah mengawal demokrasi di muka umum. (Penulis adalah Wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Andhika Attar Anindita
#hero green #brave pink #opini