Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Hari Bumi: Antara Janji Pemulihan dan Kenyataan Hilangnya Ekosistem

Ayu Ismawati • Selasa, 29 April 2025 | 03:52 WIB
Ilustrasi hari Bumi.
Ilustrasi hari Bumi.

Setiap tahun, Hari Bumi diperingati untuk mengingatkan kita akan pentingnya menjaga planet ini.

Ironisnya, peringatan tersebut kian terasa hampa di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur yang terus menggusur ekosistem alami.

Dalam upaya mengejar pertumbuhan ekonomi dan modernisasi, banyak ruang terbuka hijau—hutan, kawasan mata air, pesisir, hingga pegunungan—dikorbankan atas nama pembangunan.

Pemerintah kerap berjanji bahwa kerusakan-kerusakan alam itu akan dibayar lewat penghijauan dan rehabilitasi lingkungan.

Namun, muncul pertanyaan penting: benarkah pemulihan buatan ini bisa menjadi substitusi yang setara atas ekosistem yang hilang?

Pembangunan infrastruktur tentu penting. Jalan raya, sarana olahraga dan hiburan, dan fasilitas publik lainnya menjadi penunjang vital aktivitas manusia. Akan tetapi, pembangunan tanpa kendali justru membawa konsekuensi ekologis yang serius.

Banyak kawasan yang sebelumnya menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna kini lenyap dalam hitungan bulan.

Hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia digantikan dengan beton dan aspal. Sumber mata air ditimbun hingga sengaja dibiarkan mengering. Sungai-sungai alami dibendung, mengubah pola air dan merusak keanekaragaman hayati.

Pemerintah kerap menenangkan kekhawatiran masyarakat dengan program-program penghijauan, penanaman ulang, atau restorasi habitat.

Di atas kertas, upaya ini terdengar menjanjikan. Namun dalam praktiknya, penghijauan kerap bersifat simbolis, berorientasi proyek jangka pendek, dan tidak memperhitungkan kompleksitas ekosistem yang terganggu.

Menanam pohon-pohon di pinggir jalan atau di taman kota tidaklah cukup untuk menggantikan fungsi ekologis hutan primer yang telah dihancurkan.

Di sisi lain, kebijakan-kebijakan atas nama pembangunan ekonomi tak segan dihadirkan pemerintah.

Pernyataan Presiden Prabowo tentang perluasan perkebunan kelapa sawit dengan melakukan deforestasi sangat menggelitik.

Apalagi, komentarnya tentang menambah sentra pertanian monokultur itu yang disebut sama-sama pohonnya juga sangat aneh. 

Ekosistem bukan sekadar kumpulan pohon atau tumbuhan. Ia adalah jaringan kehidupan kompleks yang melibatkan interaksi antara tanah, air, udara, hewan, mikroorganisme, dan vegetasi dalam keseimbangan dinamis yang terbentuk selama ribuan bahkan jutaan tahun.

Menggantikan hutan alami dengan sekadar deretan pohon monokultur tidak mengembalikan keanekaragaman hayati, tidak memperbaiki kualitas tanah, dan tidak menyelamatkan spesies-spesies yang telah kehilangan habitatnya.

Alih-alih menjadi solusi, pendekatan semacam ini justru seringkali memperparah masalah dengan menciptakan ekosistem yang rapuh dan tidak tahan terhadap perubahan iklim.

Lebih jauh lagi, janji pemulihan yang disampaikan dalam berbagai proyek pembangunan kerap tidak diikuti oleh pengawasan yang ketat dan transparan.

Banyak proyek rehabilitasi yang terbengkalai, tanaman yang mati karena tidak dirawat, atau bahkan hilangnya dana untuk kegiatan konservasi akibat korupsi.

Ketika kepentingan ekonomi jangka pendek lebih diutamakan daripada kelestarian lingkungan, maka Hari Bumi hanya menjadi seremoni belaka—tanpa makna nyata untuk masa depan planet ini.

Kita harus berani mempertanyakan narasi bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan begitu saja, tanpa perubahan paradigma.

Pembangunan infrastruktur harus disertai dengan kajian lingkungan yang serius dan implementasi yang konsisten.

Konsep pembangunan berkelanjutan tidak hanya tentang "mengganti" yang rusak, tetapi juga tentang mencegah kerusakan sejak awal.

Setiap hektar hutan yang ditebang, setiap bukit yang dikeruk, setiap sungai yang dialihkan, memiliki konsekuensi ekologis yang tak bisa diukur hanya dengan jumlah pohon baru yang ditanam.

Hari Bumi seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremonial tahunan. Refleksi atas pola pembangunan yang kita jalankan, atas keseimbangan yang harus dijaga antara kebutuhan manusia dan hak-hak ekosistem lain untuk hidup.

Jika tidak, kita hanya sedang mempercepat datangnya bencana ekologis yang lebih besar—sesuatu yang tak bisa ditebus dengan seribu program penghijauan sekalipun.

Di tengah laju pembangunan yang tak terbendung, kita harus kembali memahami bahwa bumi ini bukan hanya milik manusia masa ini, melainkan warisan untuk generasi yang akan datang.

Menjaga ekosistem alami berarti menjaga keberlanjutan hidup itu sendiri. Karena tanpa bumi yang sehat, semua pembangunan yang kita banggakan pada akhirnya akan runtuh di bawah kaki kita sendiri.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Andhika Attar Anindita
#ekosistem #lingkungan #alam #hari bumi