Bu Timuk, emaknya Gusyon, pusing tujuh keliling menjelang bergulirnya program MBG.
Kalau bisa ditunda, dia maunya MBG ditunda bulan Juli atau September atau ditangguhkan sekalian sampai tahun depan, 2026.
Sebagai ibu rumah tangga tulen, Bu Timuk nggak kurang-kurang memenuhi gizi makanan anak semata wayangnya itu. Tiap pagi, dia tidak pernah absen menyiapkan kotak bekal makanan Gusyon yang dibawa ke sekolah.
Apalagi, Bu Timuk tahu, Gusyon sejak brojol memang susah makan. Tidak semua makanan dia doyan. Seleranya mengikuti masakan Bu Timuk yang menurut Gusyon, perpaduan bumbunya pas.
Makanya, sedari masuk SD, Bu Timuk harus pontang-panting memasak untuk bekal Gusyon.
Itu pun terlalu banyak makanan pantangan yang wajib dihindari Gusyon.
Kata Bu Timuk, Gusyon hanya suka ayam goreng tepung. Yang digoreng atau disayur dan disajikan ala chef hotel bintang lima, dia tidak suka.
"Mak, daging ayamnya dikit aja, tepungnya yang tebel ya..."
Setiap pagi, Bu Timuk selalu berkecamuk dengan celotehan putranya itu. Selain ayam goreng tanpa tepung, makan tempe dan tahu Gusyon juga ogah-ogahan. Tapi, kalau tempe dan tahu yang sudah ditepungi, dia baru mau memakannya.
Sejenis sayuran, Gusyon hanya demen dengan bayam. Kangkung, sawi, kubis, selada, lebih-lebih daun pepaya, Gusyon menganggapnya itu bukan sayur, tapi jamu.
Sebegitu pilih-pilihnya, Bu Timuk sampai khawatir dengan pemenuhan gizi anaknya di awal-awal masuk sekolah.
Kadang kala, Bu Timuk ikut jengkel dengan kebiasaan Gusyon soal makanan. Sampai dia harus menasihati begitu kedongkolan itu ujuk-ujuk datang.
"Tolong, jangan suka pilih-pilih makanan."
"Tapi, Mak, aku memang nggak suka ayam goreng tanpa tepung."
"Memang apa bedanya ayam tepung dan tidak?"
"Tetap saja aku tidak mau."
Begitulah "perang" ibu-anak ini yang terjadi setiap Bu Timuk akan mempersiapkan bekal untuk Gusyon. Pak Mukhol, suami Bu Timuk, hanya bisa menjadi penengah. Kadang membela istrinya, tidak jarang Pak Mukhol berada di pihak Gusyon.
Pernah, Bu Timuk memaksa Gusyon untuk mau makan ayam goreng tanpa tepung. Itu dilakukan agar Gusyon terbiasa dengan menu apa pun yang dimasak.
Tapi, tidak suka tetaplah tidak suka. Gusyon langsung melepeh makanannya. Bu Timuk naik darah. Dijewerlah telinga Gusyon yang membuatnya menangis di umur 6 tahun.
Pak Mukhol yang tahu kejadian itu, ikut membantu sang istri mengomeli Gusyon. Bukannya mereda, tangisan Gusyon malah makin menjadi-jadi. Bisa dibilang, gagallah Bu Timuk membiasakan anaknya itu dengan menu seadanya.
Seiring berjalannya waktu, Bu Timuk mulai menyadari. Dialah yang harus menyesuaikan dengan kebiasaan Gusyon. Toh, kebiasaan itu sebenarnya tidak datang secara tiba-tiba. Ada andil keturunan keluarga hingga kemudian lahir penolakan terhadap masakan ayam.
Kakek Gusyon tidak suka makan daging ayam. Dan, sejarahnya panjang kenapa bapak dari Pak Mukhol itu alergi dengan makanan tersebut.
Naluri keibuan Bu Timuk yang akhirnya membuatnya mengalah. Daripada sang anak tidak makan di sekolah, dia memilih membawakan kotak bekal.
Menu yang tidak pernah ganti tentu saja adalah ayam tepung dan tempe atau tahu tepung. Sayuran yang dipilih selain bayam adalah wortel. Dulu, awalnya Gusyon sempat tak acuh dengan sayuran warna oranye ini. Tapi, setelah menonton kartun Bugs Bunny, dia akhirnya luluh dan bersedia makan wortel masakan emaknya.
Sekarang Gusyon duduk di kelas 5 SD. Bu Timuk sudah menyiapkan bekal Gusyon setiap pagi sejak lima tahun lalu.
Sebelum program makan bergizi gratis (MBG) dicanangkan pemerintah, Bu Timuk tahu betul soal gizi anaknya. Bahkan, dua tahun lalu, dia menamai sendiri bekal Gusyon dengan MBG (Makan Buat Gusyon).
Entah kebetulan atau tidak, singkatan dari Bu Timuk kok bisa disamai oleh pemerintah. Yang jelas, Bu Timuk tidak mau tahu soal siapa yang lebih dulu membuat singkatan.
Yang penting baginya, ketika program itu berjalan, apakah Gusyon mau memakan MBG dari pemerintah atau tidak. Seperti kita tahu, Gusyon adalah tipe anak yang susah makan kalau bukan bekal dari emaknya.
Tibalah hari yang dinanti. Bu Timuk makin cemas. Hari itu, untuk pertama kalinya, dia tidak membawakan kotak bekal untuk Gusyon. Sekolah Gusyon, menjadi prototipe program MBG dari pemerintah daerah.
Jarum jam menunjukkan pukul 9 pagi. Bapak bupati beserta anak buahnya dan bapak tentara beserta jajarannya meninjau langsung sekolah Gusyon untuk pembagian MBG.
Kotak makan berbahan stainless stell itu kemudian dibagikan kepada anak-anak SD. Gusyon menerimanya. Dibukanya. Dan, di situ tersaji nasi, ayam teriyaki, sayur wortel, tahu krispi dan irisan semangka.
Gusyon mencoba memakannya. Nasi kemudian wortel dan tahu krispi dilahapnya. Hanya tersisa ayam teriyaki yang belum masuk mulutnya. Bu Munmainah, gurunya, menegur.
"Gus, ayo dimakan ayamnya. Ini bagian dari bersyukur. Pemerintah sudah mau membagikan makan gratis."
"Tapi, Bu, saya tidak suka ayam ini."
"Gusssss..."
Dengan rasa takut yang membelenggu, Gusyon akhirnya mau melumat ayam teriyaki satu per satu hingga masuk ke lambungnya. Tapi, entah suapan ayam teriyaki yang ke berapa, Gusyon akhirnya melepeh makanan itu di wadah stainless stell di depannya.
Sekolah heboh. Kejadian Gusyon melepeh makanan jadi pemberitaan media massa. Di rumah, Bu Timuk murka. Begitu pula dengan Pak Mukhol.
Dan, Gusyon tetap melepeh ayam teriyaki di hari kedua, ketiga dan seterusnya tanpa memedulikan kemarahan orangtuanya. Dasar Gusyon!!!!
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah