Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Implikasi Pendidikan Multikultural bagi Generasi Z terhadap Keberagaman Bangsa

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 1 November 2023 | 18:47 WIB
Photo
Photo

Pendidikan untuk menghargai keberagaman

Keberagaman Indonesia ialah realita historis dan sosial yang harus dijaga. Keberagaman memberikan pola pikir dan karakter pribadi sebagai tradisi yang terbentuk dengan beragam perbedaan atas pergumulan antar budaya. Apabila tidak toleran bisa berpeluang konflik, sehingga guna meminimalkan konflik dibutuhkan pendidikan berwawasan multikultural. Imbas kegagalan pendidikan multikultural bagi generasi muda dengan dijumpai kasus tawuran, minimnya toleransi, pergaulan bebas, diskriminasi minoritas di lingkup pendidikan, radikalisme, dan stereotip atas suku ataupun budaya. Pendidikan sebagai proses membentuk pribadi dengan kegiatan yang sistematis. Pendidikan multikultural mengharapkan kesamaan hak, termasuk dalam pendidikan. 

Pemahamanan pendidikan multikultural

Pendidikan multikultural dipahami sebagai pelaksanaan pendidikan guna menumbuhkan toleransi atas hal-hal yang tak berubah pada diri individu sebagai hal yang sudah diperoleh sejak awal. Pendidikan multikultural mengajarkan individu sesuai konteks lingkungan dan budayanya dengan tidak mencabutnya dari pengalaman keseharian dari kebiasaan dan nilai setempat (Rosada dkk, 2019). Segenap aspek pemicu datangnya masyarakat multikultural, yakni seperti berikut. keadaan geografis, perbedaan iklim, dan pengaruh budaya asing (Wales, 2022). Keadaan geografi Indonesia dengan cakupan wilayah luas atas puluhan ribu pulau tersebar dipisahkan lautan. Perbedaan fenomena alam dan iklim seperti suhu, curah hujan, kelembapan udara yang mempengaruhi keragaman masyarakat dalam memutuskan makanan pokok, pakaian, mata pencaharian, dan lainnya. Budaya asing yang singgah dan menetap akibat letak geografis strategis diapit dua benua dan dua samudera menjadikan Indonesia berlokasi di jalur perdagangan internasional.

Karakteristik Gen Z

Realitas kehidupan generasi saat ini yang disebut Generasi Z amat kompleks sebab berada dalam ekosistem sosial yang pluralistik dan sarat akan keragaman. Generasi Z atau Zoomer ialah sebutan yang diberikan untuk generasi yang dilahirkan antara tahun 1995 – 2012 pada era digital. Gen Z antusias dalam pemakaian media dan teknologi dengan berselancar lebih massif dan intensif dibanding generasi sebelumnya. Generasi Z tak lagi bergaya komunikasi dominan lewat kontrol, melainkan kian bersahabat dan egaliter. Gen Z memiliki segenap karakter yang mewakili generasinya (Efianingrum dkk, 2022). Generasi phiygital sebagai gabungan fisik dan digital sebab dilahirkan saat dunia fisik mempunyai wujud ekuivalen dengan dunia maya. Hiper-kustomisasi akan dunia maya menginginkan identitas unik yang tidak larut dalam budaya massa, tidak menggemari produk seragam, standar, dan mengkostumisasi apapun. Realistis sebab Generasi Z cenderung pragmatis atas kekhawatiran seusai krisis ekonomi, dan serangan teroris. Fear of Missing Out yakni senantiasa khawatir tertinggal informasi atas perubahan pada linimasa. Weconomist dengan fasilitasi platform ekonomi terbaru guna memanfaatkan sumber daya tanpa investasi besar. Do it Yourself, dengan keberadaan beragam tutorial mempermudah belajar secara mandiri. Kompetitif sebab Generasi Z berhasrat memenangkan berbagai kompetisi. 

Segenap karakter Gen Z tersebut bisa menjadi indikator guna menetapkan strategi pendidikan (Reza dan Tinggogoy, 2022). Melalui karakter phygital, harus banyak menjalankan pengamatan tentang cara memadukan sisi fisik dan digital dalam guna menyusun metode pembelajaran. Pendidik harus terbuka dan terbiasa memakai media pembelajaran berbasis digital supaya peserta didik tetap tersambung dan aktif dalam beragam kondisi pembelajaran. Karakter FOMO terpacu memperoleh informasi terbaru sehingga pendidikan perlu sebagai media yang beragam informasi tak terbatas pembelajaran, namun keterampilan hidup pula. Hiper kustomisasi terbiasa memutuskan keperluan sendiri sehingga dalam pendidikan dapat diberikan kebebasan dalam memutuskan cara belajarnya, mencari sumber belajar lain, mengkritisi hal sekitar, mengutarakan gagasan dan penilaian. Karakter kompetitif dengan memfasilitasi media yang sanggup mengakomodasi keragaman tiap potensi. Karakter weconomist menyenangi sikap berkelompok dan terkoneksi dengan rekannya. Penerapan pendekatan pembelajaran melibatkan peserta didik berkolaborasi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan pendidik sebagai fasilitator belajar. 

