Bunyi lonceng itu berdentang ketika Bu Timuk baru saja tiba di depan gerbang sekolah Gusyon sekitar jam setengah delapan.
Kehadiran Bu Timuk di pagi hari itu tidak lain dan tidak bukan karena panggilan dari Pak Kasek Noyo.
Selaku orangtua, ibu satu anak ini tengah menghadapi pusaran masalah yang runyam.
Gusyon, anak semata wayangnya itu berulah di kelas saat jam pelajaran dari Bu Weny sedang kosong.
Di depan para guru, Gusyon merasa tidak menyakiti siapa pun. Badru, teman sekelasnya, yang menangis sesenggukan menyangkal perkataan Gusyon. Menurut Badru, Gusyon sudah menyakitinya.
Air mata Badru kian tak terbendung ketika Gusyon enggan meminta maaf untuk yang kesekian kali meski para guru sudah memohonnya.
Atas tindakan Gusyon, Badru mengadu pada Bu Joyo, emaknya.
Pihak sekolah tidak tinggal diam. Mereka akhirnya memutuskan ikut memanggil Bu Joyo.
Jadilah dua emak-emak ini masuk ke ruangan Pak Kasek Noyo untuk menyelesaikan konfrontasi antar anak mereka.
"Sebenarnya, apa yang dilakukan Gusyon pada Nak Badru?" tanya Bu Timuk memecah keheningan obrolan tiga orang ini.
"Kalau saya bilang, sebenarnya ini masalah sepele Bu. Tapi, juga tak bisa dikatakan sepele."
"Maaf Pak Kasek, ini persoalan berat. Bukan sepele dan tidak sepele," kata Bu Joyo, emosi.
"Kalau memang berat, apa salah anak saya, Bu Joyo?"
"Anak ibu sudah...."
"Sebentar, sebentar. Sebelum diteruskan, lebih baik saya saja yang menjelaskan pada ibu-ibu sekalian."
Pak Kasek Noyo mencoba bijak menengahi konflik antara Gusyon dan Badru yang mulai merembet ke orangtua mereka itu.
"Menurut keterangan teman-temannya di kelas, Gusyon sudah mengumpat Badru dengan kata-kata Ndasmu!."
"Apa Ndasmu!? Maksud saya anak saya mengatakan seperti itu?"
Semua terdiam. Bu Joyo yang sedari awal tampak emosional tiba-tiba menutup mulutnya rapat-rapat begitu melihat wajah Bu Timuk merah padam.
Pak Kasek Noyo pun sama, tak berani melanjutkan pembicaraan.
Setelahnya tidak ada obrolan lanjutan. Sejak saat itu Bu Timuk langsung menyatakan permohonan maaf atas nama Gusyon kepada Bu Joyo.
Bu Timuk menyadari kesalahan putranya. Menurut pemahamannya, ungkapan Ndasmu! tidak pantas terlontar dari mulut seorang anak kelas 5 SD.
Tidak heran Badru terisak dan Bu Joyo mati-matian mau membela anaknya itu.
Kepada Gusyon, Bu Timuk tidak pernah mengajarkan untuk mengumpat.
Apalagi menggunakan kata-kata Ndasmu!, yang kalau diucapkan berulang-berulang, efeknya begitu menusuk hingga ke ulu hati. Sakit rasanya!
Sebagai orang Jawa tulen, Bu Timuk tahu umpatan Ndasmu! sangatlah kasar.
Tidak terbesit sekali pun mengapa Gusyon bisa mengucapkannya.
Ndas atau endas yang berarti kepala, dalam struktur kebahasaan, termasuk strata paling rendah di bahasa Jawa.
Jika ingin lebih halus, orang Jawa akan menyebutnya sirah.
Yang paling halus atau bahasa krama inggilnya disebut sebagai mustaka.
Karena tingkatannya yang paling bawah, kata ndas sering dipakai untuk binatang. Misal ndas pitik (kepala ayam), ndas wedus (kepala kambing), ndas iwak (kepala ikan), dan ndas kebo (kepala kerbau).
Maka, sangat tidak pantas kata ndas digunakan untuk manusia.
Kata ndas biasanya hanya diungkapkan ketika seseorang itu merasa jengkel, marah atau kesal terhadap sesuatu.
Dengan nada emosional, orang akan mengatakan Ndasmu!. Tapi, kata ndas bisa dikategorikan sebagai ucapan candaan antar teman dengan persyaratan yang tentu saja kompleks dan sesuai konteks.
Guyonan dengan kata Ndasmu! bisa saja sangat menyakitkan ketika konteksnya tidak tepat.
Sepanjang mengasuh Gusyon, Bu Timuk sejatinya tidak pernah mendengar anaknya itu mengumpat dengan kata Ndasmu!
Makanya, begitu tahu Gusyon secara sengaja dan sadar mengumpat dengan kata Ndasmu, Bu Timuk mulai menelisik sebenarnya apa yang terjadi.
Pasti ada sebab-musabab yang melatarbelakanginya. Di rumah, Bu Timuk selalu mengingatkan Gusyon untuk tidak menggunakan kata-kata kasar.
"Kenapa kamu mengumpat dengan Ndasmu!"
"Aku tidak tahu kalau itu ternyata menyakiti, Mak."
"Siapa yang mengajarimu? Apakah emakmu ini yang mengajarkanmu memaki dengan Ndasmu!?
"Bukan Mak. Bukan Emak."
"Lalu siapa?"
"Lek No, tetangga depan rumah."
Lek No kini menjadi sosok biang keladi dari semua persoalan ini. Tapi, dia juga mengikuti perkataan itu dari televisi dan video yang beredar di media sosial.
"Apa yang dikatakan Lek No kepadamu?"
"Presiden saja bilang Ndasmu!. Jadi nanti kalau kamu mengucapkan itu ke temanmu, pasti nggak marah. Begitu Mak, katanya."
"Oooo... Ndasmu Gus!"
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah