Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inscure Dalam Islam, Bagaimana Seharusnya Gen Z Menyikapi Hal Ini?

Redaksi • Sabtu, 1 Maret 2025 | 13:03 WIB
Inscure
Inscure

Salah satu hal terjahat yang dilakukan manusia adalah meragukan dirinya sendiri. Momen-momen transisi seperti: fase remaja menuju mahasiswa, fase pembelajar menuju peniti karir, serta seluruh rentetan pendewasaan hidup mempunyai andil besar dalam memunculkan keraguan tersebut.

Kasta tertinggi meragukan diri sendiri akan membawa manusia pada krisis identitas. Kondisi psikologis ketika seseorang mengalami kebingungan atau ketidakpastian tentang siapa dirinya, termasuk nilai-nilai, keyakinan, tujuan hidup, dan peran sosialnya. Pemuda usia 20-30 tahun pengidap akutnya. Jika kamu berada di rentang umur ini kamu berhak mendapat sambutan Selamat datang di fase “quarter life crisis”.

Tapi kamu tidak perlu khawatir, Krisis identitas datang bersamaan dengan gerakan-gerakan pencarian jati diri. Beberapa membahasakannya dengan self-awareness: kemampuan untuk mengenali dan memahami diri sendiri. Atau istilah lebih kerennya lagi dipinjam dari Bahasa Jepang “IKIGAI” yang berarti alasan untuk hidup.

Padahal jauh sebelum hal-hal ini viral, agama Islam sudah lebih dulu menjadikannya konteks pembahasan. Ma’rifatun nafs (mengenali diri sendiri) namanya. Termaktub dalam Al-Qur’an & sunnah, yang kemudian dijabarkan dalam kitab-kitab klasik warisan ulama.

Ma’rifatun nafs (mengenali diri sendiri) adalah seni yang membutuhkan refleksi mendalam dan kejujuran terhadap diri sendiri. Dalam Islam, proses ini bukan sekedar menemukan kebahagiaan (seperti tujuan self-awareness & IKIGAI), tetapi juga untuk memahami peran manusia sebagai khalifah di bumi.  Sebagaimana dalam firman Allah:

إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً

Sesungguhnya aku hendak menjadikn seorang khalifah di muka bumi (al-Baqarah:30)

Konsep paling sederhana tentang ma’rifatun nafs dapat kita temui dalam kitab madarijus salikin. Lewat penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Beliau menerangkan bahwa “Seseorang tidak akan mampu meningkatkan kualitas ibadahnya sebelum memahami kondisi dirinya sendiri.” Hemat kata pengenalan diri akan membawa kita kepada kesadaran untuk apa manusia diciptakan. Tidak lain tidak bukan adalah untuk ibadah.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (az-Zariyat: 57)

Itulah mengapa semakin dalam pemahaman seseorang tentang dirinya, semakin tinggi pula kualitas ibadah kepada Rabbnya. Hal ini selaras dengan kalimat bijak yang sering dikutip dalam literatur sufi:

من عرف نفسه فقد عرف ربه

Ibnu Athaillah dalam Lathaiful Minan menafsirkan ungkapan ini dengan menyebutkan bahwa pengenalan diri (ma’rifat an-nafs) adalah langkah awal menuju pengenalan kepada Allah (ma’rifatullah). Seseorang yang berhasil menyadari kelemahan, kekurangan, dan batas-batas dirinya, akan melihat betapa agungnya Sang Pencipta yang telah memberinya karunia hidup dan kekuatan. Menyadari kelemahan ini bukanlah untuk merendahkan diri secara negatif, melainkan sebagai cara untuk mengakui bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia adalah anugerah Allah semata.


3 FASE PENEMUAN JATI DIRI

1. Mujahadatun-nafs (Self-Discipline)

Mujahadah mengacu pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosinya, keinginannya & kebiasaannya demi mencapai tujuan jangka Panjang. Buah dari mujahadatun nafs adalah hilm (kesabaran & kelembutan dalam menghadapi situasi. Yang sekarang dipopulerkan oleh Daniel Goleman dengan istilah Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional)

2. Tazkiyatun Nafs (Self-Actualization)

Setelah berhasil meregulasi diri, proses selanjutnya adalah tazkiyatun-nafs: aktualisasi diri. Dalam Islam tazkiyah dapat dimulai dengan mengombinasikan antara passion dan ketekunan jangka panjang. Sesimpel bagaimana kita mencari ladang amal mana yang akan kita pilih untuk mengistiqomahkan ibadah. Karena dengan begitu ibadah akan menjadi kebiasaan yang ringan, bahkan angin segar yang selalu ingin dilakukan, diistiqomahkan.

3. Ihsan (Personal Mastery)

Personal Mastery (penguasaan diri) yang dikenalkan oleh Peter Senge ternyata sudah lebih dulu termaktub dalam ajaran Islam. Menjadi tingkatan tertinggi derajat seorang hamba setelah iman dan islam. Dalam hadis riwayat muslim: 

قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ (رواه مسلم)

Beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Fase ihsan akan membuahkan keasadaran bahwa Allah selalu mengawasi -muraqabatullah. Baik ada ataupun tidak ada orang yang melihat, lakunya akan tetap dilandaskan pada apa yang dicintai Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Ihsan inilah tujuan yang ingin dicapai dari proses penemuan jati diri sebagai muslim.

MENCAPAI IHSAN LEWAT RAMADHAN

Ramadhan menjadi momentum paling pas untuk memulai perjalanan ma’rifatun-nafs. Pada hari-hari biasa penemuan jati diri akan memerlukan waktu yang lama. Tapi Ramadhan berbeda. Kita seperti diberi akses kereta cepat untuk mencapai ihsan.

Bulan dimana syaitan-syaitan yang biasa mengganggu kini dibelenggu. Bulan dimana umat muslim bisa mengandalkan ibadah puasa sebagai perisai hawa nafsu. Bulan yang mengantarkan kita pada dzikir dan tafakkur pada malam-malam syahdu hingga gemuruh takbir kemenangan saling beradu.

Begitulah hikmah yang Allah simpan lewat puasa Ramadhan. Tidak sekedar menahan lapar dan haus tapi sampai tingkat mujahadah dan tazkiyatun-nufus. Barangsiapa yang berhasil menaklukkan Ramadhan, Allah akan menyambutnya dengan kemenangan ihsan.

Mari tidak melewatkan momen ini, menjadikan Ramadhan sebagai titik awal menujupeningkatan spiritual dan Personal-mastery. Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga semakin dekat dengan tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Wallahu a’lam bi sowab.

Penulis : Farah Fawziyah Chusnaniati, LLM

Editor : Jauhar Yohanis