Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional

Ibu

Redaksi Radar Kediri • Selasa, 31 Desember 2024 - 01:48 WIB

MAHFUD
MAHFUD

HARI ini adalah Hari Ibu. Mestinya, semua orang tahu. Sebab, setiap 22 Desember selama bertahun-tahun selalu diperingati dan dirayakan sebagai Hari Ibu. Setidaknya sejak Presiden Soekarno-presiden pertama Republik Indonesia-menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu pada 1959. 

Mengapa Hari Ibu? Secara umum, mungkin, perayaan Hari Ibu bertujuan sebagai simbol apresiasi pada sosok perempuan ini. Apalagi, di tengah masyarakat yang lebih paternalistik, seringkali peran seorang perempuan menjadi terpinggirkan. Termarginalkan. Dianggap sebagai kanca wingking. Yang urusannya hanya berkutat pada sumur, dapur, dan kasur. Menyimbolkan bahwa seorang perempuan adalah sekadar pelayan bagi laki-laki. 

Nah, penetapan Hari Ibu ini yang bisa jadi titik balik pandangan tersebut. Menempatkan porsi seorang perempuan pada yang sejatinya. Bukan sekadar sebagai kanca wingking.Tapi, juga tak boleh over reacting, melewati batas kodratinya. Yang justru bisa menjadi persoalan baru pada tata kehidupan.

Memang, perayaan Hari Ibu bukan sekadar hura-hura semata. Tak hanya memberikan buket bunga kepada sang mama, sang bunda, atau apapun panggilan mereka. Juga, bukan semata-mata menggantikan tugas seorang ibu untuk satu hari. Sebab, semua rupa perayaan yang seperti itu hanyalah simbolisasi belaka. Bukan makna hakiki dari peringatan Hari Ibu. 

Baca Juga: Momok Ujian Nasional

Bila kita hanya merayakan seperti itu, sama artinya kita mengerdilkan peran dan perjuangan seorang ibu dalam tata kehidupan yang lebih luas. Peran perempuan-terutama ibu-yang secara kodrati menjadi bagian penting dari peradaban manusia.

Penyair W.S Rendra punya gambaran tentang sosok ibu. Menempatkannya dalam pelengkap sempurna kenduri besar kehidupan. Seorang ibu digambarkan oleh penyair ini sebagai sesuatu yang sangat filosofis. Ibu adalah ‘langit senja kala’. Ibu adalah ‘gema dari bisikan hati nuraniku’.

Sementara, penyanyi Iwan Fals juga punya gambaran tentang sosok ibu ini. Kasihnya ibarat udara. Yang tak terbatas. Yang tak akan mampu dibalas oleh seorang anak. 

Ibu, menurut Iwan Fals, adalah sosok yang berjalan hingga ribuan kilometer. Melewati beragam aral dan rintangan. Meskipun telapak kaki penuh luka dan bernanah, tetap berjalan. Semuanya demi sang anak. 

Semua gambaran itu menunjukkan seperti apa besarnya sosok seorang ibu. Yang jasanya tak mungkin direduksi hanya sekadar menggantikan pekerjaannya barang satu hari. Atau, memberikan bunga tepat pada hari ini. Bahkan, memberikan kemewahan duniawi juga belum mencukupi untuk menggantikan besarnya pengorbanan yang dia lakukan. Yang rela meregang nyawa untuk melahirkan kita di dunia. 

Justru, yang perlu kita lakukan di perayaan Hari Ibu ini adalah instropeksi. Tak hanya bagi pria, juga bagi wanita. Apakah sebagai ibu, atau bukan. Karena semakin lama, perayaan Hari Ibu seakan terdistorsi oleh beragam kepentingan. Hanya sebagai simbol belaka. Semakin kehilangan makna penghormatan pada sosok perempuan sejati.

Hari Ibu memang tak lepas dari kepentingan kesetaraan gender. Peran seorang perempuan memang tak bisa dinafikkan. Mereka juga bisa berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Namun, semua itu juga dipagari oleh sesuatu yang bersifat kodrati. Bahwa perempuan tetap memiliki tanggung jawab yang hakiki. Yang nilainya juga sangat besar. Seorang perempuan adalah ibu bangsa. Yang harus bisa memberikan kasih sayang penuh. Seorang perempuan tak boleh meninggalkan kodrat ini. 

Bila kemudian muncul tren, kesetaraan adalah segalanya. Bahwa wanita juga punya hak untuk tidak memiliki anak, maka harmoni kehidupan bisa terganggu. Karena nilai-nilai kehidupan tak hanya ada pada sisi yang bisa dinalar semata. Nilai kehidupan adalah sesuatu yang seringkali irrasional. Yang tak bisa diurai oleh sederet teori ilmiah.

Bukan berarti wanita tak boleh berkiprah dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya, peran mereka sangat besar dalam semua aspek. Tanpa sentuhan wanita, maka semua sisi kehidupan akan terasa kering.

Namun, yang harus tetap diingat, perempuan tetaplah perempuan. Yang memiliki kodrat sendiri. Pada dirinyalah nasib anak bangsa dipertaruhkan. Baik dan buruknya generasi bergantung pada sosok perempuan. Toh, seperti kata Rendra dalam ‘Sajak Ibunda’ para  malaing, pembunuh, koruptor, dan tiran pun punya sosok ibu. Karena itu, pada merekalah nasib kita dipertaruhkan. Apakah menjadi sosok baik atau buruk. Selamat Hari Ibu.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#hari ibu #koruptor #sajak #Ibunda #kanca wingking