Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Masa Depan Pemain Muda Terganjal Naturalisasi

Emilia Susanti • Selasa, 3 Juni 2025 | 03:31 WIB
Ilustrasi sepak bola naturalisasi.
Ilustrasi sepak bola naturalisasi.

Sepak bola memang digemari oleh semua kalangan usia. Mulai dari yang muda hingga tua. Tak ayal, ada sebagian orang pernah atau masih memiliki cita-cita menjadi pemain profesional.

Membela klub kasta tertinggi hingga bisa masuk skuad tim nasional. Hanya saja, ada proses panjang yang harus ditempuh oleh seseorang yang ingin menjadi pemain profesional.

Pemain bintang sepak bola dunia pun selalu memiliki cerita uniknya masing-masing. Sebut saja Lionel Messi, pemain sepak bola yang mendapatkan penghargaan Ballon d’Or sebanyak delapan kali.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Lionel Messi pernah didiagnosis menderita growth hormone deficiency (GHD) atau deviasi hormon pertumbuhan.

Kala itu, dokter memperkirakan bahwa Messi akan memiliki tinggi sekitar 1,4 meter saja.

Karenanya, dia harus menjalani terapi khusus yaitu menjalani terapi suntikan hormon pertumbuhan. Melalui kisah Lionel Messi, ada begitu banyak pelajaran yang bisa diambil.

Intinya, setiap anak, siapapun itu, bagaimanapun latar belakangnya, tetap bisa menjadi pesepak bola profesional.

Oleh karena itulah sebuah negara perlu hadir untuk memberikan dukungan. Jangan sampai, talenta-talenta muda disia-siakan begitu saja.

Sebetulnya, upaya mencetak pemain profesional sudah ada. Pada tingkat usia dini, ada agenda kompetisi yang dinamakan Piala Soeratin.

Agenda ini pun diadakan rutin setahun sekali oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Praktis, Piala Soeratin menjadi salah satu kompetisi yang dinantikan oleh anak-anak yang ingin menjadi pemain profesional.

Bagi mereka, kompetisi ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Minimal, mereka bisa menarik perhatian klub-klub besar yang ada di daerahnya masing-masing.

Tentu saja, kompetisi untuk usia dini tidak sebatas Piala Soeratin saja. Ada pekan olahraga provinsi (poprov) dan pekan olahraga nasional (PON).

Lalu, ada berbagai pihak lain yang juga menyelenggarakan kompetisi usia dini serupa. Bahkan hampir di setiap daerah mungkin ada. Di sisi lain, kompetisi sepak bola usia dini memang sangat penting untuk diadakan.

Melalui sebuah kompetisi, setiap anak akan berlatih untuk bekerja sama tim, meningkatkan mental, mengontrol emosi, dan sebagainya. Tak kalah penting, skill individu dalam bermain akan terlihat saat di lapangan.

Menariknya, antusias para pemain muda di Indonesia sangat tinggi. Meski belum ada suporter fanatik seperti klub-klub besar, pertandingan yang berlangsung tetap seru.

Apalagi, ada orang tua yang selalu mendukung di pinggir lapangan. Memberikan suara-suara dukungan kepada anak-anaknya yang ingin menjadi pemain sepak bola profesional.

Melihat semangat mereka, ada harapan sepak bola Indonesia semakin maju untuk kedepannya. Apalagi performa skuad Garuda sedang dielu-elukan saat ini.

Sebabnya, perjalanan menuju Piala Dunia kian dekat. Lalu, pemain-pemain muda pun makin termotivasi untuk menjadi bagian timnas.

Hanya saja, ada fakta yang menggelitik pada timnas saat ini. Adalah keberadaan para pemain naturalisasi.

Saat menonton skuad Garuda di layar kaca, rasanya seperti menonton sepak bola luar negeri.

Bukan karena permainannya. Melainkan wajah-wajah pemain yang terasa asing saja. Pun dengan namanya yang sulit diucapkan.

Toh, naturalisasi tetaplah bukan hal yang salah. Melainkan sebuah strategi. Bisa jadi, naturalisasi memang cara ampuh untuk menaikkan peringkat.

Bahkan sebagai langkah praktis untuk menembus Piala Dunia. Kendati demikian, sampai kapan naturalisasi ini menjadi sebuah strategi?

Sungguh hati ini terisis melihat ribuan anak ingin menjadi bagian skuad Garuda namun pada akhirnya diisi oleh pemain naturalisasi.

Editor : Andhika Attar Anindita
#pemain muda #sepak bola #naturalisasi