UJIAN nasional (UN) momok bagi siswa? Secara personal saya sepakat. Setidaknya, saat duduk di bangku SD hingga SMA, setiap kali akan UN saya selalu demam tinggi. Saking nervous dan takut menghadapi ujian yang jadi penentu kelulusan.
Dulu namanya masih Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANas). Saking hafalnya siklus demam setiap kali akan EBTANas atau ujian, belakangan akhirnya diantisipasi. Seminggu jelang ujian diminta mengonsumsi berbagai jenis vitamin agar tahes. Nyatanya, suplemen itu tidak banyak berpengaruh. Saat mengerjakan soal-soal tetap saja keringat dingin dan demam karena grogi dan takut.
Bagaimana tidak takut, nilai EBTANas akan langsung terpasang di ijazah. Tidak seperti ijazah anak-anak dengan kurikulum Merdeka yang nilainya merupakan gabungan nilai rapor di beberapa semester, nilai EBTANas murni akan terpampang di ijazah.
Jika nilai EBTANas di bawah 6, warna nilainya tidak lagi hitam. Melainkan merah. Perlakuan serupa juga diterapkan di nilai rapor. Jika siswa mendapat nilai 5, warna nilai di rapornya merah menyala.
Baca Juga: Momentum untuk E-mas (English Massive)
Untungnya, siklus stres itu tidak terjadi lagi di bangku kuliah. Menghadapi ujian tengah semester (UTS) atau ujian akhir semester (UAS), saya tidak lagi demam. Bahkan, saat ujian skripsi yang dianggap momok oleh mahasiswa, saya bisa dengan percaya dirinya menutup skripsi selama menjawab pertanyaan penguji. Bukan karena saya pandai. Tapi, saya mengambil tema skripsi yang memang saya sukai dan saya ‘kuasai’.
Sehingga, sejak mengerjakan skripsi hingga mengikuti ujian, semua dilakukan dengan enjoy. Sedikit grogi juga karena tahu pengujinya dosen-dosen yang terkenal killer, tapi semuanya tertutupi dengan keyakinan jika saya menguasai skripsi dan pasti bisa menjawab pertanyaan penguji.
Benar saja, selama sekitar 1,5 jam menjawab pertanyaan, saya bisa melalui dengan lancar. Bahkan, nilai skripsi bisa langsung disampaikan oleh ketua tim penguji sebelum keluar ruangan.
Saat itu juga saya tahu, kenapa setiap ujian semester sampai EBTANas dulu selalu demam. Penyebabnya sama: saya belum sepenuhnya menguasai materi ujian dan belum yakin akan mendapat hasil yang baik.
Pembelajaran di bangku kuliah memang jauh berbeda dibanding pendidikan dasar. Rupanya, cara tersebut membuat saya belajar lebih nyaman. Memberi peluang untuk mengeksplorasi kemampuan mahasiswa.
Lewat berbagai jenis presentasi yang diwajibkan di setiap mata kuliah, mahasiswa bisa mengembangkan soft skill mereka. Mahasiswa juga memiliki alternatif metode belajar yang digemari. Mulai memiliki tanggung jawab untuk menuntaskan perkuliahan sesuai kemampuan masing-masing.
Metode perkuliahan seperti itu membuat saya lebih nyaman. Tidak terlalu tegang saat mengikuti mata kuliah tertentu. Dampaknya, tidak lagi grogi saat ujian hingga mengalami demam tinggi.
Ujian Nasional (UN) belakangan menjadi perbincangan karena ada wacana penerapan kembali. Sebagai orang tua, tentu saja mendukung penuh pelaksanaan UN. Keberadaan UN membuat siswa lebih semangat dalam belajar. Malu jika mendapat nilai rendah. Sangat malu dan bahkan akan dianggap aib jika tidak lulus.
Karenanya, tidak hanya siswa saja yang semangat belajar. Para guru juga akan lebih terpacu untuk mengajar. Mengeksplorasi berbagai metode untuk membuat anak-anak memahami materi dengan mudah. Keberadaan UN yang sering dianggap sebagai praktik kemunduran dalam dunia pendidikan, nyatanya masih diperlukan di Indonesia.
Nilai UN setidaknya bisa jadi cermin keberhasilan pendidikan di beberapa bidang pelajaran. Tentunya tanpa menganggap kecil mata pelajaran yang tidak masuk UN. Berapa nilai yang didapat siswa, setidaknya itu merepresentasikan kemampuannya berdasar sejumlah indikator.
Nilai murni UN akan jauh lebih baik dibanding nilai tinggi tapi hasil remidi. Atau pemberian tambahan tugas yang diberikan kepada siswa untuk bisa memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Sistem penilaian baru ini diakui sudah membuat para guru dan civitas sekolah pusing tujuh keliling. Sudah saatnya dievaluasi bersama, sehingga saat UN benar-benar diterapkan kembali nanti tidak akan menjadi momok bersama.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah