Seminggu ini, tubuh Lek No nggregesi tidak karuan. Sudah bermacam obat warung dicobanya. Tapi, tidak satu pun pil, kapsul dan sirup yang bisa memulihkan badannya sehat kembali.
Gagal dengan obat warung, Lek No berharap besar pada ramuan tradisional. Lek Ni, sang istri, dimintanya untuk meramu daun kelor, daun sambiloto, dadap kerep dan daun jambu biji menjadi minuman jamu.
Meski demamnya agak turun setelah meminumnya di hari ketiga, suhu tubuh Lek No naik lagi di hari keempat.
Tak mau sakit terus-terusan, bapak satu anak ini lalu memanggil tukang pijat langganan Pak Lurah Kambali.
Kata orang-orang, pijatan tukang pijat ini terkenal cespleng. Sekali diurut, pegal-pegal hilang, masuk angin pun bablas angine dan kepala yang nyut-nyutan, lenyap seketika.
Tapi, nyatanya, kemujaraban itu tidak berlaku bagi penyakit Lek No. Di sepanjang malam, Lek No tetap meriyang. Di siang hari, sekujur tubuhnya bak dipukuli palu godam bertalu-talu.
"Sakitnya tidak tahan aku, Mak," keluh Lek No kepada istrinya.
"Lha piye, apa dibawa ke dokter aja pak?"
"Nggak usah Mak."
"Kapan warase kalau tidak mau ke dokter?"
"Nanti biar waras sendiri. Pokoknya aku tidak mau ke dokter."
Melihat keras hati sang suami yang enggan dibawa ke dokter, Lek Ni akhirnya curhat pada Bu Timuk dan Pak Mukhol. Tetangga depan rumah mereka yang selama ini sudah dianggap sebagai keluarga sendiri.
"Piye ini Bu Timuk, bapake sakit nggak sembuh-sembuh."
"Lha apa nggak dibawa ke dokter?"
"Orangnya ngengkel tidak mau."
"Lha kok bisa?"
"Saya juga tidak tahu. Kenapa tiba-tiba bapake nggak mau ke dokter."
"Yasudah nanti biar Pak Mukhol yang membujuknya."
Lek Ni sedikit lega hatinya setelah menumpahkan keluh kesahnya pada Bu Timuk. Dia berharap, Pak Mukhol bisa meruntuhkan kengototan suaminya yang terus menolak diobati oleh dokter.
Tanpa berbasa-basi, Pak Mukhol langsung mengajak Lek No pergi ke dokter.
"Ayo Lek, kita ke dokter. Saya anterin."
"Nggak mau Pak."
"Kenapa?"
"Saya takut."
"Takut kenapa? Takut disuntik?"
"Bukan Pak."
"Terus?"
"Takut... takut... takut..."
"Takut kenapa Lek? Ayo cepat ngomong."
"Takut dilecehkan Pak."
"Hahahahaha.."
Pak Mukhol tertawa sekeras-kerasnya begitu mendengar jawaban Lek No. Entah jin apa yang merasuki, hingga Lek No punya alasan tidak logis untuk tidak segera berobat ke dokter.
"Lho, kok ketawa sampean."
"Lucu sampean. Masak dokter mau melecehkan sampean?"
"Sudah banyak kasusnya Pak Mukhol."
"Iya saya tahu. Tapi gimana yaa.. hahahaha."
"Kok ketawa lagi sampean."
"Lha gimana nggak ketawa, Lek. Lucu sampean."
"Saya beneran takut lho Pak."
"Udah Lek. Aman. Ayo kita ke dokter sekarang."
"Beneran saya nanti tidak dilecehkan, Pak?"
"Nggah ah. Ayo kita ke Dokter Jabar."
Memang susah-susah gampang untuk meyakinkan Lek No hingga akhirnya mau memutuskan pergi ke dokter.
Di tempat periksa Dokter Jabar, dokter kampung ini yang terkenal dermawan, Lek No dengan wajah pucat pasi mengutarakan semua keluhannya.
"Ada demamnya, pusing, gampang capek, dan linu-linu, Dok."
"Sudah berapa hari gejalanya, Lek?"
"Sudah semingguan."
"Wah sudah lama ya. Nggak diobati sama sekali?"
"Hanya diobati obat warung dan jamu, Dok?"
"Sebelumnya nggak dibawa ke dokter?"
"Tidak Dok. Takut Dok."
"Takut saya?"
"Bukan Dok."
"Takut siapa Lek."
"Takut dokter-dokter yang melecehkan pasiennya Dok."
"Hahahahaha."
"Kok dokter tertawa?"
"Lucu sampean."
Dokter Jabar tak melanjutkan omongannya. Dia menutupnya dengan memutuskan diagnosa kepada pasiennya itu. Rupanya, setelah diperiksa dan ditanya semua keluhan, Lek No didiagnosa sakit chikungunya.
"Sampean kena chikungunya."
Dokter Jabar lalu memberikan resep dan mempersilakan Lek No meninggalkan ruang periksa. Dia memberi pesan pada Lek No agar meminum obatnya secara teratur dan memperbanyak istirahat.
Mendengar caranya berbicara dan menyampaikan saran, Lek No terkesima dengan pembawaan Dokter Jabar. Rupanya, prasangkanya keliru kepada profesi dokter. Tidak semua dokter punya pikiran cabul dan kotor.
"Mikir apa lagi, Lek?"
"Maaf Dok. Ternyata saya salah sangka."
"Hahahaha. Tidak apa-apa, Lek."
"Saya sekarang menemui dokter yang baik."
"Hahahah. Tidak semua dokter buruk. Tapi, tidak semua dokter itu juga baik. Seperti yang sampean takutkan itu."
"Berarti Dokter Jabar, termasuk dokter yang baik?"
"Biar orang yang menilai Lek."
Lek No segera meninggalkan ruang periksa. Tidak ada kata-kata lagi yang disisakan.
Dia bisa pulang dengan senyum lebar meski kepalanya masih nyut-nyutan.
Tapi, setidaknya, kekhawatiran Lek No yang takut dilecehkan tidak terbukti di tempat Dokter Jabar. Entah di tempat lain.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah