SERING mendengar kata oknum? Atau kerap membaca di berbagai platform media? Tentang oknum aparat yang berbuat jelek? Atau oknum kepala desa yang ketahuan berselingkuh?
Oknum guru yang viral tampil dalam video syur? Oknum, oknum, oknum. Lalu, apakah sebenarnya oknum? Maknanya? Artinya?
Baca Juga: Ksatria
Coba kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Atau, di zaman termutakhir ini, coba kita klik di laman pencarian. Maka, klik! Keluarlah maklumat dari si kecerdasan buatan. Mengutip dari KBBI online. Menulis ada tiga arti kata ‘oknum’. “Penyebut diri Tuhan dalam agama Katolik, orang seorang atau perseorangan, orang atau anasir (dengan arti yang kurang baik)”.
Artinya, dua dari tiga makna itu tak menyiratkan kata ‘oknum’ sebagai sesuatu yang negatif. Tuhan tentu adalah sumber dari kebenaran. Sedangkan orang seorang atau perseorangan adalah kata bebas. Bergantung masuk dalam kalimat apa kata tersebut. Barulah di arti ketiga disebut ‘oknum’ adalah anasir.
Baca Juga: Mental Tempe Baca Juga: Pecinan
Lalu, mengapa selama ini kita menganggap oknum adalah arti ketiga? Sebagai anasir. Orang yang terpisah dari kelompoknya karena perbuatan jahat dan kejinya?
Misal, oknum polisi adalah satu orang yang kebetulan seorang polisi. Dia melakukan perbuatan yang menyalahi aturan. Artinya pula, si oknum itu tidak mewakili polisi sebagai institusi. Setiap perbuatannya adalah cerminan perilaku satu orang. Tidak mencerminkan sikap dan tindakan polisi sebagai institusi.
Baca Juga: Kosong
Pertanyaannya, bila tindakan itu ternyata dilakukan secara massif, apakah masih bisa menggunakan kata oknum? Ataukah maha-oknum?
Ada baiknya kita berkilas balik. Mencari tahu sejak kapan kata oknum itu digunakan dalam makna anasir seperti itu. Dan, pencarian melalui mesin pasti akan merujuk pada era Orde Baru. Era yang membesarkan nama mantan Presiden Soeharto.
Baca Juga: Dasamuka
Agar lebih mudahnya, coba kita ngeplek penjelasan dari si kecerdasan buatan. Yang menerangkan bahwa kata ‘oknum sering dikaitkan dengan masa Orde Baru. Pemaknaan negatif kata ‘oknum’ pada masa itu dianggap wajar dan massif. Dalam satu korpus berbahasa Indonesia, kata ‘oknum’ berkolokasi dengan TNI, polisi, kepala sekolah, dan wartawan.
Dalam konteks sosial budaya, kata ‘oknum’ sering digunakan untuk menyebut orang yang melakukan tindakan yang dianggap merugikan atau memalukan kelompok atau komunitas tertentu.
Baca Juga: Bacalah!
Fakta itu seakan menjelaskan ada upaya untuk ‘memisahkan’ seseorang yang berbuat jahat dari kelompok besarnya. Akhirnya, agar kelompok tersebut tidak kecipratan dampak buruk, terutama persoalan citra baik, maka disebutlah dia dengan kata ‘oknum’.
Salahkah? Tentu saja tidak. Toh, KBBI sudah menyatakan bahwa makna seperti itu benar adanya. Terlepas bahwa sebenarnya juga ada makna oknum lain. Toh, dalam konteks perbuatan jahatlah kata ‘oknum’ lebih sering digunakan.
Baca Juga: Bunga Trotoar
Mengapa hal itu terjadi? Mungkin, ini adalah bentuk dari sifat manusia. Yang berusaha melindungi kelompok. Dengan mengorbankan anggotanya agar bagian yang lebih besar terselamatkan.
Mungkin pula ini karena filsafat mikul duwur mendem jero yang dimiliki orang Indonesia pada umumnya, dan orang Jawa pada khususnya. Naluri sebagai orang timur adalah mendem (mengubur) dalam-dalam setiap kesalahan. Karena itu, bila ada bagian yang salah ya harus dikubur, dihilangkan. Salah satu caranya adalah dengan menyebut yang salah itu dengan sebutan oknum. Ketika oknum ini yang ‘dikubur dalam-dalam’ maka selamatlah wajah komunitas.
Baca Juga: Kediri Kuthone, Sing Dadi Lak Carane
Benarkah seperti itu? Ah, itu hanya teori saya saja. Setelah melihat ramai-ramai kasus band punk Sukatani yang ujug-ujug minta maaf pada pak polisi. Ujug-ujug menarik lagunya yang berjudul ‘Bayar Bayar Bayar’. Padahal, saya belum pernah mendengar atau mendengarkan lagu itu. Peh!
Akhirnya, saya pun dengan berhasrat mencari tahu tentang lagu itu. Mendengarkan lirik-liriknya. Yang isinya memang serba bayar, bayar, dan bayar ke pak polisi. Waduh!
Baca Juga: Ibu
Muncullah asumsi massa. Dengan liar pula. Bahwa sikap band berpersonil cowok dan cewek yang hanya sepasang itu karena tekanan. Maka, justru lagu itu menjadi populer. Yang didengarkan tak hanya oleh penyuka musik punk. Melainkan sampai ibu-ibu yang biasanya suka lagu melow pun ikut menikmati. Hingga menjadi lagu kebangsaan para pendemo yang marak saat ini.
Lagi-lagi, salahkah Sukatani membuat lagu itu? Atau salahkah ‘oknum’ aparat yang melakukan ‘intimidasi’. Sulit untuk menjawab. Karena semakin ke sini, dunia tak lagi bisa dibenakan secara hitam putih. Tak bisa mengatakan benar dan salah secara tegas.
Sukatani tak bisa disalahkan begitu saja. Toh, itu memang ‘fakta’ yang ada di masyarakat. Meskipun itu dilakukan oleh ‘oknum’. Lagu mereka adalah suara protes mereka mewakili masyarakat. Bisa disebut sebagai kritik.
Tapi, bila kemudian benar ada intimidasi, yang melakukan pun tak bisa serta merta disalahkan. Toh, mereka berusaha melindungi nama baik institusi. Dalam anggapan mereka, yang selalu minta bayar-bayar-bayar itu adalah ‘oknum’.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian