Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menghidupkan Bandara Dhoho Kediri

Sri Utami • Minggu, 3 Agustus 2025 | 04:35 WIB

Ilustrasi Bandara Dhoho Kediri.
Ilustrasi Bandara Dhoho Kediri.

Di tengah ketidakpastian penerbangan reguler di Bandara Dhoho, survei Badan Penyelenggara (BP) Haji pada Kamis (31/7) lalu membawa secercah asa operasional.

Jika survei pemerintah pusat menyatakan layak, bandar udara dengan terminal penumpang berkapasitas 1,5 juta per tahun itu akan menjadi embarkasi dan debarkasi haji tahun depan.

Secara fasilitas, sarana dan prasarana di Bandara Dhoho sejak awal memang didesain menjadi bandara internasional.

Termasuk runway atau landasan pacu yang panjangnya mencapai 3.300 meter dan lebar 60 meter.

Dengan landasan pacu itu, pesawat-pesawat besar yang biasa melayani penerbangan internasional leluasa mendarat di sana.

Secara ukuran, runway Bandara Dhoho memang lebih lebar dari Bandara Juanda. Yang panjangnya hanya 3.000 meter dan lebar 45 meter.

Dari sisi sarana dan prasarana (sarpras), bandara yang terletak di barat Sungai Brantas itu juga tidak kalah dengan bandara-bandara besar lain.

Misalnya, fasilitas apron atau tempat parkir pesawat untuk komersial dan VIP. Ada pula empat taxyway yang jadi akses pesawat dari dan ke landasan pacu, serta banyak sarpras lainnya.

Terkait rencana penerbangan internasional, Kantor Imigrasi Kelas 2 Non-TPI Kediri juga sudah memberikan dukungan.

Demikian pula Kantor Bea dan Cukai Kediri yang sudah menandatangani surat dukungan bersama instansi terkait lainnya.

Adapun izin penerbangan internasional dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jika BP Haji sudah menyatakan Bandara Dhoho layak untuk embarkasi dan debarkasi haji, tentu saja proses di Pusat akan lebih mudah. Sehingga praktis tidak ada hambatan yang besar.

Pekerjaan rumah (PR) sekarang adalah terkait infrastruktur pendukung bandara. Terutama akses jalan tol Kediri-Kertosono yang belum terhubung. Hingga pertengahan Juli ini pembebasan tanah terdampak belum 100 persen.

Padahal, meski tahun depan Bandara Dhoho mulai melayani penerbangan haji, asrama haji jemaah akan tetap berada di Sukolilo, Surabaya. Sehingga, dibutuhkan akses jalan yang memadai untuk mobilitas jemaah.

Percepatan proyek strategis nasional (PSN) itu tergantung kesiapan pemerintah sendiri. Setidaknya, penyelesaian jalan tol nantinya bisa beriringan dengan tol akses bandara yang kini mulai digarap oleh PT Surya Sapta Agung Tol itu.

Sehingga, saat runway Bandara Juanda diperbaiki pada 2028 nanti, Bandara Dhoho dan akses pendukung lainnya sudah benar-benar siap menjadi back up penerbangan di wilayah selatan Jawa Timur.

Penerbangan haji di Bandara Dhoho bisa jadi stimulan agar bandara bisa segera beroperasi secara reguler.

Untuk bisa menghidupkan kembali penerbangan domestik yang kini terhenti, butuh sinergi yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah.

Tarif penerbangan yang dianggap lebih mahal dari Bandara Juanda untuk rute penerbangan yang sama, selama ini jadi penghambat dan butuh pemecahan bersama.

Menghidupkan Bandara Dhoho bukan hanya terkait penyiapan akses penerbangan saja. Melainkan jadi salah satu upaya untuk menghidupkan perekonomian di wilayah selatan Jatim.

Sudah sepatutnya pemerintah daerah sekitar bergotong royong bersama atas dukungan Pusat.

Editor : Andhika Attar Anindita
#kediri #bandara dhoho #bandara #dhoho