Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Wisudha

Mahfud • Kamis, 13 Maret 2025 | 11:29 WIB

 

Mahfud
Mahfud

 

MUNGKIN, kata wisuda menjadi trending di masyarakat beberapa hari terakhir. Banyak dibicarakan. Terutama di lingkup dunia pendidikan. 

Lho, wajar kan? Toh wisuda memang terkait dengan dunia pendidikan. Dunia ajar-mengajar?

Tapi, trendingnya kata wisuda ini tak terkait dengan arti katanya, yang sesuai KBBI, berarti adalah peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat. Tapi, lebih pada keluarnya aturan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, yang melarang level sekolah menengah atas, baik umum maupun kejuruan, menggelar wisuda. 

Baca Juga: Murid

Aturan itu  memang sederhana. Bagi sekolah yang meluluskan siswa di kelas akhir, tak perlu menggelar seremoni wisuda. Cukup dengan pelepasan biasa. Sekilas, tak ada pengaruhnya pada siswa atau sekolah yang bersangkutan. Toh, mereka hanya lulus sekolah menengah. Yang sebagian besar masih akan meneruskan di pendidikan lanjutan, ke perguruan tinggi. Namun, ternyata, dampak dari aturan itu tak sesimple seperti yang dikira. 

Tentu saja pihak sekolah banyak yang kelimpungan. Apalagi, bagi yang sudah indent tempat di gedung pertemuan atau hotel-hotel berbintang. Kontrak mereka harus diatur ulang atau digagalkan. Risikonya, mungkin hilang uang panjar. 

Baca Juga: Oknum

Lalu, bagaimana dengan uang iuran yang sudah telanjur dikutip dari para siswa? Bagaimana dengan pengeluaran dekorasi, MC, bintang tamu, dan lain-lainnya? 

Belum lagi, pihak hotel atau pengelola gedung pun jadi batal mendapat order. Mungkin, uang panjar bisa mereka dapat. Tapi, potensi pemasukan lebih besar tentu saja menguap. 

Baca Juga: Ksatria

Masih ada lagi yang ikutan bingung. Perias, yang kini disebut make up artis alias MUA, yang biasa kebanjiran order. Juga tukang foto serta penjual buket. Padahal, momentum-momentum seperti ini yang mereka nanti-nantikan. Hilang pula pendapatan.

Lalu, bagaimana baiknya? Apakah wisuda-untuk pelajar bukan perguruan tinggi-itu tetap perlu? Atau sudah seharusnya ditiadakan saja? Karena jadi acara yang tak penting. Yang lebih banyak memusingkan orang tua.

Entahlah, sejak kapan wisuda untuk kelompok pelajar bukan perguruan tinggi itu jadi marak seperti sekarang ini. Semacam keharusan bagi mereka yang lulus di setiap jenjang. Jangankan anak SMA, yang SMP, SD, bahkan lulus dari play grup saja wisuda. Haruskah? Atau terlalu mengada-ada?

Sebenarnya, apa sih wisuda? Bila merunut asalnya, kata ini adalah serapan dari bahasa Jawa, wisudha. Maknanya, pelantikan bagi yang telah menyelesaikan pendidikan. 

Baca Juga: Kosong

Karena ada frasa ‘menyelesaikan’, maka kegiatan wisuda lebih identik dengan lulusan perguruan tinggi negeri. Karena di tahap itulah mereka dianggap telah melewati masa puncak pendidikan. Yang kemudian harus siap bergelut di masyarakat, di dunia kerja. 

Itupula yang membuat, awalnya, wisuda dimaknakan sebagai proses akhir dalam rangkaian kegiatan akademik di perguruan tinggi. 

Jadi, wisuda untuk anak SMA, apalagi TK, suatu hal yang tak perlu? Membuang-buang energi dan waktu? 

Baca Juga: Pecinan

Soal itu, coba bersama kita renungkan. Tentang makna kata wisudha tersebut lagi. Bila ingin lebih spesifik, sebenarnya bahasa Jawa menyerap kata wisudha dari bahasa Sansekerta, visuddha. Artinya, pemurnian, suci, murni, selesai, jelas, atau berbudi luhur. 

Artinya, wisuda adalah sesuatu yang menandai proses selesai. Berarti, kalau seorang pelajar diwisuda dia sudah selesai dalam tahap mencari ilmunya. Seperti ketika mencapai sarjana, pada hakekatnya dia memang sudah menuntaskan masa belajarnya. Kalaupun dia nanti ingin menempuh pendidikan lebih tinggi, itu adalah proses lain. Ketika menyandang sarjana, artinya dia sudah menjadi pelajar yang ‘paripurna’.

Baca Juga: Dasamuka

Padahal, mereka yang lulus SMA, apalagi TK, masih akan menempuh pendidikan lagi. Okelah, ada juga sebagian pelajar SMA yang memilih langsung bekerja. Namun, selain itu hanya sebagian, pada dasarnya proses belajar belum tuntas. Masih ada jenjang perguruan tinggi. Yang menjadi kesepakatan intelektual menjadi puncak dari proses belajar. 

Karena itu, saya lebih cenderung setuju bahwa tahapan wisuda untuk kelompok sekolah  menengah atas hingga dasar adalah sesuatu yang percuma. Yang tidak usah digelar. Di tahapan tersebut, yang dilakukan cukuplah pelepasan atau perpisahan. Tidak usah dengan prosesi wisuda yang lengkap dengan pakaian kebesaran dan seremoni kaku selayaknya lulus dari perguruan tinggi. Juga, tak perlu menyewa gedung di balai pertemuan mewah atau  hotel berbintang. Cukup di sekolah, menggelar dengan sederhana. Menampilkan potensi-pontesi siswa-siswanya. Masih bisa meriah dan menarik kan?

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

Editor : rekian
#dunia pendidikan #Make up artis #sma #tk #wisuda