Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Azab Pedih Pengoplos Bensin

Anwar Bahar Basalamah • Minggu, 2 Maret 2025 | 04:43 WIB
Ilustrasi penjual Pom Bensin.
Ilustrasi penjual Pom Bensin.

Sudah dua bulan ini, usaha Pom Bensin Mini Pak Mukhol dan Bu Timuk sedang ramai-ramainya.

Pelanggannya datang silih berganti mengantre untuk mengisi BBM kendaraan mereka. Usaha yang baru dirintis Pak Mukhol bersama istrinya setahun terakhir itu ibarat jualan kacang di pasar malam. Laris manis tanjung kimpul.

Orang-orang bukan hanya terkesima dengan pelayanan Bu Timuk yang ramah. Bu Timuk tidak cuma basa-basi mengatakan "mulai dari nol ya" kepada pelanggannya atau sekadar menerapkan jargon 3S (senyum, sapa salam) saja.

Lebih dari itu, ibu satu anak ini sudah menaikkan standar pelayanan menjadi 6S plus MP (senyum, sapa, salam, salim, sopan, santun). Dan, satu lagi yang paling disukai pelanggan dibanding pom bensin yang lain adalah Murah Pol.

Strategi Murah Pol terbukti manjur mendatangkan pelanggan baru dari hari ke hari. Bila di pom bensin lain harganya Rp 13.000 per liter, Pak Mukhol dan Bu Timuk berani membanderolnya dengan harga Rp 11.000 per liter.

Dalam sejarah usaha per-Pom Bensin-an di kampung Bu Timuk, belum ada ceritanya harga BBM semurah itu.

"Apa tidak takut rugi, Bu Timuk?" tanya seorang pelanggannya suatu ketika.

Mendapat pertanyaan retoris seperti itu, Bu Timuk biasanya membalas dengan senyum. Tidak ada jawaban diplomatis.

Tapi, jalan usaha tidak selalu berjalan lurus. Ada saja orang yang mencurigai sepak terjang Pak Mukhol dan Bu Timuk dalam menjalankan bisnis Pom Bensinnya.

"Kok warna bensinnya sekarang jadi lebih kehijauan, Bu?

"Ah, Lek No. Mana mungkin bensin saya berubah warna."

"Iya Bu. Sekarang berubah warnanya, berbeda dengan pertama kali saya beli di sini, agak kebiruan"

"Itu artinya kualitas bensin saya lebih bagus Lek No."

"Apa iya seperti itu?"

"Iya dong."

"Bensin ini tidak dicampur air kan, Bu?"

"Hehehehe... Bisa-bisanya Lek No bilang begitu."

"Maksud saya..."

Lek No tak melanjutkan.

Sebenarnya, kecurigaan warna bensin yang tak lazim itu tidak hanya datang dari Lek No. Pelanggan-pelanggan lain juga merasakannya.

Akan tetapi, mereka sungkan saja untuk menanyakan pada Pak Mukhol maupun Bu Timuk. Orang-orang ini lebih memilih diam dan sesekali rasan-rasan di gardu kampung.

"Kok saya curiga ya."

"Iya sepertinya bensinnya sudah dioplos."

"Warnanya aneh, baunya juga tidak tajam."

Begitulah percakapan yang mengalir di kalangan pelanggan perihal sangkaan bensin oplosan di Pom Bensin Mini Pak Mukhol dan Bu Timuk.

Meski sudah sering dighibah, pelanggan Pom Bensin Mini pasangan suami istri ini tidak lantas surut. Malah pembelinya terus bertambah. Terutama dari kampung sebelah.

Pak Mukhol dan Bu Timuk makin kaya raya. Uangnya kian melimpah dari usaha Pom Bensin Mini ini.

Mereka seperti tidak peduli dengan komplain dan cibiran orang soal bensin yang dioplos. Bagi Pak Mukhol dan Bu Timuk, keuntungan di atas segalanya.

"Pak, awakdewe saiki sugih."

"Iya Buk. Uang kita segunung."

"Ternyata mereka mudah sekali kita bodohi ya Pak."

"Bensin oplosan kita memang juaranya, Buk."

"Benar Pak."

"Ayo Buk kita kerja lagi. Kita oplos bensin ini dengan air, Buk."

Ketika keluh kesah pelanggan tak dihiraukan lagi oleh Pak Mukhol dan Bu Timuk, tangan Tuhan sepertinya bekerja dengan cara lain.

Kejahatan mereka mulai terbongkar. Lek No, yang kali pertama curiga, dikabarkan motornya terjungkal setelah mengisi bensin di tempat Pak Mukhol dan Bu Timuk.

Jeng Enol pun mengalami insiden serupa. Tubuh mulusnya itu babras usai motornya geol-geol tidak terkendali ketika belok di tikungan. Padahal sebelum ini, motor maticnya itu selalu sukses melewati kelokan.

Para tukang ojek pengkolan yang beberapa hari ini menjadi pelanggan baru, tiba-tiba saja berdemo di depan rumah Pak Mukhol dan Bu Timuk.

Mereka menuntut pertanggungjawaban Pak Mukhol dan Bu Timuk atas kerusakan motor sejumlah pengojek. Saking dongkolnya, pendemo ini bersumpah serapah agar keduanya segera diazab Tuhan dengan azab yang pedih.

Saat demonstran dari golongan ojek ini berteriak-teriak, tiba-tiba saja terdengar suara "buuuummm" dari dalam kediaman Pak Mukhol dan Bu Timuk. Percikan api secepat kilat merambat ke setiap sudut rumah.

Si jago merah berkobar hebat. Pak Mukhol dan Bu Timuk tak tahu harus lari ke mana. Di sekelilingnya api menyala seolah hendak menerkam keduanya.

Berteriak meminta tolong juga percuma. Semua orang sudah menyumpahi mereka. Sepertinya azab Tuhan sedang menghampiri Pak Mukhol dan Bu Timuk.

Mereka hanya pasrah dengan keadaan. Bu Timuk mulai menyadari kesalahannya, meski sudah terlambat. Di tengah kepasrahan itu, api dari atap rumah sekonyong-konyong menyembur tubuh Bu Timuk.

"Tolong Tuhan, ampun Tuhan. Saya bertobat Ya Tuhan."

Dengan napas yang terengah-engah, Bu Timuk menghampiri Pak Mukhol di teras rumah.

"Pak ayo kita segera bertobat."

"Tobat apa buk?"

"Tobat kepada Tuhan Pak."

"Iya bapak tahu kita harus senantiasa bertobat atas semua kesalahan kita. Tapi kok tumben ngajaknya dengan tergesa-gesa."

"Usaha Pom Bensin kita Pak... Pom Bensin kita."

"Pom Bensin apa? Kita tidak punya usaha Pom Bensin. Malah bapak lagi jengkel setelah melihat berita di tv, masak Pertamina mengoplos Pertalite jadi Pertamax."

"Pak....."

Di tengah keriuhan mereka, Gusyon, anak semata wayang Pak Mukhol dan Bu Timuk terus merengek karena belum juga disiapkan bekal makan untuk ke sekolah. Padahal jarum jam sudah menunjuk pukul enam lebih sepuluh menit.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#azab #pom bensin #opini #korupsi #bensin