Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pahlawan

Mahfud • Kamis, 17 April 2025 - 05:52 WIB
Photo
Photo

Sejarah ditulis oleh pemenang. Sudah pasti. Para pemenanglah yang merekonstruksi peristiwa atau fakta yang sudah terjadi. Menjadi catatan-catatan yang disebut sejarah. Terlepas apakah rekonstruksi itu sesuai fakta awal atau ada penambahan maupun pengurangan, hasil akhirnya adalah rangkaian kisah yang bernama sejarah.

Berarti, sejarah bukan fakta? Ya tidak juga. Tetap saja sejarah adalah rangkaian dari fakta-fakta. Meskipun, fakta itu kadang ada yang ditambahi atau bahkan dikurangi.

Toh, menurut Kuntowijoyo, sejarah bukan hanya tentang merekonstruksi atau membangun ulang peristiwa masa lalu berdasarkan fakta atau bukti-bukti yang ada. Juga tentang interpretasi dan penjelasan terkait fakta tersebut. Nah, ada kata interpretasi yang harus mendapat garis tebal di bawahnya.

Coba kita berandai-andai. Bila saja Pemerintah Kolonial Belanda tak kalah oleh Jepang ketika Perang Dunia II. Kemudian, Jepang tak kalah oleh Sekutu yang memicu proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia, apakah sejarah nasional yang kita pelajari sama seperti saat ini? Apakah Diponegoro tetap menjadi pahlawan? Ataukah dicap sebagai pemberontak oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang bertahan hingga era kini?

Atau, jangan jauh-jauh. Coba kita bayangkan kejadian di masa setelah kemerdekaan. Catatan sejarah di masa Orde Lama, Orde Baru, atau di masa setelah Reformasi pun mengalami bias. Di zaman Orde Baru, buku Sejarah Nasional Indonesia era Mendiknas Nugroho Noto Susanto pernah menjadi polemik. Terutama yang terkait dengan pemberontakan G30S PKI serta peran Soeharto dalam Supersemar. Ini menandakan sangat kuatnya kata ‘interpretasi’ dalam rekonstruksi fakta itu.

Lalu, apa kaitan bahasan bertele-tele tentang sejarah di atas dengan judul tulisan ini? Karena pahlawan lahir dari keberadaan sejarah. Pahlawan adalah orang-orang yang dipilih dalam proses rekonstruksi dan interpretasi fakta masa lalu tersebut.

Ghalibnya, pahlawan adalah orang yang dianggap berjasa dalam lini masa. Yang memegang peran penting terbentuknya interpretasi pada setiap fakta sejarah. Bahkan, yang menjadi sentra di pusaran kejadian-kejadian.

Misal, sekali lagi, Diponegoro. Terlepas dari awal mula perselisihannya dengan Belanda karena tapal batas tanah, sosok ini sangat lekat dengan aktivitas perlawanannya. Yang secara massif melibatkan berbagai struktur penguasa hingga rakyat jelata. Diponegoro adalah representasi jiwa melawan para tertindas kepada penindas.

Kartini pun demikian. Meskipun wanita pahlawan ini tak mengangkat senjata. Hanya menggunakan pena. Dan itupun secara tersirat tak digunakan langsung sebagai bentuk perlawanan kepada penguasa yang zalim. Melainkan curahan hati tentang diskriminasi terhadap kaum perempuan seperti dirinya.

Ketika pahlawan-pahlawan itu dipilih dari momentum-momentum besar yang mempengaruhi titik-titik tertentu di lini masa sejarah, daya tarik dan popularitasnya tentu sangat besar. Sang pahlawan itu bahkan bisa menjadi role model di setiap generasi. Kita akan melihat Diponegoro sebagai simbol perlawanan pada kesewenang-wenangan penguasa. Kemudian Kartini sebagai simbol melawan diskriminasi gender. Atau, Bung Tomo sebagai simbol pengobar semangat melawan kekuatan asing yang berusaha merongrong kewibawaan bangsa.

Namun, ketika semakin banyak pahlawan dengan jasa sejarah yang terlalu dipaksakan, bisa lain ceritanya. Karena pahlawan model yang seperti ini bisa memicu perdebatan. Antara layak atau tidak. Meskipun definisi layak atau tidak itu masih bisa diperdebatkan.

Kembali lagi, sejarah-dan juga tentang pahlawan di dalamnya-adalah soal rekonstruksi fakta. Tentang interpretasi para ahli dalam membaca fakta-fakta itu. Yang kalu dikerucutkan lagi, sangat bergantung pada rezim saat rekonstruksi itu berlangsung.

Bisa jadi, kita semua memiliki pahlawannya sendiri-sendiri. Yang berbeda pada setiap individu. Atau, mungkin saja, saat ini sudah bias beda antara pahlawan dan idola. Menganggap pahlawan adalah idola dan idola sebagai pahlawan.

Tentu, semua itu tidak bisa disebut benar dan salah. Karena di luar konteks hukum dan aturan, demarkasi antara benar dan salah bisa sangat sumir. Lebih-lebih di era sekarang ketika subjektivitas lebih mengemuka dibanding objektivitas. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira