Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional

Kosong

Mahfud • Kamis, 6 Februari 2025 - 04:15 WIB
Mahfud
Mahfud

Mana yang lebih berbahaya? Otak kosong atau perut kosong? Mungkin, banyak yang memilih lebih baik otak kosong asalkan perut tidak kosong.

Mengapa? Alasannya, mungkin, melihat dari sisi kesehatan. Memiliki otak kosong alias bodoh tapi kenyang lebih bagus bagi kondisi fisik. Sebab, perut kosong tak berisi bisa membuat kita tak memiliki tenaga. Tak punya energi. Dampaknya akan mengganggu fungsi otak. Kepala jadi pusing, nggliyeng kata orang Jawa.

Beda kalau otak kita kosong tapi perut kenyang. Kita bisa tetap sehat meskipun bodoh. Paling, risikonya, kita hanya jadi pesuruh orang yang lebih pintar. Hanya bisa kerja-kerja kasar saja. Jadi kuli, buruh bangunan, atau pembantu. Pokok, yang kerjanya hanya disuruh-suruh orang.

Baca Juga: Pecinan

Jadi, lebih penting perut terisi? Eits, tunggu dulu. Memang, ada yang berteori ketika lapar otak tidak bisa bekerja dengan baik. Gampangnya, ketika perut kosong manusia tidak bisa berpikir jernih. Tapi, ada pula penelitian ilmiah yang justru mengatakan sebaliknya. Otak, ternyata, paling bisa diandalkan dalam mengambil keputusan penting justru ketika sedang merasa lapar. Nah!

Paparan itu dikeluarkan bukan oleh orang sembarangan. Tapi dari penelitian yang dilakukan Utrech University Belanda. Para ilmuwan yang moyangnya dulu menjajah bangsa Indonesia ratusan tahun itu menyebutkan bahwa ketika lapar ada kecenderungan orang membuat keputusan berdasarkan target jangka panjang. Artinya, orang yang lapar akan cenderung tidak memilih sesuatu yang menguntungkan dalam jangka pendek tapi pada akhirnya justru merugikan.

Baca Juga: Dasamuka

Di zaman kolonial, penjajah lebih senang bila otak penduduk pribumi tetap kosong. Meskipun mereka tak sepenuhnya membuat kenyang tapi kebutuhan perut menjadi sesuatu yang memang disediakan. Pribumi tetap diberi makan meskipun tak berlebihan. Bahkan, sebagian di antaranya diberi jejalan makanan berlebih agar bisa membantu mereka menekan pribumi yang lain. Sementara, urusan otak tetap dibiarkan kosong. Tidak ada fasilitas pendidikan bagi pribumi hingga ada tekanan yang membuat politik penjajahan menjadi politik etik.

Artinya, dalam jangka pendek, memang terlihat menguntungkan otak yang kosong daripada perut kosong. Orang akan bisa hidup sehat. Mampu berjalan, mengerjakan sesuatu, dan melakukan hal-hal yang membutuhkan kerja anggota tubuh secara fisik.

Baca Juga: Bacalah!

Namun, bila dalam waktu lama, keadaan perut terisi tapi otak kosong seperti itu sangat berbahaya. Orang hanya terjebak pada kemampuan fisik belaka. Tanpa memiliki kepintaran menyusun strategi. Sebab, otak mereka tetap kosong. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana bisa makan dan makan.

Sementara, bila otak yang terisi tapi perut kosong, orang akan bisa menentukan upaya jangka panjang agar bisa menjadi lebih baik. Mungkin, dalam waktu pendek mereka merasa lelah dan tidak kuat melakukan pekerjaan berat. Tapi, otak mereka akan berpikir strategis. Mencari jalan bisa survive mencari cara menutup rasa lapar.

Baca Juga: Bunga Trotoar

Tapi, ternyata kita masih melihat bahwa perut kosong sangat berbahaya. Sehingga harus diutamakan untuk segera diisi. Setidaknya bila disandingkan dengan otak kosong. Buktinya, dalam pola pikir pemerintah saat ini, program makan bergizi gratis-yang tren dengan sebutan MBG-menjadi prioritas utama pembangunan. Bersama dengan ketahanan pangan, ketahanan energi, perumahan, dan pertahanan keamanan.

Lalu, di mana posisi pendidikan? Menjadi prioritas pendukung. Bersanding bersama dengan kesehatan. Artinya, program untuk mengisi otak kosong ini jadi prioritas kedua.

Baca Juga: Kediri Kuthone, Sing Dadi Lak Carane 

Salahkah itu? Entah. Toh, pemerintahan mestinya berisi orang-orang pandai. Orang yang tidak berotak kosong. Kalau mereka memilih seperti itu berarti sudah dengan pertimbangan yang matang dan cermat. Soal bagaimana nanti hasilnya, siapa yang tahu?

Yang pasti, sah saja bila ada pihak yang tidak setuju. Menganggap menempatkan pendidikan pada program pendamping adalah kurang tepat. Karena sejatinya, permasalahan kita adalah berkutat pada pendidikan yang lemah konsep dan lemah nilai. Pendidikan belum bisa menghasilkan output maksimal. Karena pada prosesnya masih diganggu dengan sesuatu yang justru tak berpendidikan. Seperti suap, pungli, sogokan, dan manipulasi nilai.

Baca Juga: Ibu

Metode pendidikan yang baik seharusnya yang dituju. Karena bisa menghasilkan output sumber daya manusia yang mumpuni. Pandai dan berakhlak baik. Yang hanya bisa dihasilkan melalui sistem pendidikan yang benar-benar berwibawa, bersih dari perbuatan-perbuatan tak terpuji.

Apalagi, bila dicermati, tingkat kebutuhan akan makanan bergizi tak semendesak pentingnya sistem pendidikan yang ‘bergizi’. Kalaupun ada masyarakat yang benar-benar kekurangan gizi, itu tak terjadi secara massif di seluruh wilayah tanah air. Sehingga, program pemberian makanan bergizi pun tak perlu berlangsung secara massif. Tapi prioritas di beberapa daerah yang membutuhkan. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : rekian
#penjajah #politik #Otak kosong #jawa #pribumi