DARI mana asal-muasal menyebut orang yang cengeng dan mudah menyerah dengan istilah mental tempe? Coba cari di internet. Yang muncul adalah nama Soekarno. Ya, presiden pertama Republik Indonesia tersebut adalah sosok yang memopulerkan istilah mental tempe. Tujuannya, sebagai alat agitasi. Mempengaruhi warga Indonesia agar terpacu untuk maju. Bersaing dengan negara-negara maju kala itu.
Praktis, di era revolusi dan orde lama, frasa mental tempe punya kelas rendahan. Bersanding dengan mental kuli, simbol pemalas, cengeng, gampang putus asa, dan semua citra buruk yang melekat pada sosok pecundang.
Mengapa Soekarno memilih tempe sebagai simbol lemah? Entahlah. Yang pasti, istilah itu akhirnya melekat sangat dalam. Menjelma menjadi stereotip seseorang yang lemah, malas, cengeng, dan sifat yang berlawanan dengan hasrat untuk maju dan punya semangat juang tinggi. Hingga saat ini, masih jamak orang menyebut mereka yang kalah, atau mereka yang dikalahkan, dengan orang bermental tempe.
Baca Juga: The Power of Personal Branding
Benarkah tempe sebagai biang keladi lemahnya mental seseorang? Apakah pengonsumsi tempe adalah mereka yang tak punya motivasi hidup tinggi? Ataukah memang tempe adalah bahan pangan yang tak mengandung nutrisi hebat? Nutrisi yang menyehatkan?
Coba kita sodorkan fakta tentang tempe. Dari berbagai sumber penelitian, tempe adalah bahan pangan yang lengkap. Memiliki nutrisi tinggi. Tak hanya protein tapi juga vitamin, mineral, dan serat! Belum lagi kandungan-kandungan gizi yang masih asing di telinga awam.
Dalam 100 gram tempe diyakini mengandung 20-22 gram protein. Jauh lebih tinggi dibanding bahan pangan lain yang juga penyumbang protein. Tempe pula yang konon bisa menurunkan kadar kolesterol serta melindungi dari serangan jantung. Nah, kurang lengkap bagaimana nutrisi dari makanan ini.
Baca Juga: Jamu Manis Kebijakan Makroprudensial untuk Mendukung Ketahanan Pangan
Tempe juga merupakan makanan khas Indonesia. Konon pula, sudah ada sejak abad 16. Atau nyaris bersamaan dengan datangnya meneer-meneer VOC yang datang untuk mencari daerah jajahan.
Fakta lain yang tak boleh dilewatkan adalah, tempe ternyata merupakan makanan kegemaran Soekarno! Tokoh besar Indonesia yang justru memopulerkan istilah mental tempe.
Mengapa Soekarno yang menyukai tempe justru menjadikan makanan favoritnya itu sebagai simbol keterbelakangan? Tentu saja bukan untuk merendahkan. Melainkan sebagai alat propaganda. Agitasi. Menyalakan semangat rakyatnya yang tengah menghadapi tantangan besar. Baik dari luar maupun dalam negeri.
Apakah Soekarno tidak tahu bahwa tempe benar-benar bahan pangan yang bernilai besar? Bukan panganan kaleng-kaleng? Saya yakin beliaunya paham. Namun, mungkin, tempe dianggap sesuatu yang hanya bermakna di tanah air. Jagoan di Indonesia tapi sulit bersaing di kancah internasional. Singkatnya, tempe dianggap Soekarno simbol sebagai jago kandang.
Padahal yang dibutuhkan salah satu proklamator tersebut adalah mental bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Bukan status sebagai jago kandang. Maka, simbolisasi yang digunakan adalah tempe. Yang harus ditinggalkan jika mau bersaing dengan bangsa lain.
Oke, teori itu bisa jadi pembenaran penggunaan istilah mental tempe untuk menyebut mental kacangan. Mental mudah menyerah. Lalu, bagaimana dengan kekinian?
Baca Juga: Kisah Sukses Wong Kediri Bangun Dua RS di Malang-Pasuruan
Justru perkembangan terkini menunjukkan bahwa kita tak boleh bermental tempe. Bukan karena menjadi makanan rakyat jelata yang tak memiliki gizi apa-apa. Bukan itu. Melainkan karena ketergantungan tempe pada sesuatu yang di luar jangkauan kita. Karena untuk membuat tempe kita memerlukan bahan kedelai yang masih harus diimpor!
Lho, mengapa makanan rakyat bahan bakunya bergantung petani luar negeri? Banyak hal yang membuat kondisi seperti itu. Pertama, jumlah petani kedelai di Indonesia sangat sedikit. Membuat produksi kedelai juga rendah. Catatan pada 2022 produksi kedelai nasional hanya 301 ribu ton. Bandingkan dengan kebutuhan nasional yang mencapai 2,8 juta ton! Artinya, ada defisit 2,5 juta ton!
Mengapa sedikit petani yang mau menanam kedelai? Salah satunya lahan pertanian yang menyempit. Kemudian, kualitas benih yang rendah membuat varietas lokal tak produktif. Satu lagi adalah masalah iklim. Kedelai ternyata kurang cocok dengan iklim Indonesia.
Baca Juga: Stadion Brawijaya Nasibmu Kini
Jeleknya kualitas kedelai petani kita itu akhirnya membuat para perajin tempe enggan menggunakan. Alasannya, terlalu kecil dan kurang empuk ketika menjadi tempe. Walhasil, kian bergantunglah mereka pada kedelai impor.
Nah, begitu karut-marutnya persoalan kedelai dan tempe itu, membuat mental tempe kembali bisa jadi pengingat. Bukan untuk merendahkan, melainkan kita harus lepas dari situasi seperti itu. Jangan sebagai bangsa yang merdeka justru kita belum bisa mandiri. Lha wong agar bisa membuat makanan rakyat saja ternyata masih bergantung pada kekuatan asing. Isin kan?
Dari sudut pandang seperti ini, sudah layak memang bila rezim sekarang ini menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama. Tentu saja, langkah yang diharapkan pertama-tama bagaimana membuat proses bercocok tanam bisa mudah bagi petani. Pupuk mudah, pengairan mudah, benih mudah, obat-obatan tanamana mudah, pemasaran mudah, dan pekerjaan sebagai petani bisa menguntungkan.
Baca Juga: Meyakini Kebenaran atau Membenarkan Keyakinan?
Sayangnya, itu masih jauh panggang dari api. Untuk mendapatkan pupuk non-subsidi saja masih sulit. Apalagi mencari pupuk subsidi. Jangan-jangan, ketika gerakan pengetatan anggaran diterapkan seperti saat ini, anggaran untuk subsidi ikut dikepras. Kalau seperti itu, nasib para petani bakal lebih sulit lagi. Semoga itu tidak terjadi. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian