Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Yang Untung dan Yang Buntung

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 13 Oktober 2023 | 16:55 WIB

Photo
Photo

Apabila kita bicara etika bisnis kita langsung berhadapan dengan dua anggapan yang sangat umum dalam masyarakat. Pertama bahwa profesi bisnis dipandang rendah secara etis. Kedua, orang bisnis jika teguh berpegang pada etika cenderung merugi dan bangkrut.

Dipandang rendah karena seringkali dianggap egois dan mata duitan. Pedagang sering dicurigai mau menipu dengan tidak memberikan barang seimbang dengan pembayaran yang diterimanya.

Mungkin pandangan ini dipengaruhi oleh etika relijiusitas yang menjunjung tinggi berbagai nilai rohani berbasis agamanya. Atau mungkin terpengaruh mentalitas feudal yang membelah masyarakat menjadi kelas rakyat kebanyakan dan kelas priyayi. Kelas priyayi tidak boleh terlihat meminati uang.

Orang feodal menganggap bahwa pedagang adalah kumpulan orang yang butuh uang. Intinya, profesi dagang atau orang bisnis dianggap sebagai orang yang menjadikan penambahan kekayaan material sebagai tujuan kegiatannya yang tentu dengan demikian secara etis posisinya rendah.

Baca Juga: IKEA

Anggapan ini jelas sebuah prasangka. Orang-orang bukan pedagang, wiraswasta, pebisnis atau apalah namanya sering juga terlihat tidak lebih etis dan tidak kurang egois katimbang orang bisnis. Profesi bisnis tidak lebih baik atau lebih buruk dari profesi lainnya. Mereka sama dengan se,mua orang lain yang dapat melakukan profesi secara wajar dan terpuji serta terhindar dari ketercelaan perbuatan.

Anggapan yang kedua justru banyak ditemukan di kalangan orang bisnis sendiri, yakni orang bisnis akan merugi jika mengikuti tuntutan etika. Pandangan ini sebenarnya justru menunjukkan kekurangpahaman tentang etika dalam kehidupan bisnis. Seharusnya etika dipandang sebagai variabel penting keberhasilan bisnis.

Kalau dicermati, sebenarnya usaha bisnis itu akan berkembang baik dalam jangka relatif panjang jika 1) saling percaya, dan 2) kepentingan semua pihak terasa sama-sama diuntungkan. Hanya atas dasar saling percaya hubungan bisnis dapat dibangun dengan baik.

Bisnis yang menguntungkan memerlukan kesaling-percayaan antara pelaku dan pelanggan atas barang atau jasanya. Untuk kepentingan ini jelas kejujuran menjadi syarat yang tak bisa diabaikan. Jadi, memang kejujuranlah yang menjadi variable penting bagi keberhasilan bisnis.

Baca Juga: Kreatif! Tim PKM-RSH UNP Kediri Ciptakan Media Belajar Matematika (MiBox) untuk Siswa Tunanetra

Saling percaya, saling membantu, saling memberi petunjuk, dan saling mengingatkan dalam setiap kesempatan adalah bagian penting dalam etika sosial.

Di pasar tradisional yang berada di pedalamanpun ibu-ibu penjual sayuran sangat paham cara membangun kepercayaan untuk memelihara kepuasan pelanggannya dengan kejujuran.

Pelanggan tidak boleh ditipu dengan memberi tahu bahwa barang yang akan dibeli mengandung cacat tertentu. Pemborong bangunan yang sukses bukan yang suka menipu, tetapi yang diketahui membangun bangunan dengan kualitas baik serta harga yang wajar.

Jadi sangat keliru jika menganggap bahwa bisnis akan bisa besar jika pelakunya pintar menipu. Sebaliknya, bisnis akan berhasil jika pelanggan merasa dilayani dengan baik, jujur dan mendapatkan barang yang relatif setara dengan uang yang dikeluarkan untuk mendapatkannya.

Menutup tulisan ini, saya tak ingin membuat rumusan etik bagi kehidupan bisnis di Indonesia. Karena, saya sangat yakin bahwa dengan basis pemahaman terhadap pasal 33 UUD 1945 mestinya dunia bisnis di Indonesia mampu mewujudkan kesejahteraan dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Jika sekarang yang terjadi terkesan sebaliknya, jurang perbedaan yang untung dan yang buntung sangat tajam maka perlulah kita ikhlas menyadari ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam praktek bisnis di negeri ini.

Mandat etis UUD 1945 adalah membangun ekonomi nasional yang bukan milik beberapa gelintir orang yang tak terkendali memperkaya diri. Tetapi, sebuah sistem ekonomi yang tak membiarkan sebagian besar orang hidup terlantar, sedang sebagian kecil lainnya bergelimang kelimpahruahan. (Penulis adalah Ketua Dewan Pembina Yayasan dan Dosen Pasca Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kadiri)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#bangkrut #etika #masyarakat #bisnis