Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Beli Martabak, Gratis Nonton Wan For All

Anwar Bahar Basalamah • Selasa, 19 Agustus 2025 | 17:21 WIB
Photo
Photo

Pak Gib, orang terpandang di kampung ini berkat jualan martabak sedang melakukan promo penting untuk martabaknya.

Selama bulan kemerdekaan ini, siapa saja yang membeli martabaknya sampai dua boks, bakal dapat tiket nonton film Wan For All di bioskop.

Pak Gib menyadari betul, salah satu kunci kesuksesannya berjualan martabak adalah gencar berpromo dan hobi berbagi terhadap sesama.

Seperti tahun lalu, di bulan yang sama, Pak Gib melakukan promo dengan menggratiskan martabaknya untuk orang yang bernama Agus.

INFORMASI PENDAFTARAN KOMPETISI KOMPETENSI AKADEMIK 2025

Apa itu kompetisi kempetensi akademik? Baca di sini

Daftar di link berikut: https://rkomnibus.com/

Contac person: 0813-3563-2111 (heri)

Di edisi Lebaran kemarin, Pak Gib mengajak anak panti asuhan untuk menonton film Jumbo. Sebagai bentuk promonya, setelah pulang nonton, anak-anak itu dibagikan martabak mini rasa cokelat.

Dari promo yang sudah dilakukan, jumlah penjualan martabak mini rasa cokelatnya itu meledak di pasaran. Pak Gib sampai kewalahan melayani pembelinya yang berbondong-bondong meramaikan lapak jualannya.

Entah kebetulan atau tidak, film Jumbo yang ditonton ternyata menembus rekor hingga 10 juta penonton. Sepertinya strategi marketing Pak Gib membawa hoki. Hoki untuk dagangannya, juga nasib baik bagi film-film yang dipilih sebagai target promo martabaknya.

Ingin mengulang keberhasilan promo lewat film, Pak Gib tidak menyia-nyiakan peluang ini pergi begitu saja. Maka, dengan pertimbangan yang matang, Pak Gib memilih film Wan For All untuk siasat bisnisnya kali ini.

Kenapa harus Wan For All? Pak Gib menilai, genre film itu tidak jauh berbeda dengan Jumbo. Apalagi, garis cerita Wan For All masih berhubungan dengan nasionalisme.

"Jadi film ini layak tonton dan anak-anak maupun orang dewasa juga pasti suka," gumam Pak Gib ketika memutuskan promo untuk martabaknya yang bertepatan dengan hari Kemerdekaan.

Pak ib kemudian mengumumkan kepada seluruh warga di kampung ini tentang promo martabaknya. Dia membagikan materi promo itu di grup WA.

Pak Gib juga menitipkan selebaran-selebaran pada Pak Lurah Kambali agar ditempel di papan pengumuman balai kampung. Tak lupa, Pak Gib juga menyasar market anak-anak dengan mendatangi mereka langsung di sekolah-sekolah.

"Beli dua boks martabak, gratis nonton film Wan For All," kata Pak Gib ketika membagikan brosur itu kepada anak-anak sekolah.

Gusyon, anak Pak Mukhol dan Bu Timuk, tertarik dengan promo itu. Kepada orangtuanya, dia meminta untuk dibelikan martabak dua boks.

Gendis, anak wedoknya Jeng Enol juga langsung kalap begitu membaca syarat dan ketentuan di dalam brosur. Tanpa ragu, Gendis langsung merengek kepada emaknya agar bisa memesan dua boks martabak.

Lek No, yang mendengar informasi promo dari Pak Lurah Kambali lebih berminat untuk menonton filmnya daripada martabak Pak Gib.

"Emang jitu Pak Gib. Saya yang tidak suka martabak malah pengin beli gara-gara promo ini," kata Lek No.

Ketiganya dengan alasan masing-masing akhirnya terbius dengan promo yang dilakukan Pak Gib. Gusyon dan Gendis membeli dua boks, sedangkan Lek No memborong empat boks martabak.

"Pak Gib, saya langsung beli empat boks. Satu tiket untuk saya, satu lagi untuk istri,"kata Lek No.

"Wah.. tumben mau beli martabak, Lek. Hehehehe."

"Itu semua gara-gara promonya sampean."

"Memang kenapa dengan promo martabak saya, Lek."

"Saya penasaran dengan film Wan For All, Pak Gib."

"Wah gitu ya. Hehehe,"

"Sampean memang jitu, Pak Gib."

"Ah biasa saja, Lek. Hanya pengulangan seperti film Jumbo."

"Memang filmnya bagus, Pak Gib?"

"Sampean harus nonton langsung, Lek. Setelah itu silakan dinilai."

"Pak Gib sudah nonton?"

"Belum Lek. Tapi, katanya film Wan For All soal nasionalisme, Lek. Ini bagus untuk kita tonton, Lek."

"Iya Pak Gib,"

Dengan hati riang, Lek No sudah mengantongi dua tiket film Wan For All. Akhirnya Lek No dan Lek Ni, istrinya bisa menyambangi bioskop untuk kali pertama.

"Biasanya kita cuma nonton layar tancap, Mak," kata Lek No kepada istrinya.

"Iya Pak. Matur nuwun loh Pak tiketnya."

"Iya Mak. Semoga filmnya bagus ya."

Tak terasa selama 90 menit lebih, Lek No bersama Lek Ni berada di studio bioskop menyaksikan film Wan For All. Tak ada tanda semringah dari wajah Lek No maupun Lek Ni begitu keluar dari studio. Yang terlihat justru muka kisut dan kusut.

Kepada orang-orang kampung, Lek No menceritakan pengalaman pahitnya menonton film Wan For All. Meski bukan penggemar film sejati, tapi dia bisa menilai film itu bagus atau tidak. Apalagi mengenai jalan ceritanya.

Kata Lek No, film animasi itu menceritakan seorang bocah bernama Wawan atau dipanggil Wan yang memimpin pencarian bendera merah-putih.

Bendera merah-putih yang akan dipakai untuk upacara Kemerdekaan itu hilang di gudang penyimpanan. Wan yang diberi tugas menjadi pengibar bendera bertanggung jawab untuk menemukannya.

Wan dibantu lima kawannya kemudian terjun untuk mencari bendera yang lenyap dari pandangan mata. Mereka pergi ke hutan, menyusuri sungai, menerjang badai, dan menghadapi binatang-binatang buas yang mereka jumpai.

Selama satu hari penuh, Wan dan kawannya sudah menelusuri semua tempat yang memungkinkan di mana bendera itu raib. Tapi, hingga filmnya usai, bendera itu tak juga ditemukan.

"Terus endingnya gimana, Lek?" tanya beberapa warga di kampung ini penasaran.

"Endingnya Wan bunuh diri. Katanya, bendera merah-putih lebih penting dari nyawanya."

"Terus Wan dikenang sebagai pahlawan, Lek?"

"Wan kemudian jadi arwah penasaran."

"Akhirnya, Lek?"

"Wan jadi sakti dan bisa menemukan bendera merah-putih itu dengan kekuatannya."

"Memang bendara merah-putih itu hilang di mana, Lek?"

"Di gudang penyimpanan."

"Loh bukannya sudah dicari Lek?"

"Bendera merah-putih terselip di bawah lemari."

"Owalah..."

"Jadi sebenarnya tidak hilang, Lek? Hanya terselip?"

"Betul. Tapi endingnya masih belum loh."

"Endingnya gimana, Lek?"

"Arwah Wan jadi pengibar bendera merah-putih."

"Duhhhh..."

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#bioskop #martabak #anak #panti asuhan #gratis #jualan #nonton