Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika TikTok Jadi “Identitas” Kita

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 13 Juni 2025 | 16:32 WIB
Ilustrasi tiktok.
Ilustrasi tiktok.

Standar TikTok bukanlah tolok ukur kebahagiaan maupun kesuksesan seseorang. TikTok telah menjelma menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Aplikasi video pendek itu kini tidak hanya menjadi tempat hiburan. Namun juga jadi ruang untuk mencari informasi, mengekspresikan diri, bahkan menunjukkan identitas.

Platform ini bekerja melalui sistem algoritma yang sangat personal. Lewat halaman For You Page (FYP), TikTok menampilkan video yang sesuai dengan perilaku pengguna.

Semakin sering pengguna mencari, menonton, atau menyukai jenis konten tertentu, maka video serupa akan terus bermunculan. Inilah yang membuat pengguna seperti berada dalam gelembung konten yang terasa relevan dengan dirinya.

Namun di balik itu, ada fenomena yang lebih dalam. Pola konsumsi yang berulang membuat banyak orang merasa bahwa tren yang muncul di TikTok sekaligus menjadi standar.

Dari tren kecantikan, gaya busana, cara berbicara, hingga gaya hidup, semua seolah memiliki pakem tersendiri. Bila seseorang ingin viral atau eksis, maka dia harus mengikuti tren di sana.

Standar TikTok ini tidak muncul dari aturan tertulis. Hal ini tumbuh dari pola yang dibentuk oleh popularitas konten.

Video dengan tampilan menarik, tubuh ideal, kehidupan mewah, atau cara bicara khas TikTok, lebih mudah mendapatkan tempat di FYP. Inilah yang kemudian membentuk persepsi sosial secara tidak sadar.

Yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang mulai melihat realitas dari apa yang ditampilkan di layar. Bukan dari pengalaman nyata. Fenomena ini sejalan dengan konsep hiperrealitas, di mana citra-citra buatan justru dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.

Padahal, kehidupan yang terlihat indah di TikTok itu sudah melalui proses edit, filter, dan settingan tertentu. Namun, sering kali dianggap sebagai standar hidup yang harus dicapai. Maka tidak heran jika banyak orang mulai membandingkan hidupnya dengan potongan video berdurasi 15 detik.

Pengaruh standar TikTok juga tidak berhenti di depan kamera. Ia mulai merembes ke kehidupan sehari-hari.

Banyak orang membentuk ekspektasi terhadap diri sendiri dan orang lain berdasar apa yang mereka lihat di TikTok. Standar soal pasangan ideal, hubungan romantis yang manis, rutinitas harian yang estetik, dan sejenisnya perlahan menjadi patokan hidup.

Masyarakat jadi terbiasa menilai sesuatu berdasarkan apa yang sedang tren. Mereka bisa merasa gagal hanya karena tidak menjalani hidup yang sesuai template TikTok.

Padahal kenyataan hidup setiap orang sangatlah berbeda dan tidak bisa diseragamkan. Tapi tekanan itu tetap hadir, bahkan dalam hal-hal paling kecil.

Di kalangan remaja, dampaknya sangat terasa. Banyak dari mereka merasa perlu tampil sempurna di depan kamera.

Penampilan menjadi prioritas utama, bahkan sampai rela merogoh kocek demi mengikuti tren yang sedang ramai. Mereka merasa tidak cukup keren jika tidak sesuai dengan standar TikTok.

Lebih dari itu, standar ini juga menciptakan tekanan yang tidak terlihat. Ada dorongan untuk selalu tampil sesuai apa yang menjadi tren di TikTok.

Padahal, kenyataan hidup seseorang belum tentu seindah apa yang mereka tayangkan. Ketidaksesuaian antara realita dan citra di media sosial bisa memicu kecemasan, minder, hingga stres.

Fenomena ini menunjukkan bahwa algoritma tidak hanya menyajikan hiburan, tapi juga membentuk pola pikir. Konten yang terus berulang bisa menciptakan asumsi bahwa hidup harus seperti itu.

Tanpa disadari, banyak pengguna yang mulai membandingkan hidup mereka dengan potongan-potongan video yang belum tentu sesuai konteks. Mereka terlena dalam dunia yang terlihat nyata, tapi sebenarnya adalah tiruan.

Oleh karena itu, penting bagi pengguna, terutama generasi muda, untuk bersikap lebih kritis. Tidak semua yang muncul di FYP adalah kebenaran mutlak.

Banyak konten yang dibuat hanya demi tren, bukan sebagai cerminan kehidupan nyata. Kita harus bisa membedakan mana konten untuk hiburan, mana yang benar-benar inspiratif.

TikTok sejatinya adalah alat. Ia bisa membawa manfaat jika digunakan dengan bijak.

Namun jika terlalu larut dalam standarnya, kita bisa kehilangan jati diri. Standar TikTok bukanlah tolok ukur kebahagiaan maupun kesuksesan seseorang.

Sudah waktunya kita menjadi pengguna aktif yang sadar dan tidak sekadar mengikuti arus. Karena dunia nyata jauh lebih beragam daripada layar ponsel yang kita lihat setiap hari (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Andhika Attar Anindita
#tiktok #opini #fyp #identitas