Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional

Adoloscene

Mahfud • Kamis, 24 April 2025 - 05:43 WIB
Photo
Photo

Adoloscene. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia, menjadi remaja. Masa antara anak-anak menuju dewasa. Fase usia belasan tahun. Rentang antara 10 hingga 19 tahun sesuai versi World Health Organization (WHO).

Beda tipis dengan definisi remaja versi Kementerian Kesehatan yang menyebut rentang usia 10 sampai18 tahun.

Tapi, Adoloscene juga satu judul serial di Netflix. Bertutur tentang drama psycho-crime, drama psikologi criminal.

Tentang kasus pembunuhan kejam di salah satu kota di Inggris. Korbannya adalah Katie Leonard, remaja cewek usia 13-an  tahun.

Tersangka pelakunya adalah teman sekolahnya, Jamie Miller. Yang terekam kamera CCTV menikam korban dengan  pisau berkali-kali.

Film ini kategori miniseri. Hanya terdiri dari empat episode. Meskipun, ketika mulai ramai diperbincangkan, ada rumor bakal hadir season kedua.

Mungkin, banyak yang ingin menuntaskan cerita di serial itu yang seakan mengambang tanpa kepastian di akhir serial.

Apa yang sebenarnya terjadi saat kejadian itu? Ini menjadi pertanyaan besar yang tak terjawab tuntas hingga credit title episode keempat bergerak pelan ke atas.

Tapi, saya tak ingin mengupas film ini dari sisi alur utamanya. Atau, membahas teknik pengambila gambar yang one take setiap episodenya.

Membuat kita harus mengikuti perjalanan sang tokoh mulai awal hingga akhir episode. Tak diberi kesempatan menyaksikan frame lain.

Gaya yang terasa sedikit menjemukan. Terutama bagi saya yang agak lama meninggalkan genre film seperti ini. Tenggelam dalam genre aksi-fiksi ala film-film Hollywood.

Lalu, apa yang ingin saya perbincangkan melalui tulisan ini? Kegelisahan. Ya, film ini menunjukkan jelas kegalauan masyarakat modern terhadap perkembangan dunia digital.

Yang sangat memengaruhi karakter dan pergaulan remaja. Saya merasa, justru ini yang ingin ditampilkan oleh sutradaranya, Philip Barantini.

Adegan kekacauan dalam kelas di sekolah para pelaku ditampilkan dengan vulgar. Bagaimana para remaja di sekolah itu tak bisa lepas dari gawai.

Ketika pelajaran, ketika ada di selasar sekolah, diajak berbincang guru, dan ketika ada alarm peringatan kebakaran. Semua tangan memegang gawai.

Merekam, memotret, menulis pesan di Instagram, dan aktivitas lain yang khas era digital sekarang ini.

Kesopanan tereduksi. Tata krama hilang seketika. Bahkan, saat diperingatkan agar mereka meletakkan gawainya, si remaja balik berteriak ke sang guru,” Shut up mom!” Duh, dunia yang benar-benar berubah.

Pemicu pembunuhan itu juga tak jauh dari dunia digital. Perdebatan sengit di IG tentang sudut pandang seksual dan gender menjadi pemicu.

Para remaja itu, yang terlihat alim dan baik di rumah ternyata adalah sosok agresif dan temperamental di dunia maya.

Dan itu digambarkan dengan baik pada sosok Jamie. Ketika sesi interview dengan psikolog klinis di penjara anak-anak, mulai terkuak bagaimana pemikiran si bocah. Khususnya pandangan seksualnya pada perempuan.

Film ini memang  mengangkat kegelisahan itu. Kegelisahan pada dominasi internet dan media sosial pada kehidupan sehari-hari para remaja.

Perilaku agresif mereka kerap dipicu ide-ide yang berseliweran di dunia maya. Sang sutradara film ini juga telah menegaskan bahwa tujuan film ini  untuk memunculkan pertanyaan.

Apa yang terjadi pada remaja kita saat ini? Tekanan apa yang mereka dapat dari sebayanya, internet, dan media sosial? Dani, ini tak hanya terjadi di Inggris sana, tempat film dibuat. Tetapi juga di Indonesia, di Kediri!

Kita terlalu toleran pada dunia digital. Justru berlomba-lomba untuk makin tenggelam dalam pengaruh besarnya.

Baca Juga: Lebaran, Udik, Mudik

Keseharian kita benar-benar tak lepas dari cengkeraman dunia maya yang kerap dipenuhi kepalsuan, imitasi, pencitraan, dan informasi bias.

Kita kerap lebih mempercayai narasi di dunia maya dibanding analisa pada fakta yang terjadi. Narasi yang muncul segera itu menjadi ‘kebenaran’ baru.

Penghakiman secara langsung akan terjadi. Trial by the press yang populer beberapa decade silam kini berganti menjadi trial by the internet, by mass media.

Tak pelak, muncullah budaya daring. Suatu budaya yang berbasis pada dunia maya. Terbentuk karena pola konsumsi dan pola pikir kita terhadap internet.

Mungkin, awalnya semua ide dan gagasan tersebut muncul liar di dunia maya. Namun, pada akhirnya akan mewujud pula di dunia nyata. Karena pelaku dunia maya sejatinya adalah sosok di dunia nyata.

Maka, pada akhirnya, Adoloscene bukan sekadar film tentang drama krimininal di Inggris sana. Film ini adalah gambaran dari kegelisahan semua orang.

Tentang begitu dominannya peran internet. Tentang tekanan-tekanan yang mendera para remaja.  Bagaimana mereka mampu mengkamuflase sikap dan tabiat keseharian.

Menjadi anak baik dan pintar selama di rumah dan di sekolah. Namun punya ide liar di dunia maya. Yang ujung-ujungnya, menjadi tragedy di alam nyata. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira