Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerita Setan Ijo di Arena Sabung Ayam

Anwar Bahar Basalamah • Sabtu, 22 Maret 2025 | 20:57 WIB
Ilustrasi Setan Ijo.
Ilustrasi Setan Ijo.

Cerita tentang Setan Ijo sudah melegenda di kampung ini. Siapa pun, berapa pun usianya dan apa pun pekerjaannya, mereka tahu secara runtut kisah sosok penghuni kebun bambu yang dulu pernah dijadikan arena sabung ayam itu.

Ada semacam kewajiban moral bagi orang tua untuk menceritakan Setan Ijo kepada anak dan keturunannya.

Bukan untuk menakut-nakuti, tapi moyang di kampung ini memang begitu tradisinya.

Warga di kampung ini percaya pada keberadaan wujud Setan Ijo yang di satu sisi menyeramkan, galak dan beringas. Namun, di sisi lain, Setan Ijo bisa bertindak baik seolah-olah ingin mengayomi masyarakat.

Selama bertahun-tahun, cerita itu terjaga dengan lestari. Tidak ada yang membantah, tak ada pula yang menyanggah.

Bahkan ketika mereka sudah di dewasa sekali pun.

Malah, para orang dewasa di kampung ini dengan berapi-api mengisahkan kembali Setan Ijo dari apa yang mereka dapat dari pendahulunya.

Dan, satu orang di kampung ini yang dianggap punya kewenangan untuk menceritakan Setan Ijo adalah Mbah Molana.

Bukan saja usianya lebih sepuh dibanding yang lain. Tapi, kakek berusia 75 tahun ini memiliki kemampuan bertutur yang bagus.

Daya ingatnya juga masih kuat. Ditambah, menurut orang kampung, Mbah Molana menyaksikan sendiri bagaimana kelakuan Setan Ijo di kebun bambu.

Jadi, versi lengkap cerita Setan Ijo ada di tangan Mbah Molana.

Setiap seminggu sekali, ada saja anak-anak kampung ini yang bertandang ke rumahnya untuk mendengar langsung cerita Setan Ijo yang dipercaya bersemayam di kebun bambu bekas arena sabung ayam.

"Setan Ijo itu sebenarnya siapa Mbah?" tanya Gusyon yang sore itu mampir ke rumah Mbah Molana.

Mendapat pertanyaan dari bocah kelas lima SD itu, Mbah Molana tak langsung menjawab.
Baginya, tidak penting siapa sebenarnya Setan Ijo itu.

Yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak di kampung ini mengenali perangai Setan Ijo yang punya dua tabiat berkebalikan. Kadang baik dan kadang begitu kejam.

"Kamu harus tahu soal dua watak Setan Ijo dulu Gus."

"Kapan dia baik dan kapan dia jahat Mbah?" tanya Gusyon lagi.

Setan Ijo, kata Mbah Molana, suka berkompromi dengan orang berduit. Orang-orang ini yang kerap kali memohon bantuan kepada Setan Ijo untuk melanggengkan segala urusannya.

Atas permintaan itu, Setan Ijo bakal mati-matian membela mereka asalkan ada imbalan yang sesuai dan pantas.

Bagi yang tidak suka, Setan Ijo siap mengganggu dan menakuti mereka. Dia menampakkan diri dengan sosok tinggi besar dan sekujur tubuh berwarna hijau. Karena itu, menurut Mbah Molana, sosok ini dinamakan Setan Ijo.

"Tak ada warna lain di tubuhnya selain warna hijau."

Melihat wujud Setan Ijo seperti itu, orang-orang sudah pasti lari tunggang langgang mencari persembunyian. Bila melawan, Setan Ijo tidak segan bertingkah lebih mengerikan.

Dan, orang berduit senang dengan cara Setan Ijo mengusir para pengganggu urusan.

"Berarti Setan Ijo itu selalu jahat Mbah?"

"Tidak selalu demikian, Gus."

"Terus kapan dia jadi baik?"

Kata Mbah Molana, ketika urusan selesai, Setan Ijo bisa dengan mudah berubah watak menjadi baik. Semua berjalan normal. Dia tidak menampakkan diri pada orang kampung yang melintas di kebun bambu bekas arena sabung ayam.

Setan Ijo seperti terlelap. Kehidupan orang kampung ini menjadi tenteram dan damai.

"Kenapa bisa seperti itu Mbah?"

"Itulah kehidupan Gus. Hidup akan berjalan baik ketika tak ada orang yang saling mengganggu."

"Oooo begitu ya Mbah," kata Gusyon seakan mengerti.

"Setan Ijo hanya keluar ketika kehidupan orang berduit diganggu orang lain."

"Kenapa orang lain menggangu orang berduit, Mbah?"

"Karena mungkin iri. Mungkin juga dianggap melanggar aturan main."

"Hehehe... begitu ya Mbah," kata Gusyon kembali seolah-olah paham.

"Begitulah Gus. Kelak ketika dewasa, kamu akan mengerti soal ini."

"Terus, kenapa Setan Ijo tinggal di kebun bambu bekas arena sabung ayam, Mbah?"

Di kampung ini dulu, Mbah Molana berucap, terkenal dengan arena sabung ayamnya. Orang-orang kampung kerap berkumpul dan mengadu ayamnya di kebun bambu.

Kenapa di kebun bambu? Alasan pertama tempat ini jauh dari pemukiman.

Kedua, orang kampung percaya Setan Ijo senang dengan pohon-pohon bambu yang rindang.

Sebagian mereka meyakini, Setan Ijo bisa melindungi arena sabung ayam dari gangguan orang yang melintas.

"Entah itu menampakkan diri atau sekadar mengusirnya dengan lemparan batu."

"Ooo begitu ya Mbah."

Setelah peristiwa penggerebekan dua puluh tahun lalu, arena sabung ayam di kebun bambu di kampung ini memang tinggal cerita saja. Sejak saat itu, tak ada lagi warga kampung yang beradu ayam di tempat tersebut

Tapi, cerita Setan Ijo di kebun bambu tak pernah pudar di ingatan warga kampung.

Meskipun, Setan Ijo kini jarang memperlihatkan wujudnya ketika orang-orang lewat di kebun bambu bekas arena sabung ayam.

Mereka percaya Setan Ijo belum musnah.

Dia bisa kembali bergentayangan ketika arena sabung ayam itu dihidupkan lagi. Entah kapan.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #Cerita tentang Setan Ijo #jawapos #arena sabung ayam #cerita legenda #setan