Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional

Pecinan

Mahfud • Kamis, 30 Januari 2025 - 23:32 WIB
Mahfud
Mahfud

 

TAHUKAH kita, bahwa sebenarnya panggilan cina untuk warga keturunan Tionghoa dianggap sebagai seuatu yang berbau diskriminatif? Yang menjadi salah satu alasan bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-yang lebih keren dengan panggilan SBY-mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014? Sehingga, setelah keppres itu keluar-tepatnya pada 12 Maret 2014-semua penyebutan atau penggunaan istilah terkait komunitas Cina diganti dengan Tionghoa. Serta penyebutan negara Republik Rakyat China menjadi Republik Rakyat Tiongkok. 

Tapi, saya tidak berniat membahas soal itu. Bila ingin, sudah banyak tulisan yang membahas hal tersebut. Yang-saat ini-dengan mudah didapat dengan tinggal meneken kata search di internet.

Toh, tidak semua istilah yang terkait dengan cina berganti menjadi Tiongkok atau Tionghoa. Misalnya, kawasan tempat tinggal warga keturunan Tionghoa tetap saja disebut pecinan. Tidak lantas menjadi pe-tionghoan.

Baca Juga: Dasamuka

Mengapa? Tentu saja karena pecinan, awalnya, bukanlah penyebutan formal. Yang menyebut pecinan bukanlah warga keturunan yang berdiam di wilayah itu. Pecinan muncul karena keputusan politik kolonial. Yang menerapkan kebijakan mengumpulkan warga keturunan Tionghoa di satu wilayah khusus. 

Nah, tempat khusus itu oleh orang Jawa-orang pribumi-disebut dengan pecinan. Tempat tinggalnya warga keturunan cina. 

Orang Jawa sendiri memang suka menyebut tempat tinggal satu entitas atau suku dengan nama asal suku tersebut. Sebut saja, di beberapa kota di Jawa Timur ada yang bernama meduran. Ini untuk merujuk pada tempat tinggal yang dihuni mayoritas pendatang dari Madura. Atau, ada juga istilah Banjaran, yang penduduknya mayoritas berasal dari suku Banjar.

Baca Juga: Bacalah!

Kembali ke pecinan, tempat ini lebih khas bila dibandingkan tempat-tempat lain yang dihuni oleh kelompok etnis yang sama. Bahkan, untuk saat ini pecinan identik dengan kawasan heritage, kawasan warisan dari tata sosial lama. Gampangnya, pecinan identik dengan kota lama di satu kawasan. 

Yang juga membuat pecinan punya nilai khas adalah soal kultur. Masyarakat keturunan Tionghoa punya kemampuan menjaga kultur mereka yang terbawa dari tempat asal hingga sangat lestari. Kalaupun berubah, lebih ke arah akulturasi. Perpaduan dua budaya. Menyatu dengan budaya masyarakat pribumi. Dengan kata lain, pecinan juga menjadi awal terjadinya budaya baru. Yang bisa diterima baik oleh pribumi maupun pendatang. 

Baca Juga: Bunga Trotoar

Yang juga membuat pecinan khas adalah, tempat ini pasti akan menjadi sentra ekonomi. Keuletan etnis Tionghoa dalam berdagang dan berbisnis menjadi denyut utama kehidupan pecinan. Dan ini tidak hanya terjadi di Kediri atau tempat-tempat lain di Indonesia. Di negara lain, seperti Amerika atau Inggris, China Town juga memiliki denyut bisnis yang kental dan kuat.

Karena menjadi tempat ekonomi yang kuat itu, pecinan akhirnya menjadi area interaksi sosial yang massif. Tak hanya oleh warga keturunan Tionghoa, juga bagi warga pribumi atau warga keturunan etnis lainnya. 

Nah, karena pecinan seperti itu, jangan heran bila tempat ini menjadi pusat perkembangan budaya, ekonomi, serta sosial keagamaan. Hal-hal inilah yang membuat pecinan menjadi sangat menjual. Terutama menjadi daya pikat wisatawan. 

Tak heran bila kemudian banyak kota-kota di Indonesia ‘memperdagangkan’ wilayah pecinannya untuk menarik pengunjung dari luar daerah. Dengan mengangkat semua pernik kehidupan. Sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya. Termasuk arsitektur bangunannya, juga ditawarkan. 

Baca Juga: Pemulung

Lalu, bagaimana dengan Kediri? Harus diakui, kawasan pecinan di Kota Kediri, maupun di Kabupaten Kediri, belum benar-benar dimanfaatkan. Khususnya sebagai daya tarik wisatawan. Padahal, seperti halnya pecinan-pecinan di kota lain, di Kediri juga memiliki potensi untuk dijual. 

Salah satunya adalah terlambatnya pemerintah untuk menjaga bangunan-bangunan lama di pecinan sebagai objek cagar budaya. Sudah banyak bangunan lama yang berubah menjadi lebih modern. Hanya beberapa saja yang bisa ‘diselamatkan’. 

Padahal, kunci untuk ‘menjual’ pecinan adalah nuansa heritage-nya. Memang, bukan melulu tentang mempertahankan bangunan kuno yang punya ‘vibes’ oriental. Juga gedung-gedung baru yang sebaiknya juga tidak meninggalkan nafas serupa. Hal ini agar tidak menghilangkan kesan ke-pecinan-annya. Yang membuat kawasan ini benar-benar sebagai kota tua yang ‘heritage’.

Tapi, yang juga tidak boleh dilupakan, menciptakan kawasan pecinan ‘baru’ yang tourisme banget tak boleh menghilangkan akar sosio-kulturalnya. Jiwa pecinan harus tetap dijaga. Denyut kawasan ini yang kental dengan etos tinggi penghuninya harus terjaga. Jangan kemudian hanya menjual kawasan pecinan yang sebatas penampakan saja. Sementara penjagaan marwah kultur dan jiwa penduduknya tak lagi dipedulikan. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : rekian
#Republik Rakyat China #tiongkok #etnis #heritage #pecinan