Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Rumah Keong 14 Meter Persegi

Anwar Bahar Basalamah • Minggu, 22 Juni 2025 | 04:13 WIB
Rumah Keong 14 Meter Persegi
Rumah Keong 14 Meter Persegi

Dua hari dua malam, pekan lalu, Lek No sambat kepada Pak Mukhol, tetangga depan rumahnya. Bukan mengeluh karena sakit gigi. Bukan pula soal utang-piutang.

Kata Lek No, ini lebih urgen dari masalah gigi cenut-cenut atau utang yang belum terbayar. Persoalan ini menyangkut kelanjutan hidup rumah tangganya bersama Lek Ni dan anaknya, Danantara Mugi Langgeng.

Jika tidak segera diselesaikan, entah hidup seperti apa akan terjadi di kemudian hari. Makanya, Lek No memberanikan diri untuk curhat dan menemui Pak Mukhol di rumahnya.

Di mata Lek No, Pak Mukhol adalah orang yang tepat untuk disambati permasalahan hidupnya. Bukan saja karena alasan tetangga paling dekat, lebih dari itu, Pak Mukhol merupakan Ketua RT Tiga di kampung ini.

"Saya mau menyampaikan uneg-uneg Pak," kata Lek No mengawali pembicaraan di hari pertama menemui Pak Mukhol.

"Sampaikan saja Lek. Tidak usah sungkan."

"Saya tidak sungkan Pak. Tapi, bingung mulai dari mana."

"Dari mana saja boleh, Lek."

"Bukan begitu Pak."

"Mau utang lagi?"

"Bukan.. bukan.. bukan..."

"Lalu soal apa?"

"Ini soal rumah Pak."

"Ooo.. rumah tanggamu dengan Lek Ni lagi berantakan?"

"Loh.. bukan juga. Saya dan Mak e masih harmonis sampai sekarang Pak."

"Terus maksudnya rumah apa?" tanya Pak Mukhol makin penasaran.

"Rumah saya Pak."

"Rumahmu mau dijual?"

"Bukan."

"Rumahmu kenapa?"

"Rumah saya bocor di mana-mana."

Dibanding rumah Pak Mukhol dan tetangga di sekitarnya, rumah Lek No memang bisa disebut paling sederhana dan biasa saja. Rumah peninggalan mertuanya itu hanya disangga dinding kayu yang mulai reyot.

Rumah Lek No tidak punya pagar atau halaman depan yang luas. Dinding depan rumahnya hanya berjarak satu setengah meter dengan bibir jalan.

Gentingnya yang sudah berusia puluhan tahun tampak sekali belum pernah diganti. Lantainya juga masih berupa tanah liat. Cat dinding kayunya sudah mengelupas di sana-sini.

Maka tidak heran, jika datang musim penghujan seperti sekarang, atap rumahnya pasti bocor. Di ruang tamu, kamar maupun dapur.

"Saya sampai bingung Pak. Ini rumah atau gubuk. Kok bocor di mana-mana."

"Besok langsung saya sampaikan ke Pak Lurah Kambali, Lek."

"Terima kasih Pak Mukhol."

Pak Mukhol langsung gerak cepat dengan memberi laporan kepada Pak Lurah Kambali. Tidak hanya lisan. Pak Mukhol juga sudah mendokumentasikan kondisi rumah Lek No yang sebenarnya tidak layak huni.

Mendapat kabar dari ketua RT-nya, Pak Lurah Kambali segera berpikir mencari jalan keluar. Tapi, tidak langsung di hari itu. Dia butuh waktu beberapa hari sebelum memutuskan mau diapakan rumah warganya itu.

"Jadi solusinya Lek, akan dikabari Pak Lurah beberapa hari lagi," kata Mukhol di malam kedua mendengarkan sambatan Lek No di rumahnya.

"Alhamdulillah. Berarti rumah saya bisa direnovasi Pak?"

"Kurang paham Lek. Intinya siap dibantu."

"Syukurlah. Rumah saya tidak bocor lagi."

"Kalau misalnya direnov, sampean minta yang seperti apa Lek?"

"Gentingnya diganti Pak, dinding kayu diganti tembok dan lantainya jadi keramik. Itu aja Pak."

"Banyak juga ya. Kalau luasnya?"

"Luasnya biar tetap Pak. 32 meter persegi."

"Oke Lek."

Setelah mendengar curhat di hari kedua, Pak Mukhol kembali melaporkan kepada Pak Lurah Kambali. Yang menggembirakan, sebelum laporan itu diterima, Pak Lurah Kambali ternyata sudah mengantongi solusi untuk perbaikan rumah Lek No.

"Sampean tidak perlu lapor lagi Pak. Ini sudah ada solusi."

"Cepat banget Pak Lurah."

"Iya kebetulan ada pengusaha yang mau bantu. Kalau nunggu uang pemerintah agak lama prosesnya."

"Ya sudah saya sampaikan ke Lek No sekarang."

"Kita ke rumahnya saja sekarang."

Dengan hati berbunga-bunga, Lek No menerima dua tamunya itu di ruang tamu yang kursinya sudah berkarat di bagian kakinya.

Pak Lurah Kambali kemudian menyampaikan rencana perbaikan rumah Lek No yang dilakukan secepatnya dalam minggu ini.

"Apa tidak terlalu cepat Pak Lurah?" kata Lek No.

"Pengusaha ini maunya justru harus cepat Lek."

"Wah jadi tidak enak ini."

"Disyukuri saja Lek."

"Iya Pak Lurah. Kalau boleh tahu, rumah saya nanti akan direnovasi seperti apa Pak Lurah?"

"Yang pasti lebih bagus Lek. Tapi...?"

"Tapi apa Pak Lurah?" tanya Lek No seperti tidak sabar.

"Bangunan rumah sampean nanti ukurannya lebih kecil. Tapi halamannya lebih luas."

"Jadi berapa Pak luas bangunannya?"

"Jadi 14 meter persegi."

Tanpa pikir panjang, Lek No langsung menolak perbaikan dari pengusaha yang disampaikan lewat Pak Lurah Kambali. Menurutnya, itu sudah seperti rumah keong.

Rumahnya memang jelek. Tapi, tetap bisa leluasa untuk bercengkerama dengan keluarganya.

Tak bisa dibayangkan, dengan ukuran hanya 14 meter persegi, bagaimana Lek No nanti menyimpan sayur dagangannya, berkejaran dengan Danantara dan ada satu lagi yang dipikirkannya.

"Saya dan Lek Ni makin sungkan berteriak jika harus begituan Pak Lurah," kata Lek No tegas.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#rumah #opini #Lek No