KEDIRI pancen khas. Banyak yang berbeda bila dibandingkan dengan daerah lain. Terutama sesama kota atau kabupaten di Jatim.
Contohnya, soal hari jadi. Di Kediri, kota dan kabupaten punya waktu lahir yang berbeda dan cenderung ‘bersaing’. Bahkan, Kota Kediri usianya sudah 1.145 tahun pada 2024. Sedangkan Kabupaten Kediri usianya 1.220 tahun.
Ini tentu berbeda dengan Malang, yang wilayahnya juga terbagi antara kota dan kabupaten. Kota Malang, tahun lalu, usianya ‘masih’ 110 tahun dihitung dari pembentukan gemeente (kota praja) pada 1 April 1914. Sedangkan Kabupaten Malang sudah 1.264.
Mengapa Kota Kediri usianya sudah begitu tua? Sebab, mereka tak menggunakan patokan pada pembentukan gemeente pada 1906. Atau juga pembentukan Kota Kediri melalui UU nomor 16 tahun 1950. Melainkan berdasarkan prasasti yang ‘konon’ ada di Kwak yang menyebut Kota Kediri sudah ada sejak 27 Juli 879.
Ke-khas-an lainnya adalah, Kediri sangat ditakuti banyak Presiden Republik Indonesia. Konon, ada kepercayaan, jika presiden datang atau lewat Kediri maka dia akan lengser. Atau, tidak jadi presiden.
Baca Juga: Menanti Gebrakan Pemimpin Muda Kediri
Adakah buktinya? Jelas ada. Presiden pertama Soekarno pernah datang ke Kediri. Dia kemudian dilengserkan oleh MPRS pada 1967. Kemudian, Presiden ketiga, BJ Habibi, sempat ke Kediri terkait acara di salah satu pabrik gula. Faktanya, wakil presiden di era kejatuhan Soeharto ini pun tak bisa lagi menjadi presiden.
Setelah itu ada Abdurrahman Wahid. Presiden keempat RI yang karib dengan sapaan Gus Dur ini mendatangi Kediri ketika masih berkuasa. Ujungnya, dia dilengserkan MPR pada 2001.
Ada lagi presiden yang juga pernah datang ke Kediri. Dia adalah SBY, Soesilo Bambang Yudhoyono. Presiden keenam ini mendatangi pengungsi Gunung Kelud. Saat itu sang presiden datang dari arah Blitar. Namun, namanya juga otak-atik gathuk, keberaniannya itu berimbas pada nasib anaknya, AHY, yang terus-terusan gagal dalam pencalonan kepala daerah maupun kepala negara.
Benarkah? Tentu saja wallahu a’lam. Tapi, percayakah Anda bila ada pejabat yang ketika ke Kediri tak berani menyeberangi Sungai Brantas? Jadi, bila ada acara di daerah barat sungai, dia melalui jalur Kertosono. Bila kembali pun dari arah yang sama. Demikian pula sebaliknya.
Terlepas dari semua mitos itu, apakah benar atau tidak, Kediri pancen istimewa. Tak hanya Jogja saja yang bisa meng-klaim predikat seperti itu. Kediri punya Jalan Dhoho. Jalan yang sangat legendaris. Di jalan inilah denyut kehidupan Kediri terjaga selama 24 jam nonstop! Mulai pagi hingga pagi lagi. Geliat toko-toko terjadi sejak pukul 09.00 sampai 21.00. Setelah itu disambung deretan penjual makanan yang akan bertahan hingga subuh. Bubar para penjaja makanan malam ini, bersambung dengan makanan pagi mulai subuh hingga pukul 08.00. Terus begitu hingga nyambung lagi dengan geliat pertokoan dengan segala macam dagangannya.
Entah karena Jalan Dhoho itu atau memang karena spirit warga Kediri yang tak kenal lelah, denyut hidup kota ini memang terus terasa 24 jam. Banyak tempat yang kian ramai di malam hari. Bahkan, perempuan juga tak takut untuk beraktivitas di waktu itu.
Yang juga membuat Kediri punya kekhasan yang amat sangat, tentu saja adalah nama besar raja Jawa, Sri Aji Jayabaya. Raja ini dianggap tidak meninggal. Melainkan muksa alias menghilang hingga raganya. Petilasannya pun ada di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Yang setiap bulan Suro selalu ramai. Lengkap dengan pemandian yang-konon-bisa membuat orang awet muda. Hingga membuat beberapa tokoh penting negara ini kepincut. Menyempatkan datang dan cuci muka dengan air pemandian.
Masih terkait dengan Jayabaya, ada pula yang namanya Jangka Jayabaya. Ini adalah manuskrip terkenal yang berisi ramalan-ramalan tentang masa depan Nusantara. Bersumber dari sang raja besar di tanah Jawa itu.
Salah satu ramalannya yang kini banyak dibicarakan adalah tentang datangnya kalasuba, masa keemasan di tanah Jawa. Dan, menurut perhitungan banyak orang, masa itu akan datang pada tahun ini, 2025. Setelah sebelumnya harus melalui masa sulit, kalabendu, yang terjadi sejak 1997 atau saat krisis ekonomi yang menyebabkan kejatuhan rezim Soeharto.
Pertanyaannya, benarkah bahwa masa kalasuba itu datang tahun ini? Bila melihat dinamika politik, sosial, dan ekonomi, sepertinya hal itu patut dipertanyakan. Berbagai ramalan ahli ekonomi tak bisa memastikan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di tanah air. Termasuk di Kediri. Belum lagi soal PPN 12 persen yang justru kian tak jelas arahnya.
Di Kediri, buruh-buruh tentu kurang setuju dengan kemungkinan datangnya Kalasuba ini. Parameternya, ya itu, upah mereka naik tak signifikan. Keinginan mendapatkan UMK sektoral pun tak terpenuhi. Belum lagi masalah laten di Jalan Dhoho-sentralnya perekonomian Kediri-yang tetap ada. Yang bisa menjadi masalah serius bila tak segera diselesaikan dengan paripurna. Tak hanya sekadar retorika belaka.
Maka, kita berharap bahwa kekhasan Kediri ini akan mendapat solusinya ketika ada ‘keistimewaan’ lain yang terjadi. Dua Kediri dipimpin oleh orang-orang muda. Terutama di Kota Kediri, yang wali kota terpilihnya adalah perempuan yang usianya masih sangat belia. Harapannya, intuisi generasi milenial ini mampu menjadikan ramalan Jayabaya tentang kalasuba terbukti. Semoga.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian