Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kembali ke Era 1990-an di Era Digital

Emilia Susanti • Selasa, 12 Agustus 2025 | 01:37 WIB
Kembali ke Era 1990-an di Era Digital
Kembali ke Era 1990-an di Era Digital

Teknologi telah berkembang pesat. Tak hanya dalam dunia komunikasi saja. Namun juga dalam kegiatan hiburan seperti mendengarkan musik.

Hanya berbekal kuota internet atau Wireless Fidelity (Wifi), seseorang bisa mendengarkan lagu melalui aplikasi musik seperti Youtube dan Spotify.

Sudah tak heran lagi melihat seseorang mendengarkan musik dengan alat pendengar seperti headset. Uniknya, sudah tidak ada kabel lagi sebagai penghubungnya. Melalui koneksi bluetooth, headset sudah bisa terhubung dengan suatu perangkat misalnya gawai.

Menariknya lagi, seseorang bisa memutar musik favoritnya di mana saja dan kapan saja. Bahkan mereka bisa membuat playlist sendiri-sendiri. Memilih judul-judul lagu favoritnya untuk didengarkan secara bergantian. Tak peduli itu lagu Indonesia, Korea, Thailand, Inggris, Amerika. dan sebagainya.

Selanjutnya, platform musik kini pun beragam. Yang populer ada Spotify dan Youtube. Namun masih ada banyak platform lainnya sperti JOOX, Apple Music, Soundcloud, Amazon Music, Tunein, dan masih banyak lagi.

Namun demikian, seseorang tetap dihadapkan pada pilihan untuk menikmati musik dengan cara membayar atau gratis. Istilahnya berlangganan atau tidak. Jika berlangganan, seseorang bisa mendengarkan musik tanpa adanya gangguan iklan.

Saat tak ada koneksi internet, musik tetap bisa diputar. Biasanya, fitur seperti lirik juga bisa dinikmati di semua lagu. Tak kalah penting, seseorang bisa mengurutkan sendiri judul-judul lagu yang ingin diputar.

Langganan ini pun sifatnya beragam. Ada yang satu bulan, tiga bulan, juga satu tahun. Intinya, seseorang mendapat kebebasan untuk memilih. Kalaupun memilih untuk tidak berlangganan, musik tetap bisa diperdengarkan. Hanya saja, ada fitur-fitur yang tidak bisa dinikmati. Mau tak mau, tayangan iklan akan menjadi pewarna di saat mendengarkan lagu favorit.

Anehnya, ditengah kemajuan dunia musik saat ini, ada sekelompok anak muda yang kembali memburu tape dan kaset. Sebuah cara lama untuk mendengarkan musik di era 1990-an. Sekelompok anak muda ini tidak lain adalah mereka yang berlabel generasi Z (gen Z).

Ternyata, gen Z memiliki alasan tersendiri menganai hal itu. Selain karena menyukai gaya retro, ada beberapa pertimbangan realistis lainnya. Salah satunya adalah lelah terus berlangganan.

Pasalnya, bila membeli kaset dan tape, mereka bisa mendengarkan lagu-lagu tersebut untuk selamanya. Artinya, mereka hanya perlu mengeluarkan uang sekali untuk bisa mendengarkan lagu dalam jangka waktu yang lebih lama. Kalaupun sudah tidak memerlukan lagi, mereka bisa menjualnya lagi.

Selanjutnya, kelebihan dari mendengarkan tape atau kaset adalah karena tak ada iklan yang mengganggu. Selain itu, tak ada distraksi seperti notifikasi pesan atau telfon. Sehingga, beberapa orang mungkin menganggap bahwa mendengarkan musik dengan cara jadul terasa lebih nikmat.

Apapun alasannya, fenomena ini merupakan sebuah respon di tengah era digital sekarang. Kemudian, muncul yang namanya digital fatigue. Seorang Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS Jiwaa Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor dr. Lahargo Kembaren SpKJ menerangkan bahwa digital fatigue merupakan suatu kondisi kelelahan mental dan fisik yang disebabkan oleh pemakaian media digital secara berulang dan terus-menerus.

Digital fatigue ini terjadi ketika seseorang terlalu lama terpapar layar gawai, tablet, komputer, atau perangkat elektronik lainnya. Kondisi ini ternyata memengaruhi kesehatan fisik maupun mental seseorang. Misalnya, sering mengalami nyeri otot. Entah itu di leher, bahu, ataupun punggung. Bahkan penglihatan seseorang berpotensi menurun.

Selanjutnya, berbagai informasi di berbagai platform media sosial turut membuat seseorang kelelahan. Pasalnya, informasi yang diinginkan sampai yang tidak diinginkan akan terus muncul di beranda.

Dengan kata lain, banjir informasi ini akan membuat distraksi tersendiri. Membuat seseorang kehilangan konsentrasi atau fokus yang membuat produktivitas menurun. Lebih parahnya, emosi bisa menjadi tidak stabil ketika ada informasi yang membuat naik pitam.

Oleh karenanya, perilaku gen Z yang memilih cara jadul dalam mendengarkan musik bisa dianggap sebagai suatu respon alami ketika seseorang merasa lelah dengan aktivitas digital. Mereka ingin sejenak meninggalkan keriuhan yang terjadi di gawainya. Lalu mendengarkan musik dengan tenang. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Andhika Attar Anindita
#youtube #komunikasi #teknologi #opini #spotify