Beberapa bulan silam, ketika saya hendak menuju Stasiun Kediri, saya sempat terkejut. Biasanya, dari Jalan Untung Suropati saya menyeberangi Jalan Dhoho di perempatan Aris Motor. Kemudian terus ke timur, masih di Jalan Untung Suropati.
Notok, akhirnya belok kanan. Menuju Stasiun Kota Kediri dan memarkir kendaraan di dekat stasiun. Menunggu yang dijemput muncul.
Eh, ternyata saya keliru. Ketika belok ke kanan, terhalang portal pintu keluar stasiun. Karena di area itu sudah terpasang pos pengamanan. Serta jalan itu hanya searah, untuk keluar dari area stasiun saja.
Terpaksalah saya balik kanan. Kembali ke arah Jalan Dhoho. Kemudian menelusuri jalanan paling ikonik di Kediri ini. Berbelok ke kiri di Jalan Stasiun.
Lurus menuju pemberhentian kereta tersebut. Tapi, yang terjadi adalah situasi yang merepotkan. Sudah banyak kendaraan yang berhenti di tepi jalan ber-boulevard itu. Nyaris tak ada celah untukkendaraan saya berparkir sejenak.
Makin dekat dengan stasiun, makin riuhlah suasana. Karena berpadu dengan para tukang becak dan juga para penjemput lain.
Belum lagi, aktivitas para pengunjung warung, toko dan restoran yang ada di sepanjang Jalan Stasiun tersebut makin membuat sesak jalanan dengan taman di tengahnya itu.
Mengapa saya mengawali tulisan kali ini dengan suasana di Stasiun Kediri?
Karena seperti itulah suasananya ketika jam kereta datang atau berangkat.
Penuh sesak dengan penjemput atau pengantar. Sementara, lokasi parkir pun tidak terlalu luas. Belum lagi, sebagian besar penjemput enggan untuk masuk ke lokasi parkir yang disediakan. Toh, hanya menjemput saja, begitu pikir mereka dan juga saya-he he he.
Dan, tempat inilah yang oleh Pemkot Kediri akan dirombak. Dibuat indah dan nyaman. Agar bisa menjadi tempat kongkow yang menopang ke-khasan Jalan Dhoho.
Rencananya, di Jalan Stasiun ini, aspalnya akan dikelupas. Diganti dengan andesit coblestone yang tebalnya lima sentimeter! Kemudian, trotoar tempat para pejalan kaki akan lebih dilebarkan di kanan kirinya.
Memanjakan para pejalan kaki.Kemudian, suasana kolonial tetap dipertahankan. Bahkan semakin diperkental.
Sebab, stasiun ini memang berdiri di era kolonial Belanda. Karena itu, agar memunculkan kesan nostalgia, atmosfir penjajahan juga harus diperlihatkan.
Lalu, apa salahnya dengan rencana itu? Tentu saja tidak ada. Sebaliknya, justru menjadi sesuatu yang sangat ditunggu.
Hanya, saya tidak tahu apakah pemerintah sadar dengan tingkat kesulitan untuk merenovasi area tersebut. Yang sudah telanjur padat dengan aktivitas bisnis.
Kebetulan, di Jalan Stasiun selama ini dikenal dengan kios-kios kecil penjaja seragam dan perlengkapan pramuka. Jelas, bila ingin mereformasi kawasan ini harus pula memikirkan nasib mereka.
Belum lagi, penataan kawasan ini tentu saja harus menyambung dan menyatu dengan keberadaan stasiun. Ini yang juga perlu upaya penyatuan visi dengan pihak stasiun.
Terlepas dari itu semua, tentu saja kita berharap agar penataan kawasan ini benar-benar maksimal. Tak hanya sekadar menata secara fisik.
Namun juga dari sisi sosial kemasyarakatannya. Bagaimana agar kawasan semakin cantik namun tidak menghilangkan nuansa khasnya yang sudah ada selama ini.
Termasuk ciri khas sebagai tempat orang menjajakan perlengkapan sekolah dan pramuka.
Jangan lupa, kawasan ini juga jadi bagian dari kawasan Jalan Dhoho. Bila Jalan Stasiun ditata bagus namun Jalan Dhoho masih semrawut, tentu hasilnya tak maksimal untuk pengembangan dan penataan kawasan secara umum.
Intinya,kawasan stasiun tak berdiri sendiri. Jadi, kita tunggu saja. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira