Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional

Sompret

Redaksi • Minggu, 9 Maret 2025 - 02:52 WIB

 

Sompret
Sompret

Suatu ingatan acak membawa saya kepada kenangan masa kecil semasa melalui pendidikan dasar di Pulau Bintan. Ialah tentang seorang keturunan Tionghoa yang memiliki kedai di sekolah, menjual aneka makanan, salah satunya es kepal—es balok yang diserut, lalu diberi sirop merah. Kami menyebutnya Baba Sompret, karena kebiasaannya berteriak “sompret!” setiap kali marah. Dulu, saya mengira sompret sekadar makian yang entah apa artinya. Kini, rasa ingin tahu mengusik saya: apa sebenarnya arti sompret?

Dalam KBBI, sompret disebut sebagai kata yang berasal dari bahasa Melayu Jakarta dengan dua arti: trompet dan kata makian. Namun, sumber-sumber lama justru menunjukkan bahwa istilah ini memiliki banyak variasi ejaan. Grashuis (1898) mencatat selompret sebagai padanan dalam bahasa Jawa untuk kata trompet dalam bahasa Belanda, sementara Eysinga (1855) mencatatnya dalam bahasa Melayu dengan ejaan salompret. Klinkert (1901, 1902) bahkan mencatat beberapa varian seperti selompret, selomperet, dan terompet. Kamus Belanda-Melayu Klinkert (1916) mencatat slompret sebagai trompet, sejalan dengan Visser (1913) yang menerjemahkannya sebagai hoornblazer, peniup terompet. Kamus Belanda-Jawa Diwarno (1932) juga mengaitkan slompret dengan alat musik tiup seperti klaroen dan kornet. Van Ronkel (1926) mencatat bentuk selompret, sedangkan dalam Van der Tuuk (1877) ditemukan terompet dalam aksara Jawi.

Tidak satu pun dari sumber-sumber tersebut menyebutkan sompret berasal dari bahasa Melayu Jakarta. Bahkan, dalam Kamus Melayu-Inggris Wilkinson (1901), sompret dan variasinya tidak ditemukan, tetapi terompet tercatat sebagai padanan untuk trumpet. Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa sompret dan turunannya semula merupakan istilah dalam bahasa Jawa sebelum akhirnya diserap ke dalam bahasa Melayu. Proses serapan ini juga tampaknya diiringi perubahan fonetik. Kata trompet dalam bahasa Belanda mengalami modifikasi bunyi saat masuk ke bahasa daerah. Bentuk seperti slompret dan selompret menunjukkan adanya sisipan s- atau se- di awal kata, yang mungkin muncul akibat pola pengucapan dalam bahasa Jawa.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Poerwadarminta (1954), sompret tidak ditemukan. Poerwadarminta mencatat terompet sebagai bentuk baku dalam bahasa Indonesia, sementara berbagai variasi seperti selompret dan slompret tampaknya dianggap sebagai kosakata daerah sehingga tidak dimasukkan ke dalam kamus ini. Menariknya, KBBI saat ini justru menganggap trompet sebagai bentuk baku, sedangkan terompet tidak baku.

Dalam Music in Java karya Jaap Kunst (1949), sompret masih digunakan sebagai istilah untuk alat musik tiup dari bambu dengan corong daun palem. Tetapi dalam catatan Kunst, disebutkan bahwa di daerah Sala, bentuk yang lebih umum digunakan adalah sompret, tanpa r atau l, berbeda dengan selompret yang lebih dikenal di daerah lain. Dalam bahasa Jawa juga ada kata seperti semprit, yang menggambarkan suara nyaring seperti kicauan burung, serta ungkapan pa-ting salemprit, yang menggambarkan suara keras yang terdengar di mana-mana. Di Bali, ada pula kata preret, yang digunakan untuk menyebut alat musik tiup serupa. Kemiripan bunyi ini menguatkan dugaan bahwa sompret berasal dari kata yang meniru bunyi alat musik atau suara melengking.

Catatan lain yang menarik datang dari Pijnappel (1875), yang mencatat kata terijak dengan makna berteriak, berseru dengan suara keras, atau menghasilkan bunyi seperti trompet. Kata-kata yang menggambarkan suara nyaring sering kali mengalami perubahan makna menjadi ekspresi emosional atau seruan kemarahan. Jika terijak dapat menggambarkan suara lantang yang kemudian diasosiasikan dengan luapan emosi, maka perubahan serupa mungkin terjadi pada sompret—dari alat musik yang berbunyi keras menjadi kata seruan yang digunakan dalam keadaan marah atau kesal.

Perubahan makna ini juga dapat dilihat dalam sejarah pers di Hindia Belanda. Pada tahun 1860, terbit sebuah surat kabar berbahasa Melayu berjudul Selompret Malajoe, yang bertahan hingga 1911. Nama ini tampaknya tidak hanya merujuk pada alat musik, tetapi juga berfungsi sebagai simbol suara yang menyampaikan berita. Seperti trompet yang ditiup untuk mengumumkan sesuatu, selompret dalam konteks ini menjadi lambang kejelasan dan pemberitaan—suatu bentuk perluasan makna yang berbeda dari sompret, tetapi tetap berkaitan dengan sifat bunyinya yang mencolok.

Seiring waktu, sompret mengalami perluasan arti. Kata ini tetap berhubungan dengan alat musik, tetapi sifat bunyinya yang mendadak dan nyaring membuatnya digunakan untuk mengekspresikan kejengkelan.

 

Penulis : Abdullah Muzi Marpaung

Lahir di Bintan tahun 1967. Sekarang ia adalah dosen Teknologi Pangan Universitas Swiss German. Ia juga memiliki minat yang tinggi terhadap bahasa dan sastra Indonesia dan merupakan narasumber Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk penyusunan istilah Ilmu dan Teknologi Pangan. Artikel-artikelnya terkait bahasa, makanan tradisional Indonesia, dan karya sastranya baik puisi maupun cerita pendek telah dimuat di sejumlah media massa.

 

Editor : Jauhar Yohanis
#catatan #terompet #opini