Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Nemu Duit Lima Puluh Juta

Anwar Bahar Basalamah • Minggu, 24 Agustus 2025 | 22:09 WIB
Ilustrasi Orang menemukan Uang
Ilustrasi Orang menemukan Uang

Berkat kejujurannya, Lek No yang baru saja nemu duit lima puluh juta akhirnya berhak memiliki uang segepok itu.

Loh kok bisa? Begini ceritanya.

Lek No mengaku tak bermimpi sama sekali malam harinya. Usai Subuhan, dia langsung beberes untuk menyiapkan dagangan sayur yang akan dibawa ke pasar. Setiap hari seperti itu rutinitasnya.

Dengan mengayuh sepeda ontelnya yang sudah uzur, Lek No membawa dagangan itu menuju pasar. Dari rumahnya, kira-kira jaraknya empat kilometer.

Selama bertahun-tahun menjalani kebiasaan itu, Lek No belum pernah menemukan benda-benda berharga atau uang di jalan yang dilewatinya setiap hari. Kalaupun menjumpai sesuatu, Lek No hanya menemui batu kerikil yang menghambat laju sepedanya.

Tapi, di pagi itu, keberuntungan sepertinya berpihak padanya. Setelah menyeberangi jembatan, Lek No menatap sebuah tas ransel warna hitam tergeletak di pinggir jalan.

Lek No berhenti. Karena penasaran dengan isinya, dia membuka tas yang masih kinyis-kinyis itu.

Alamak! Alangkah terkejutnya Lek No setelah mengetahui isinya. Ternyata di dalam tas itu, ada uang dengan pecahan seratus ribu yang diikat sampai bergepok-gepok.

Lek No tak tahu jumlahnya. Dia juga tak ingin menghitung nominal duit di dalam tas. Intinya banyak. Dan, sebelum ini dia tidak pernah melihat uang sebanyak itu.

Dengan uang itu, Lek No tahu apa yang harus dilakukan. Dia segera melaporkan penemuan uang kepada Pak Lurah Kambali.

"Loh.. loh.. loh... Ini uang dari mana, Lek?" tanya Pak Lurah Kambali begitu Lek No menyerahkan tas ransel warna hitam.

"Kalau saya tahu, tidak mungkin saya laporan ke sampean, Pak Lurah."

"Maksud saya, kok bisa ada uang sebanyak ini ada di pinggir jalan," kata Pak Lurah Kambali mencoba meluruskan.

"Saya juga heran, Pak."

"Baiklah Lek. Saya akan segera umumkan ke warga kampung. Siapa tahu, ada salah satu dari mereka yang kehilangan uang ini."

"Siap Pak Lurah."

Lek No sungguh orang yang jujur. Padahal kalau mau, dia tidak perlu melaporkannya. Lek No bisa memiliki uang itu tanpa sepengetahuan orang lain.

Apalagi, zaman sekarang lagi susah. Pajak terus naik setiap tahunnya. Lek No pun menyadari ekonomi keluarganya sangat pas-pasan.

Jika uang itu dipunyai, dia tidak perlu susah-susah banting tulang untuk membeli beras, gula serta memenuhi kebutuhan susu dan popok anaknya, Danantara Mugi Langgeng.

Lebih-lebih, setelah dihitung bersama Pak Lurah dan pamong lain, uang dalam ransel warna hitam yang ditemukan Lek No ternyata berjumlah lima puluh juta rupiah.

Tetapi, Lek No lebih mengikuti kata hatinya yang paling dalam. Jika sebenarnya uang itu bukan hasil kerja kerasnya.

Dalam batinnya, siapa tahu uang itu akan dipakai untuk berobat oleh yang punya. Jangan-jangan pula, duit lima puluh juta itu merupakan hasil menabung bertahun-tahun. Atau bisa jadi, duit sebanyak itu mau digunakan untuk membayar utang.

Segala kemungkinan sangat mungkin terjadi. Dengan terus berprasangka baik, Lek No menjadi lebih ikhlas tidak menguasai uang lima puluh juta itu.

"Kita sudah umumkan ke semua warga kampung ini, Lek."

"Hasilnya gimana Pak Lurah?"

"Tak ada satu pun yang merasa kehilangan, Lek."

"Terus kesimpulannya Pak Lurah?

"Berarti sampean yang berhak dengan uang itu."

"Kok bisa gitu Pak Lurah?" tanya Lek No heran meski dalam hatinya sedang berbunga-bunga."

"Saya sudah rembukan dengan pamong lain dan minta pertimbangan Pak Babin juga, Lek. Jadi, setelah diputuskan dan mereka jadi saksinya, sampean boleh bawa pulang uang ini."

"Ini beneran, Pak Lurah?"

"Iya Lek bener."

"Waduh terima kasih loh Pak Lurah."

"Iya Lek. Tolong uangnya dipakai sebaik-baiknya, Lek. Jangan langsung dihabiskan. Ditabung kalau bisa," pesan Pak Lurah sambil menepuk pundak Lek No berkali-kali.

"Siapp Pak Lurah."

Lek No pulang ke rumahnya dengan membawa pulang uang di dalam tas ransel hitam. Hatinya gembira. Lek Ni, istrinya yang mendengar cerita itu juga ikut senang. Dan yang paling membuat mereka bahagia adalah bukan hanya nominalnya yang besar, tapi cara memperolehnya.

Meski bukan hasil keringat sendiri, Lek No merasa uang lima puluh juta itu adalah rezekinya. Dia sudah berusaha melaporkan agar uang itu kembali kepada si empunya. Tapi, Tuhan punya kehendak lain.

"Ini rezeki kita, Mak," kata Lek No kepada Lek Ni.

"Iya Pak, alhamdulilah. Ini namanya rezeki tidak ke mana Pak."

"Betul Mak."

Lek No dan Lek Ni tidak putus mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa. Hanya dalam tempo singkat, mereka bisa mendapatkan uang sampai puluhan juta.

Sedangkan, dengan hanya menjadi pedagang sayur di pasar, Lek No membutuhkan nabung bertahun-tahun untuk bisa mengumpulkan uang tak sampai lima juta.

Pak Lurah Kambali yang mengambil kebijakan itu tak luput dari rasa sukacita. Pak Lurah Kambali menganggap punya andil memakmurkan keluarga Lek No. Hingga suatu hari, anggapan itu buyar seketika.

Pak Lurah Kambali menerima laporan bahwa uang lima puluh juta itu ada pemiliknya. Saat ini, sang pemilik uang sedang menagih agar uangnya kembali lagi.

Dengan berat hati, Pak Lurah Kambali akhirnya mencabut keputusannya. Dia kemudian menemui Lek No di rumahnya untuk meminta uang lima puluh juta itu lagi.

"Lek, ternyata uang itu ada yang memiliki."

"Loh."

"Iya Lek. Sekarang orangnya sedang menunggu di balai kampung."

"Siapa pemiliknya, Pak Lurah?"

"Wakil Rakyat di pusat, Lek."

"Waduh."

"Jadi kedatangan saya ke sini untuk mengambil uang itu, Lek."

"Sudah habis uangnya, Pak."

"Sudah habis, Lek?"

"Iya sudah habis, Pak."

"Kok bisa uang segitu banyaknya habis dalam seminggu, Lek?" tanya Pak Lurah keheranan.

"Kata Mak e (Lek Ni), duit yang bukan hasil kerja keras kita sendiri harus segera dibelanjakan, Pak. Ya akhirnya saya habiskan, Pak Lurah."

"Waduhhh. Mati aku Lek."

"Kenapa Pak Lurah?"

"Itu kan uang Wakil Rakyat. Katanya, itu uang tunjangan perumahan, Lek. "

"Bagi Wakil Rakyat, uang segitu kan nggak banyak, Pak Lurah."

"Waduhh. Terus uangnya buat beli apa aja, Lek?"

"Ini Pak Lurah."

Di depan Pak Lurah Kambali, Lek No memperlihatkan daftar belanja yang diambil dari uang lima puluh juta itu.

Berikut catatan belanja Lek No: beras 50 kilogram, kebutuhan Danantara Mugi Langgeng, renovasi rumah, uang bayar listrik, bayar pajak dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Setelah melihat rinciannya, Pak Lurah Kambali Lek No sudah menghabiskan sampai empat puluh juta. Artinya masih ada sisa sepuluh juta.

"Terus yang sepuluh juta ke mana, Lek?"

"Saya sumbangkan ke panti asuhan, Pak. Masak harus dicatat juga, Pak?"

Dengan raut wajah ketakutan, Pak Lurah Kambali akhirnya melapor kembali pada Wakil Rakyat bahwa uangnya sudah tak tersisa di tangan Lek No.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#opini #nemu duit lima puluh juta #Lek No #nemu duit