Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mayday!Mayday!Mayday!

Mahfud • Kamis, 1 Mei 2025 - 07:30 WIB
Photo
Photo

Kata itu saya kenal pertama dalam komik atau cerita bergambar. Judulnya, dalam bahasa Indonesia, Petualangan ‘Tanguy dan Laverdure’. Komik Prancis-Belgia karangan Jean-Michel Charlier dan Albert Uderzo ini mengisahkan dua pilot tempur pesawat Mirage.

Yang sering bertempur di udara. Sehingga kerap meneriakkan kata itu, mayday! Terutama jika pesawat yang mereka kemudikan rusak atau tertembak musuh.

Jadi, mayday mirip kode SOS. Kode permintaan pertolongan. Atau pemberitahuan bahwa mereka dalam situasi berbahaya. Tapi, agar bisa dipandang sebagai kode bahaya, mayday harus diucapkan tiga kali. Mayday!Mayday!Mayday!

Dari mana kode mayday itu berasal? Dari asal katanya, mayday diambil dari bahasa Perancis, m’aider. Artinya, tolong aku.

Meskipun, saat membaca cerita itu, saya sempat berpikir bagaimana cara menolong bila pesawat sudah mau jatuh atau terbakar karena tembakan musuh.

Lalu, mengapa hari buruh sedunia disebut May Day? Apakah terinspirasi dari kode minta tolong para pilot pesawat tempur itu? Di peringatan hari buruh sedunia yang jatuh hari ini mereka, para buruh, minta tolong? Minta diselamatkan?

Sejatinya, mayday dan May Day adalah dua kata yang terpisah jauh. Tidak terkait sama sekali. Dari penulisannya pun terlihat.

Mayday kode minta tolong ditulis jadi satu kata karena adaptasi dari kata m’aider. Sedangkan May Day yang kepunyaan Hari Buruh terpisah menjadi dua kata, May dan Day. Meskipun dalam pelafalannya mirip.

Penyebutan Hari Buruh Sedunia dengan istilah May Day tak lepas dari sejarah penunjukkan 1 Mei sebagai waktu peringatan. Merujuk pada tragedi Heymarket Square di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Waktunya, 4 Mei 1886.

Ada apa di Haymarket Square saat itu? Para buruh demo besar-besaran. Isu yang mereka angkat adalah penetapan waktu kerja selama delapan jam sehari. Demo ini sebenarnya sudah dimulai sehari sebelumnya.

Tapi, tempatnya di pabrik McCormick Harvesting Machine Company, pabrik peralatan pertanian yang ada di sisi barat Chicago.

Singkat kisah, demo yang awalnya bertajuk aksi damai itu jadi kisruh. Ada pihak yang tak bertanggung jawab melemparkan bom ke arah polisi yang hendak membubarkan aksi. Dibalas dengan serentetan tembakan dari penegak hukum.

Korban jiwa pun berjatuhan. Puluhan nyawa melayang baik dari kubu polisi maupun pendemo. Yang luka-luka? Jelas jauh lebih banyak lagi. Peristiwa tragis inilah yang menginspirasi kelompok-kelompok buruh di dunia menjadikan 1 Mei sebagai hari buruh, May Day.

Dari sisi manapun, memang tidak ada kaitan antara kode mayday dengan penyebutan hari buruh sebagai May Day.

Namun, ibarat orang Jawa yang senangnya utak-atik matuk alias mengait-kaitkan segala sesuatu, mayday sangat pas untuk menyebut kondisi buruh saat ini. Mereka memang layak untuk minta tolong. Minta perlindungan.

Dari apa? Tentu saja dari situasi yang membelit. Terutama dari kondisi ekonomi yang oleh banyak orang sedang terjadi pelemahan daya beli. Membuat pabrik-pabrik banyak mengurangi produksi.

Membuat pabrik-pabrik mengurangi pekerjanya alias melakukan PHK. Situasi yang membuat para buruh berada pada posisi sulit.

Belum lagi perkembangan perang dagang yang disulut oleh strategi amburadul Presiden AS Donald Trump.

Dengan gaya ceplas-ceplosnya yang khas sang bintang ‘The Apprentice’ ini mengumbar tantangan perang ke semua negara. Ke Kanada, ke Uni Eropa, hingga ke Tiongkok.

Tapi, negara-negara yang menjadi lawan Amerika tersebut kuat dari sisi industri dan perdagangannya. Mereka berani melawan balik. Apalagi Tiongkok yang dengan lantang langsung menantang perang tarif impor ala Trump itu.

Yang jadi korban justru negara seperti kita. Yang, harus diakui meskipun dengan berat hati, tak memilik daya untuk melawan.

Kita ibarat pelanduk di tengah para gajah. Yang bisa mati terinjak binatang bertubuh tambun yang berkelahi itu.

Lho, apa dampaknya bagi buruh di Indonesia? Sebab, ontran-ontran ala Trump itu membuat Amerika mengancam semua negara yang menjual barangnya ke mereka.

Aturan tarif impor itu membuat barang-barang produksi kita bisa tidak kompetitif. Bahkan, solusi yang ditawarkan oleh negara kita adalah membuka kran impor terhadap barang-barang dari negara tersebut.

Artinya, akan semakin banyak produk luar negeri yang masuk. Jelas ini ancaman pada kelangsungan buruh.

Belum lagi persoalan perburuhan yang melilit mereka selama ini. Terbaru, penahanan ijazah oleh pemberi kerja. Dan, sejatinya, persoalan itu bukan hal baru. Sudah berlangsung lama.

Ironisnya, buruh yang mencari kerja tidak hanya harus rela ‘kehilangan’ ijazah. Tapi, juga harus mau meninggalkan BPKB atau uang tunai sebagai jaminan.

Bukan rahasia lagi, banyak perusahaan yang meminta calon karyawannya menyerahkan uang jaminan terlebih dulu agar bisa diterima.

Atau, menitipkan dokumen penting seperti BPKB, bahkan konon ada yang minta sertifikat tanah, agar bisa bekerja. Satu hal yang sangat tidak masuk akal. Namun, satu hal yang benar-benar terjadi di negara kita.

Jadi, May Day benar-benar menjadi kode mayday!mayday!mayday! dari sang buruh. Masalahnya, siapa yang bisa menolong?(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #May Day #May Day 1 Mei