Kota Kediri adalah kota terbesar ketiga di Provinsi Jawa Timur setelah Surabaya dan Malang. Kediri juga merupakan ibukota dari Karesidenan Kediri yang terdiri dari beberapa kota dan kabupaten yaitu Kabupaten Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Blitar, dan Trenggalek.
Kediri tidak hanya kaya secara sejarah, tetapi juga hidup dalam keberagaman budaya. Masyarakat Kediri menjaga tradisi dan kesenian lokal dengan penuh semangat. Kota Kediri dengan keunikan dan keindahannya, ters berkembang tanpa kehilangan jejak sejarahnya.
Artikel ini ditulis agar dapat memberikan informasi kepada para pembaca terkait informasi Kediri sebagai kota “ WINGIT”. Tujuan saya dalam penulisan artikel ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca tentang mitos-mitos yang ada di Kediri.
Kediri dikenal sebagai kota yang memiliki banyak misteri. Sehingga dengan ditulisnya artikel ini diharapkan para pembaca dapat mengerti lebih jauh terkait apa itu yang disebut Kediri sebagai kota wingit.
Mitos tentang daerah “Kediri” tidak baik untuk presiden ataupun para pejabat tinggi Negara. Ini bukan Perkara Mitos Lengsernya Presiden karena melakukan Kunjungan ke Kediri. Mitos ini juga sudah diulas lagi oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung saat memberikan sambutan di hadapan para kiai sepuh pengasuh Ponpes Hidsyatul Mubtadien Lirboyo Kediri.
Yang menjelaskan bahwa Kediri daerah wingit atau angker untuk presiden. Namun ada cara bagi presiden yang ingin berkunjung ke Kediri dengan aman. Cara itu adalah berkunjung atau berziarah dan berdoa di makam Syekh Al-Wasil Syamsudin, Mbah Wasil Setono Gedong, Kota kediri
Mitos tentang Kediri dianggap tidak ada habisnya, yang pertama Masyarakat Kediri mempercayai adanya sebuah piramida terpendam di bawah tanah kota Kediri.
Misteri peninggalan pra sejarah ini, diyakini masyarakat lantaran Gunung Klothok yang berada di dekat Gunung Wilis ini tampak seperti piramida. Bentuknya juga unik dan tidak biasa, sehingga banyak yang percaya di dalamnya terdapat candi atau piramida.
Kedua, Buaya putih penghuni Sungai Brantas. Mitos tentang keberadaan buaya putih yang menghuni Sungai Brantas, sudah ada sejak dahulu. Kepercayaan ini muncul, karena sungai yang sudah ada sejak zaman Mataram kuno kerap menelan korban jiwa dan buaya putih dituding sebagai penyebabnya.
Dan yang ketiga adalah adanya larangan para pejabat tinggi Negara dilarang berkunjung ke KEDIRI. Hal itu diperkuat sebab dari enam presiden yang berkuasa di Indonesia hanya dua presiden yang berani datang ke kota Kediri yakni Soekarno dan Gus Dur, dan terbukti juga pada akhirnya kedua-duanya diturunkan dari kursi presiden dengan cara politik.
Soekarno berkunjung ke Kediri sebagai presiden pada tahun 1948-950. Terlepas itu soekarno kecil juga pernah tinggal di Kediri. Sedangkan Gus Dur berkunjung ke Kediri sebagai presiden pada tahun 1999-2001.
Dari penelusuran sejarah yang telah dilakukan, hampir semua pendapat menyatakan bahwa Kediri terkenal dengan “ WINGITNYA” karena itu semua dihubungkan dengan mitos penguasa nusantara. Menurut sejarah kuno Kediri terbagi menjadi dua yakni barat dan timur sungai brantas.
Salah satu alasan Kediri menjadi kota wingit adalah akibat kutukan Kartikea Singha suami Ratu Shima yang juga penguasa kerajaan kalingga (pra Mataram Hindu abad ke-6) yang terletak di Keling Kepung Kabupaten Kediri.
Kutukannya cuku jelas “ SIAPA KEPALA NEGARA YANG TIDAK SUCI BENAR MASUK WILAYAH KOTA KEDIRI MAKA DIA AKAN JATUH”.
Pada masa pemerintahan Kartikayesinga sebagai kepala negara dia menyusun kitab tentang hukum pidana pertama nusantara yang diberi nama Kalingga Dharma Sastra yang terdiri dari 119 pasal. Dan semua hal itu tergantung kepada keyakinan sendiri- sendiri, namun sebagian besar tidak ada yang berani masuk ke wilayah Daha (Kediri).
Sedangkan lokasi Kerajaan Kalingga yang sebenarnya saja belum diketahui secara jelas, sebab ada yang menyebut Kalingga berada di wilayah Jepara Jawa Tengah, Agus Sunyoto seorang budayawan penulis Atlas Walisongo menjelaskan bahwa Ratu Shima memang berasal dari Jepara atau yang dikenal dengan nama Kalingga Utara.
Sedangkan suaminya yaitu Kartikea Singha berasal dari Keling Kepung Kota Kediri atau yang dikenal dengan Kalingga Selatan.
Dalam sejarah nusantara di daerah Keling Kepung Kota Kediri ini pernah kembali Berjaya pada periode akhir Majapahit tatkala kerajaan itu mengalami disintegrasi. Rupanya penguasa Kediri bangkit kembali dan pada tahun 1474 berhasil menumbangkan hegemoni Kerajaan Majapahit.
Jawa dalam keadaan pecah belah tersebut kekuasaannya sampai tahun 1527 kemudian bergeser kembali ke Kediri (Daha) dengan pusat kekuasaan di Keling (Kepung-Kota Kediri) di bawah Dinasti Girindrawardhana.
Dalam Prasasti Jiu disebutkan bahwa tahun 1486 M nama kerajaannya adalah Wilwatikta Daha Jenggala Kediri. Kemudian kerajaan ini pun berakhir akibat perluasan Islam oleh intervensi Giri yang menganggap dinasti yang berkuasa bukanlah kelanjutan dinasti yang memerintah Kerajaan Majapahit terdahulu.
Di saat Indonesia merdeka dari penjajahan pada tahun 1945, selain Soekarno dan Gus Dur yang berani masuk wilayah Kota Kediri lainnya rata-rata hanya diwakilkan kepada wakil presidennya. Uniknya hanya Soekarno dan Gus Dur saja yang jatuh dari kursi kepresidenan pada saat masih menjabat.
Ki Tuwu salah seorang pengamat sejarah Kota Kediri yang sekaligus seorang paranormal, menyatakan bahwa Kediri ini adalah kota wingit dan semua pihak sudah mengakuinya. Dan sampai sekarang “Sabdo nya Kartikea Singha itu masih berlaku di Kediri. Dan itupun berlaku untuk pejabat di Kediri apabila berani membawa harta dari Kediri dengan cara tidak halal maka dia akan keluar dari Kediri dengan tidak punya apa-apa”.
Kediri memang dijuluki sebagai kota wingit yang diartikan sebagai wilayah keramat, namun semua hal tersebut tergantung kepada keyakinan masing-masing. Anda silahkan percaya, dan juga anda silahkan tidak percaya. Jika anda tidak percaya tinggal mengimani kepada allah “ Gus Barok”. *(Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang)*
Editor : Anwar Bahar Basalamah