Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional

MBG Pea

Anwar Bahar Basalamah • Sabtu, 25 Januari 2025 - 23:58 WIB
Ilustrasi makan bergizi gratis
Ilustrasi makan bergizi gratis

Bu Timuk masih terngiang-ngiang dengan ucapan si Pria Kekar yang diposting di media sosialnya beberapa waktu lalu.

Video berdurasi 1,5 menit itu menyinggung anak SD yang komplain soal rasa makanan tidak enak dalam program MBG.

Hampir 3 malam, menjelang jam tidurnya, Bu Timuk terus kepikiran dengan kata demi kata yang terlontar. Ada satu baris kalimat dari si Pria Kekar yang membuat ibu satu anak ini tersinggung dan tersentil.

"Kurang enak pala lu pea."

Setiap kali memikirkannya, Bu Timuk selalu berderai air mata. Kalimat tersebut meluncur bak peluru yang menghujam jantungnya. Semakin dipikirkan, makin sakitlah pikirannya.

"Saya nggak kuat kalau mikir begini terus," gumam Bu Timuk saat kalimat 'pala lu pea' melintasi pikirannya.

Bu Timuk meyakini si Pria Kekar itu sudah pasti membicarakan perilaku Gusyon, anaknya. Di hari pertama program MBG di sekolahnya, Gusyon bahkan bukan cuma bilang bahwa makanan MBG tidak enak, tapi malah melepeh ayam teriyaki yang coba dilahap.

Kalimat 'pala lu pea' terus membekas di hatinya. Ujaran itu seolah-olah menyudutkan Gusyon sebagai biang keladi satu-satunya keonaran program MBG di hari pertama.

Apalagi kata 'pea', menurut Bu Timuk, sangatlah kasar. Bu Timuk tahu, sebagian orang boleh kecewa dengan kejujuran anaknya. Terutama orang-orang yang membanggakan program MBG dari pemerintah.

Tapi, seharusnya kata 'pea' tidak terlontar begitu saja di ruang publik. Pea yang berasal dari singkatan PA (pendek akal) sebenarnya ungkapan halus dari kata goblok, dungu, bodoh, tolol, bloon, plonga-plongo atau bego.

Kini PA terasa begitu kasar ketika kata tersebut diungkapkan dengan bahasa slengean di kalangan anak muda. PA jadi pea. Ketika diucapkan orang ibu kota menjadi "peak" dengan imbuhan huruf 'K' di belakang.

Karena itu, saat disampaikan dengan nada emosional, maknanya menjadi lebih kasar dibanding kata bodoh atau goblok.

Bu Timuk tidak mau anaknya memikirkan tayangan video tersebut. Dia khawatir psikologisnya terganggu dengan kata-kata kasar pea yang terucap. Beberapa kali Gusyon sudah menanyakan arti pea kepada emaknya.

"Mak, pea itu apa sih artinya?"

"Sudah kamu nggak perlu tahu. Sekarang fokusmu adalah belajar matematika."

Begitulah cara Bu Timuk mengalihkan topik pembicaraan 'pala lu pea' dari Gusyon. Dia hanya ingin Gusyon fokus dengan mata pelajarannya.

Inilah dampak yang selalu menjadi kecemasan Bu Timuk berhari-hari. Bagaimanapun caranya dia harus bisa menjaga Gusyon agar tidak membicarakan lagi soal pea.

Memang begitu dahsyat omongan pesohor yang tidak terkontrol emosinya. Terlepas si Pria Kekar ini seorang buzzer atau bukan.

Setelah perkara MBG yang melibatkan anaknya, Bu Timuk dan suaminya, Pak Mukhol sebenarnya sudah mendudukkan perkara Gusyon di rumah. Sebagai seorang ibu, Bu Timuk punya cara jitu untuk menjinakkan perangai Gusyon soal pilih-pilih makanan.

Bukan dengan menaboknya. Sebab, cara tersebut terasa mustahil untuk Gusyon yang memang tidak suka ayam selain ayam goreng yang ditepungi.

Ditabok sampai seribu kali pun, Gusyon tetap ogah untuk memakan ayam teriyaki yang disediakan dalam menu MBG. Apalagi Bu Timuk dan Pak Mukhol bukan tipe orangtua yang suka dengan cara-cara kekerasan dalam mendidik sang anak.

Maka, untuk meredakan persoalan MBG yang membelenggu anaknya di sekolah, Bu Timuk mengajarkan kepada Gusyon soal etika dalam mengungkapkan kejujuran kepada orang lain.

Kejujuran tetaplah penting. Sejak kecil, Bu Timuk selalu meminta Gusyon untuk jujur. Ini bukan perkara anak kecil pasti lebih jujur dibanding orang dewasa.

Menurut Bu Timuk, anak kecil juga bisa berbohong kalau mereka tidak dibiasakan untuk berbicara jujur.

Baginya, Gusyon sudah benar karena berbicara jujur dan apa adanya. Tapi, momentumnya berbicara dan memuntahkan makanan itulah yang dianggap Bu Timuk kurang tepat.

"Setelah ini kamu tidak boleh lagi memuntahkan makanan. Kalau kamu dipaksa untuk memakan teriyaki, kamu tidak boleh memuntahkan di depan banyak orang. Apalagi di hadapan Bapak Bupati dan Bapak Tentara. Pasti jadi heboh."

"Iya Mak. Aku salah."

"Tapi, bagaimana soal kejujuranku, Mak?"

"Kamu harus tetap jujur berbicara."

"Iya Mak."

Selain memberikan banyak nasihat kepada Gusyon, Bu Timuk juga datang langsung ke sekolah anaknya. Dengan memohon teramat sangat, Bu Timuk menyampaikan ke sekolah agar menu ayam teriyaki Gusyon diganti dengan ayam tepung.

Kalaupun dengan mengganti menu, anggaran MBG untuk Gusyon jadi membengkak, Bu Timuk siap menambal kekurangannya.

Namun, dengan berbagai pertimbangan, sekolah akhirnya menuruti kemauan Bu Timuk.
Sejak pergantian menu, Gusyon tidak lagi memuntahkan makanannya.

Mulai detik ini perkara MBG Gusyon di sekolahnya beres. Tapi, 'pala lu pea' masih terus terpatri di dada Bu Timuk.

Karena itu, sebagai penggemar podcast si Pria Kekar, Bu Timuk bersumpah serapah bahwa setiap omongan si Pria Kekar soal politik hanyalah nol besar dan sampah.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Mbg #deddey corbuzier #video viral #opini #Makan Bergizi Gratis