Implementasi pendidikan multikultural bagi Gen Z

Penerapan pendidikan multikultural di Indonesia dapat berpedoman pada tiga hal (Ningsih, Mayasari & Ruswandi, 2022). Falsafah pendidikan berupa keberagaman dan kekayaan bangsa dimanfaatkan guna pengembangan sistem pendidikan. Pendekatan pendidikan kontekstual yang memperhatikan keragaman budaya seperti kajian pendidikan kewarganegaraan, sosiologi, dan antropologi. Lembaga pendidikan yang mampu merancang, mengontrol, dan mengevaluai proses pendidikan multikultural lewat persiapan desain kurikulum, proses pembelajaran, bahan evaluasi, dan pendidik berpersepsi sikap multikultural agar mampu berkontribusi positif bagi pembinaan.

Implementasi pendidikan dijalankan lewat kegiatan pembelajaran memuat nilai-nilai multikultural. Materi pembelajaran dapat menjadi topik diskusi, tulisan, ataupun acara. Pendidikan multikultural mengutamakan keadilan atas keragaman, sehingga semuanya berkesempatan sama. Muatan nilai multikultural juga diterapkan pada materi umum Pancasila, Keagamaan, Kemanusiaan, Literasi Sosial dan materi kependidikan. Praktik pendidikan multikultural pula dapat melalui integrasi konten multikultural meliputi metode berpikir kritis, berbasis proyek, klarifikasi nilai, dan menghadapi permasalahan guna mendapat pengalaman belajar kontekstual dan kaya menurut realitas. Selain itu, interaksi dan komunikasi lintas budaya lewat aktivitas seperti peringatan hari-hari besar bertemakan simbol identitas multitultural dan pertukaran pelajar.

Upaya pelaksanaan pendidikan multikultural penting memperhatikan komponen metode pembelajaran agar pembelajaran efektif (Winata dkk, 2020). Metode sebagai cara pembentukan atas penyajian bahan ajar selaku alat dan strategi pengajaran. Metode yang sesuai bagi generasi Z saat ini terdapat beberapa jenis. Metode discovery learning dengan terlibat aktif guna mendatangkan konsep lewat data dari pengamatan ataupun percobaan. Metode discovery learning dalam pengembangan kreativitas berkaitan dengan menanamkan nilai multikultural bagu keberlangsungan peradaban manusia. Metode simulasi yang efektif memperjelas pengajaran agar materi mudah diterima sampai membekas. Metode diskusi mendatangkan motivasi dalam berpendapat sendiri guna mencari jawaban. Diskusi dapat menambah prestasi kepribadian, termasuk sikap toleransi dan mengakui keberagaman sesuai nilai multikultural. Metode Pembelajaran outdoor dengan pembelajaran mendalam lewat objek yang dijumpai agar beradaptasi dengan alam, lingkungan sekitra, dan bermasyarakat. Studi kasus dengan menyelidiki suatu peristiwa sosial tertentu guna membagikan berkenaan klaim kebenaran, intoleransi, dan kebencian hingga mampu dapat memahami kajian kasus kontektual tentang nilai multikultural pada masyarakat heterogen.

Kompetensi multikultural sebagai kemampuan yang dibutuhkan guna merespon perubahan dunia serba cepat pada era digital ini. Kompetensi multikultural butuh pengembangan agar generasi muda bisa berinteraksi dan adaptasi dengan perubahan sosial, keberagaman budaya, dan melesatnya kemajuan teknologi informasi. Keterampilan multikultural yang melibatkan Generasi Z secara aktif pada skala global lewat pendekatan berlandaskan keadilan sosial dan kesetaraan. Keterampilan global menuntut generasi Z memiliki kemampuan dan pemahaman terkait kekuatan kekuatan yang mendorong perubahan. Implikasi pendidikan multikultural diharapkan dapat mencegah konflik dengan lebih terbuka guna menghargai keberagaman. Pembelajaran multikultural dapat membangun nilai-nilai toleransi, solidaritas, dan egaliter ke sesama, mengakui hak individu atas kebebasan, mengedepankan persaudaraan, serta membantu menumbuhkan kebanggaan akan warisan budaya (Manurung, Maksum & Nurhasanah, 2022). Pendidikan multikultural diwujudkan dalam usaha mengembangkan kemampuan dalam memandang kehidupan dari beragam perspektif. Tujuan pendidikan multikultural guna pemberdayaan masyarakat heterogen dan majemuk untuk saling memahami dan terbuka akan perbedaan. Sehingga keragaman akan dipandang sebagai modal kebangsaan bukannya ancaman. Pada dasarnya, perbedaan-perbedaan tersebut tak semata hanya berpotensi memunculkan konflik sosial ataupun desintregrasi sosial. Perbedaan yang dikelola dengan baik mampu menciptakan keunikan atas keragaman dalam berbangsa dan bernegara yang bisa menjadi modal kebangsaan. Perbedaan dapat mengembangkan budaya saling menghargai yang memperlihatkan kebesaran dan kedewasaan dan dari sebuah bangsa. (Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang)

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah