Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional

Bunga Trotoar

Mahfud • Kamis, 9 Januari 2025 - 23:50 WIB

 

 

 

MAHFUD
MAHFUD

KENAPA Kang Pendek yang jualan nasi goreng, dengan gerobak dorong, di tepian Jalan Dhoho Kediri disebut PKL? Pedagang kaki lima? Padahal, kaki Kang Pendek, dan juga PKL-PKL lain, hanya dua! Seperti juga pedagang di pasar maupun pedagang di tempat lain.

Ada beberapa cerita mengapa para bakul yang beroperasi di trotoar dan tepi jalan itu disebut PKL. Pertama, jawaban khas orang Jawa yang otak-atik mathuk. Yaitu karena pedagang itu menggunakan gerobak dorong, yang kakinya berupa roda berjumlah tiga. Nah, bila ditambah dengan kaki pedagang, jadinya jumlahnya lima kan? 

Masalahnya, pedagang menggunakan gerobak dorong itu baru marak sejak era-80-an. Sebelumnya, mereka berdagang dengan pikul atau menggelar alas di tanah atau trotoar. Padahal, saat itu juga sudah disebut pedagang kaki lima. Artinya, klausa ini boleh dicoret sebagai pendapat yang bisa diterima nalar.

Mungkin, yang lebih pas adalah teori ini. Yang menyebutkan asal penyebutan pedagang kaki lima dari istilah era kolonial. Ketika pemerintah saat itu membangun fasilitas bagi pejalan kaki yang lebarnya lima feet. Bila dikonversi ke meter sekitar satu setengah meter. Nah, orang menyebut fasilitas itu sebagai kaki lima. 

Baca Juga: ACE Hardware dan AZKO

Nah, ketika zaman sudah merdeka, dan pekerjaan formal sulit didapat, banyak dari mereka yang memilih berjualan. Jadi pedagang. Karena mereka bermodal cekak, tentu saja sebisa mungkin memanfaatkan fasilitas gratisan. Salah satunya adalah trotoar. Karena masih banyak yang menyebut fasilitas ini dengan kaki  lima,  maka jadilah istilah pedagang kaki lima. Lebih masuk akal kan?

Lalu, bagaimana bahasa Indonesia menjelaskan frasa itu? Nah, bila merunut pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pedagang kaki lima adalah mereka yang berjualan di serambi muka alias emper toko atau di lantai tepi jalan. Frasa terakhir itu tentu saja merujuk pada trotoar atau pedestrian. Jadi, saya lebih setuju bahwa penyebutan PKL tak terkait sama sekali dengan jumlah kaki. Mau berkaki dua atau tidak, mereka yang berjualan di trotoar yang disebut PKL. Apakah Anda setuju? 

Setuju atau tidak, yang pasti fenomena PKL sudah melekat dalam budaya kita. Sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pola hidup. Menjadi salah satu sumber dan mata pencaharian, meskipun masuk kelompok pekerja informal. 

Kelompok ini bahkan bisa menjadi simbol kaum marginal. Simbol bagi kelompok terpinggirkan. Sampai-sampai, Iwan Fals dengan kelompok musik Swaminya mengabadikan dalam satu lagu berjudul Bunga Trotoar. Gambaran masyarakat yang terjepit keadaan. Yang berjuang mencari nafkah untuk hidup atau menghidupi keluarganya. 

Sayang, kenyataan di lapangan tidak selalu mulus. Tidak berjalan sehitam putih dalam anggapan lirik lagu Bunga Trotoar. Pada satu sisi, bisalah diartikan para pedagang kaki lima ini merupakan ekses dari perkambangan zaman. Yang membutuhkan gerak cepat dan biaya besar untuk hidup. Sementara mereka seperti tertinggal dalam mengejar roda zaman yang bergulir cepat. 

Ketika lapangan-lapangan pekerjaan semakin banyak tapi dikompetisikan oleh lebih banyak orang, maka kesempatan bagi yang lemah pun semakin mengecil dan mengecil. 

Ingin menjadi pegawai kantoran jelas tak mampu karena terganjal ijazah yang ala kadarnya. Ingin menjadi pengusaha, modalnya hanya dengkul. Bahkan, menyewa kios di  pasar atau di lapak resmi pun tak sanggup. 

Jadinya, ya kerja informal. Ada yang asongan, ada yang jadi pedagang kaki lima. Sebisa mungkin memanfaatkan ruang publik yang ada. Meskipun hanya sepetak. Dan itu harus bersinggungan dengan pengguna yang lebih berhak. Yang penting, usaha harus dilakukan. Kerja harus didapat. Demi mengepulnya asap dapur. 

Sayang, tujuan mulia demi mendapatkan mata pencaharian itu terkotori oleh lumuran nafsu serakah. Mereka dengan seenaknya memanfaatkan fasilitas umum tanpa memedulikan orang yang berhak. Mengusir kendaraan yang hendak parkir karena akan dijadikan lapak berjualan. 

Sebagian orang bahkan sampai dijuluki ‘selangkah di depan’. Hanya karena mereka selalu memanfaatkan tempat berjualan di depan toko-toko resmi. Yang membuat pemilik toko tersebut kebingungan akibat akses masuk terhalang. 

Inilah yang menjadi awal problem pelik seperti yang terjadi di Jalan Dhoho saat ini. Ketika kearifan lokal sudah terkikis oleh keserakahan diri. Ketika mengambil secukupnya sudah tak lagi jadi filosofi. Menjadi mengambil sebanyak-banyaknya asalkan kita bisa. Tak peduli orang lain bakal mendapat apa atau bahkan tak mendapat apa-apa.

Karena itu, mengurai persoalan seperti itu tak bisa dengan sederhana. Tak cukup dengan membuat aturan yang tegas. Menyikapi persoalan dari akar masalahnya adalah lebih utama. Membanjirnya PKL tentu tak lepas dari kesempatan kerja yang kian menyempit. Serta akses untuk mendapatkan fasilitas serba terbatas. Jadi, seperti apa sebenarnya yang  perlu kita lakukan?

Editor : rekian
#pedagang #trotoar #jalan dhoho #pkl #pekerja informal