Pak Lurah Kambali benar-benar kliyengan. Dia hampir tidak berdaya menghadapi aduan yang masuk di mejanya dalam dua hari terakhir ini.
Jika ditotal, ada sepuluh orang yang melaporkan sesuatu hal yang ganjil di depan rumah Lek No. Mereka tidak habis pikir dengan kenekatan Lek No yang bisa menimbulkan kekacauan di mana-mana.
Aksi Lek No ini dianggap sebagai bentuk perbuatan melanggar hukum. Bapaknya Danantara Mugi Langgeng itu terancam dijebloskan ke penjara jika tak segera bertobat.
Sampai detik ini, Lek No belum memberikan klarifikasi atas tindakannya. Sementara Pak Lurah Kambali masih memikirkan jalan keluar
untuk semua aduan warganya soal Lek No.
Saat merenungkan solusi sembari meneguk secangkir kopi hitam yang mulai dingin itu, tiba-tiba saja Dirjo mengetuk pintu ruangan Pak Lurah Kambali.
"Ehhh masuk Jo."
"Siap Pak Lurah."
"Ada apa ini? Tumben pagi-pagi sudah ke sini," kata Pak Lurah Kambali menyambut kedatangan Dirjo, lalu mempesilakan duduk tamunya itu.
"Begini Pak Lurah."
"Jangan begina, beginu. Langsung saja, Jo."
"Soal Lek No, Pak."
"Sudah kuduga."
"Memang itu Pak yang lagi dibicarakan semua warga di kampung Ini."
Setali tiga uang dengan aduan masyarakat, Dirjo juga membeberkan perkara serupa. Tapi, ternyata versi Dirjo lebih lengkap dibanding warga lain.
Warga yang mengadu hanya memberi tahu bawah Lek No memasang bendera tengkorak di depan rumahnya bersama dengan sang saka merah putih. Sementara Dirjo punya cerita tanpa sensornya.
Kepada Pak Lurah Kambali, Dirjo mengatakan, posisi bendera tengkorak dengan kelir hitam itu dikibarkan di satu tiang dengan bendera merah putih. Posisi merah putih berada di atas, sedangkan gambar tengkorak ada di bawahnya.
Pemasangan itu dilakukan sekitar tiga hari lalu. Warga yang melintas di depan rumahnya, sudah mengingatkan, tetapi Lek No tetap tak menggubris.
Secara rutin, Lek No selalu melepas bendera tengkorak itu di siang hari. Tepatnya, di jam tujuh pagi, Lek No mulai mengereknya turun. Sehingga tinggal bendera merah putih yang berkibar.
Memasuki pukul empat sore lebih tiga puluh menit, Lek No menaikkan kembali bendera tengkorak itu.
"Kok bisa seperti itu, Jo?" tanya Pak Lurah Kambali keheranan perihal kebiasaan Lek No dengan bendera tengkoraknya.
"Saya sendiri juga merasa aneh, Pak."
"Aneh memang."
"Kalau saya menduga Pak, itu cara Lek No untuk mengelabuhi pamong dan warga," kata Dirjo menerka-nerka.
"Mengelabuhi bagaimana?"
"Ya supaya pengibaran bendera tengkorak itu dianggap hal yang biasa, Pak."
"Begitu ya?"
"Iya dong Pak. Pak Lurah Kambali tahu kan, di bulan Kemerdekaan seperti sekarang, satu-satunya bendera yang boleh berkibar, ya merah putih, Pak."
"Benar itu."
"Lek No sudah kelewatan, Pak. Jangan-jangan dia mau berontak, Pak?"
"Husss.. jangan ngawur kamu Jo. Saya tahu Lek No, Jo."
"Kita sudah punya bukti, Pak."
"Bukti kita belum kuat kalau belum tanya Lek No, Jo."
"Kayaknya sudah tidak perlu klarifikasi, Pak. Ini sudah cetho welo-welo."
"Terus, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita harus lapor Babinsa, Pak. Biar Lek No segera ditangkap. Ini sudah makar namanya."
"Kita jangan terburu-buru menuduh makar, Jo."
"Pengibaran bendera tengkorak itu namanya makar, Pak."
"Iya saya tahu, maksudnya dia pasang bendera tengkorak, tapi..."
"Tapi apa Pak Lurah?"
"Ya tapi belum tentu Lek No makar."
"Tetap saja ini makar."
Dirjo terus mendesak Pak Lurah Kambali untuk mengangkut Lek No ke markas tentara. Dirjo punya keyakinan, tindakan Lek No mengibarkan bendera tengkorak sudah termasuk perbuatan makar.
Dan, orang yang melakukan tindakan makar bisa dipenjara puluhan tahun. Bahkan ancaman hukumannya paling berat adalah hukuman mati.
"Saya harus ke rumah Lek No sekarang Pak Lurah. Kita serahkan ke markas tentara."
"Saya setuju kita ke rumah Lek No. Tapi, bukan untuk menangkapnya. Harus minta klarifikasi dulu."
Dengan berat hati Dirjo akhirnya menuruti keputusan Pak Lurah Kambali yang dianggap terlalu lunak dengan aksi makar Lek No. Padahal, menurut Dirjo, bendera tengkorak itu sudah mencederai nasionalisme seorang warga negara di negeri ini.
"Baiklah Pak Lurah. Kita buktikan di rumah Lek No. Dugaan saya pasti benar kalau Lek No makar," kata Dirjo dengan wajah masamnya.
Di depan rumah Lek No, Pak Lurah Kambali dan Dirjo sudah melihat sang tuan rumah berdiri di dekat tiang bendera. Pagi itu, seperti cerita Dirjo, Lek punya rutinitas untuk menurunkan bendera tengkorak.
"Lek.. Lek.. mau menurunkan bendera tengkorak?" tanya Pak Lurah seolah-olah tidak paham dengan kebiasaan Lek No di pagi hari itu.
"Iya Pak Lurah."
"Kenapa diturunkan, Lek?" tanya Pak Lurah seperti menginterogasi.
"Terserah saya dong Pak. Mau saya naikkan, mau saya turunkan."
"Benar kan apa kata saya, Pak. Lek No pasti mau makar," bisik Dirjo pada Pak Lurah untuk menguatkan dugaannya.
"Berarti ini nanti dinaikkan lagi, Lek?" tanya Pak Lurah.
"Iya Pak. Nanti sore Pak."
"Kenapa Lek dinaikkan?
"Memang waktunya naik, Pak Lurah."
"Kenapa begitu Lek?"
"Ada jam-jamnya, Pak," jawab Lek No.
Jawaban Lek No membuat Pak Lurah makin bingung. Sementara bagi Dirjo, jawaban itu seperti menguatkan bahwa Lek No memang sedang berbuat makar.
"Jam-jam gimana to Lek? Kok saya bingung."
"Ya tikusnya, Pak Lurah."
"Tikus? Maksudnya Lek?"
Jawaban Lek No kali ini tak hanya membikin Pak Lurah pusing. Dirjo pun mulai merasakan puyeng. Tapi, keyakinan Dirjo tidak berubah sama sekali.
"Jangan terkecoh Pak. Ini ciri-ciri orang makar. Banyak alasan," bisik Dirjo lagi pada Pak Lurah Kambali.
"Bisa dijelaskan Lek hubungan bendera tengkorak dan tikus?"
Baca Juga: Kebenaran Vs Kepentingan
"Begini loh Pak Lurah, seminggu terakhir ini rumah saya banyak sekali tikus. Sampai-sampai saya dan istri susah tidur gara-gara tikus. Setiap malam bikin gaduh."
"Terus kenapa sampean pasang bendera tengkorak? Mau makar ya?" tanya Dirjo yang seolah kurang puas dengan jawaban Lek No.
"Ngawur kamu Jo. Makar piye?" kata Lek No.
"Terus Lek, kenapa ada bendera tengkorak berkibar di bawah bendera merah putih di depan rumahmu, Lek?" tanya Pak Lurah yang mulai blak-blakan.
"Ternyata Pak Lurah, setelah saya pasang bendera tengkorak itu, tikus-tikus di rumah saya mulai hilang. Saya pasang bendera itu nggak cuma di depan rumah loh. Hampir setiap sudut rumah saya pasangi. Di kamar, dapur, ruang tamu juga."
"Hah?"
Pak Lurah kaget dengan jawaban Lek No. Demikian pula dengan Dirjo. Tapi, Dirjo tak ingin percaya begitu saja.
"Terus kenapa kalau pagi bendera tengkorak dilepas, Lek?" tanya Dirjo seperti ingin menyudutkan Lek No.
"Jadi Jo, tikus itu bikin keributannya malam. Jadi saya pasang bendera malam hari saja. Kalau pagi begini, tikus-tikus entah pergi ke mana."
"Ooo begitu Lek."
"Iya Pak Lurah."
"Tapi, saran saya Lek. Lebih baik dilepas saja semua bendera tengkorak itu. Biar tidak gaduh, Lek. Banyak yang mengira sampean mau makar loh, Lek," kata Pak Lurah.
Sesuai masukan Pak Lurah, Lek No akhirnya mencopoti semua bendera tengkorak di rumahnya. Yang di depan maupun di dalam.
Di malam hari, tikus-tikus berukuran besar itu kembali menyerang rumah Lek No. Lek No gusar. Kali ini, dia memeranginya bukan dengan bendera. Sejak dicopoti, bendera-bendera tengkorak itu sudah disita Pak Lurah Kambali di balai kampung. Lek No pun hanya sanggup melawan binatang itu dengan umpatan.
"Tikus bajingannnnn."
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah