Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

TITIK NOL, Pasar

Mahfud • Minggu, 23 Maret 2025 | 03:59 WIB
Photo
Photo

Pasar. Tempat paling dikenal oleh  masyarakat. Tak hanya kita di Kediri, juga di seluruh penjuru tanah air.

Pasar adalah tempat yang paling sering dikunjungi. Terutama oleh para ibu-ibu rumah tangga. Terutama pasar tradisional.

Tapi, apa itu sebenarnya pasar? Kalau merunut asal katanya, pasar bukanlah kata asli Indonesia. Kata ini merupakan serapan dari bahasa Persia, bazar.

Artinya? Secara etimologi, pasar bermakna tempat aktivitas ekonomi berlangsung. Bertemunya antara penyuplai barang dan atau jasa, pedagang, dan konsumen akhir. Di pasar inilah terjadi mekanisme ekonomi.

Ada tawar-menawar, ada kesepakatan, dan diakhiri dengan transaksi.

Di pasar pula denyut ekonomi berasal. Kemudian menuju ke segala penjuru bumi. Ke sudut-sudut kecil sekalipun. Menggerakkan rodak ekonomi secara makro.

Ringkasnya, pasar adalah poin krusial dalam tata ekonomi. Mulai dari yang kuno hingga modern.

Seorang Jayabaya, raja Kediri yang juga dianggap sebagai peramal ulung, menempatkan pasar sebagai titik penting dalam perkembangan peradaban manusia.

Karena dalam salah satu poin ramalannya, sang Jayabaya menyebut, ada masa ketika pasar kelangan kumandange. Pasar kehilangan fungsi utamanya sebagai pusat ekonomi.

Sejatinya, bila kita telaah lebih jauh, pasar bukan sekadar tempat aktivitas ekonomi belaka. Pasar adalah minatur dari dunia. Yang bisa dipandang dari berbagai sisi. Sosiologi, antropologi, hingga budaya.

Pasar adalah berkumpulnya orang-orang dengan beragam perilaku, sifat, tabiat, dan adat-istiadat.

Seringkali mereka menampakkannya dengan vulgar. Tanpa rasa sungkan. Watak asli manusia pun seringkali terlihat jelas di tempat ini.

Ada pedagang jujur di pasar. Tapi, banyak pula penjual yang culas, curang. Yang mementingkan keuntungan sendiri serta menafikkan kesengsaraan orang lain.

Ada pencopet. Memanfaatkan kelengahan orang yang berlalu-lalang. Hilang kewaspadaan sedikit, maka dompet akan segera berpindah tangan.  Ada pula preman berkedok apapun yang bisa dia manfaatkan.

Menjadi tukang parkir liar, menjadi tukang pungut retribusi liar, dan tukang-tukang peras lainnya.

Pokoknya, pasar adalah wajah mini dari isi dunia. Segala watak manusia tersaji di tempat ini. Mulai yang benar-benar baik, setengah baik, hingga yang benar-benar tidak baik.

Tapi, bukan berarti pasar adalah tempat yang sangat liar. Tetap saja ada mekanisme yang mengatur.

Agar hubungan sosial bisa terjalin dengan baik. Apalagi, di era modern ini pasar (tradisional) lebih banyak dikelola oleh pemerintah.

Ada aturan di tempat ini. Yang mengikat semuanya. Tujuannya agar kegiatan ekonomi bisa berlangsung lancar dan tidak merugikan salah satu pihak.

Pertanyaannya? Mengapa justru pasar tradisional identik dengan entitas yang sulit diatur? Tempat orang melanggar aturan? Menjadi tempat beraktivitas ekonomi yang tidak nyaman? Jorok, jauh dari keteraturan?

Tak percaya? Coba saja ke salah satu pasar tradisional di Kediri. Baik itu di Kota maupun Kabupaten. Pasti, yang tidak terbiasa merasakan kehidupan yang ‘liar’ seperti itu akan kaget.

Contohnya di Pasar Setonobetek. Ketika pagi hari, suasana jual beli semrawutnya bukan main.

Sebagian pedagang memilih berjualan tidak di lapak-lapak yang ditentukan. Tapi menghadang di akses-akses yang dilewati konsumen. Tak peduli apakah aksinya itu menghambat jalan bagi kios-kios yang berada di dalam.

Belum lagi kondisi kumuh yang tersaji. Kotor, penuh dengan genangan air yang jauh dari kata jernih. Bau amis dan busuk pun terus menyengat.

Belum lagi soal parkir yang selalu tak teratur. Pedagang maupun pembeli menempatkan kendaraan dengan seenaknya. Atau, lebih tepatnya, memilih yang paling enak. Tak peduli itu akan membuat susah orang lain.

Dan, itu hampir bisa ditemui di semua pasar tradisional. Tak peduli yang baru maupun lama. Yang besar atau pasar krempyeng di desa-desa atau pelosok kampung.

Pertanyaannya? Apakah kondisi itu tidak bisa diubah? Tentu saja bisa. Kalau mau contoh, ada pasar modern. Orang bilang plaza, mall.

Toh sebenarnya itu adalah pasar yang menghilangkan kata tradisional. Dikelola oleh entitas swasta. Dengan aturan-aturan yang harus dipatuhi secara ketat oleh tenant atau penyewanya.

Kalau membandingkan dengan pasar modern terlalu lebar, bisa juga diambil contoh beberapa pasar tradisional yang relatif rapi. Tak usah jauh-jauh di luar negeri.

Ada pasar tradisional yang berusaha diubah oleh pemerintah daerah. Dari paradigma kumuh, kotor, dan bau menjadi bersih, relatif teratur, dan ini yang luar biasa, jadi jujukan pembeli-pembeli  milenial. Dua di antaranya ada di Kota Malang.

Namanya, Pasar Klojen dan Pasar Oro-Oro Dowo. Dua pasar ini bisa diubah oleh pengelolanya menjadi pasar tradisional yang bersih, rapi, dan jauh dari kata bau. Penjual makanan matang dan bahan mentah seperti sayur atau daging atau ikan tetap bisa bersanding. Hebatnya, hilang kesan kotor dan kumuh.

Bagiamana caranya? Tentu, tak cukup dengan hanya bertanya pada ‘rumput yang bergoyang’. Melainkan harus ada kesadaran penuh dari semua pihak.

Kemauan untuk berubah. Bahwa pasar tradisional pun bisa menjadi lebih baik. Bahkan Setonobetek pun punya potensi seperti itu. Tinggal, maukah kita semua mewujudkannya? (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel. 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira